Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Tak pantas


__ADS_3

Mereka bertabrakan di tengah jalan, karena Liana yang berjalan terburu-buru dan tak fokus pada jalanan, sedangkan Peter yang membatu saat melihat gadis itu berjalan ke arahnya.


Peter segera tersadar dari diamnya dan bergegas mengambil tas yang terjatuh ke tanah, mendahului gerakan Liana.


Gadis itu seketika mendongak dan melihat wajah pria yang ada di depannya. Manik hitam sang gadis seolah terkunci pada sosok tersebut, dan membuatnya terdiam.


Peter nampak mengulurkan tas tersebut ke arah Liana, sambil mengulas senyum yang begitu ramah dan hangat. Dia berusaha keras menutupi gemuruh di dadanya yang semakin lama semakin kencang. Membuat rongga paru-parunya sesak dan hampir kesulitan bernafas. Matanya bahkan mulai memanas.


Namun, Peter berusaha tetap tenang dan bersikap biasa saja. Sementara Liana, dia seolah mengenal sosok di depannya. Perasaan dekat dan rindu mendalam yang sulit diungkapkan, membuat gadis itu terus memperhatikan wajah tampan tersebut.


Saat dia meraih tas miliknya, akal sehatnya kembali dan membuat gadis itu teringat akan janjinya dengan sang kakek. Liana pun meminta maaf atas kecelakaan kecil tadi, dan bergegas pergi menuju ke arah mobilnya, sementara Peter terus memperhatikan kepergian sang putri dari tempatnya berdiri.


Setetes bening meluncur tanpa aba-aba dan seketika itu juga, Peter menyekanya dan menghalau lelehan lain yang belum merembes turun.


Maaf, Nak. Aku masih malu untuk mengakui diri sebagai ayahmu. Ayah yang sudah meninggalkan kamu dan juga ibumu. Maaf, batin Peter.


Pria itu tersenyum getir memandangi sang putri yang telah menghilang di kejauhan. Dia pun kembali berjalan, mengambil arah memutar untuk kembali ke tempat parkir.

__ADS_1


Dia menyeberang dan berjalan ke arah kolam air mancur yang berada tepat di seberangnya. Namun, langkahnya seketika terhenti, saat melihat Liana yang nampak berlari cepat ke arah tempat mereka bertemu tadi.


Namun, bukannya muncul, Peter justru semakin bersembunyi di semak yang membentuk pagar hidup di sekitar taman tersebut.


Dari tempatnya berada, Peter bisa melihat jika saat itu, Liana tengah mencari-cari sesuatu. Pandangannya terus mengedar ke sekeliling, mencari sosok yang telah menghilang dari sana.


Gadis itu terlihat mengusap kasar puncak kepalanya dan jelas begitu frustasi. Dia meletakkan kedua tangannya di pinggang sambil terus mengedarkan pandangannya berkeliling. Dia bahkan bertanya pada beberapa orang yang lewat, tentang sosok yang sedang dicarinya.


Hati Peter menghangat, kala dia melihat sang putri ternyata tengah mencari dirinya. Jantungnya kembali berdegup kencang, dan membuat rongga dadanya kian sesak. Lelehan yang tadi sempat tertahan, kini luruh seketika membasahi wajah tampannya.


Maafkan ayah, Nak. Ayah belum bisa muncul di hadapanmu dengan kondisi yang seperti ini. Tunggulah, sampai ayah bisa dengan bangga memperkenalkan diri sebagai ayahmu, batin Peter.


Peter pun memutuskan untuk kembali bergabung dengan keponakannya.


Christopher bisa melihat wajah sang paman yang basah dan mata merah serta sembab.


“Paman. Apa Paman baru saja menangis? Apa kalian sempat bertemu?” tanya Christopher.

__ADS_1


Peter tak lantas menjawab. Dia memilih menyandarkan punggung dan kepalanya di kursi, seraya menutup kedua pelupuk matanya. Dia mencoba mengatur nafas yang masih tersengal akibat tangis yang ditahan.


Seolah mengetahui apa yang tengah dirasakan oleh sang paman, Christopher pun memilih diam dan tak melanjutkan lagi pertanyaannya.


Tiba-tiba, dengan posisi yang sama dan mata yang masih terpejam, Peter membuka suara.


“Kau sendiri yang menawarkan ku kerja sama ini, bukan? Jadi, kau juga haru membantuku sampai akhir, Nak,” ucap Peter.


Mendengar hal tersebut, nampak seringai di wajah Christopher.


.


.


.


.

__ADS_1


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2