
“Aku melihat Moses memberikan sesuatu pada wanita tersebut, dan sayup-sayup mendengar jika temanku itu mengatakan agar pelayan itu melakukannya secara diam-diam dan perlahan, sampai ‘orang itu' mati,” lanjut Peter.
“orang itu? Siapa? Melakukan apa?” cecar Liana cepat.
“Saat itu aku belum tahu. Aku membeku karena sangat terkejut mendengar perkataan Moses yang begitu datar dan dingin, seolah sudah biasa untuknya membunuh seseorang,” sahut Peter.
“Lalu, apa kau jadi mengagetkan mereka?” tanya Liana lagi.
“Karena sangat terkejut, aku sampai kehilangan mereka berdua. Akhirnya aku kembali ke tempat tinggalku dan mengemas barang-barangku seperlunya untuk ku bawa kembali ke Empire State.”
“Saat sebelum pergi ke Empire State, aku sengaja menunggunya di depan rumah, berharap bisa berpamitan padanya. Setelah menunggu hampir seharian, akhirnya Moses pulang. Namun, wajahnya sangat tak senang saat melihat keberadaan ku di sana.”
“Saat aku hendak menyapa, dia bahkan melewatiku begitu saja seperti orang yang tak kenal. Aku ingin minta penjelasan darinya, namun waktu ku tak banyak. Prioritas utama ku adalah menemui orang tuaku dan membawa mereka kemari,” tutur Peter.
Pria itu terlihat kembali menerawang jauh ke depan. Mengingat bagaimana saat itu Moses memperlakukannya. Tangannya mengepal kuat.
Liana melihat gelagat kebencian yang teramat dari mata sang ayah. Gadis itu pun mulai menerka-nerka, apa yang terjadi setelahnya.
“Apa temanmu ada hubungannya dengan sakitnya ibuku?” tanya Liana ragu.
__ADS_1
Dia ragu menanyakan hal tersebut, namun rasa penasarannya lebih kuat ketimbang keraguannya.
Peter mengusap kening dan wajahnya perlahan, sambil menghirup dan menghela nafasnya.
“Ada tiga orang yang memiliki andil di sini. Moses sebagai perantara racun, pelayan itu sebagai eksekutornya, dan satu orang lagi sebagai dalangnya,” jawab Peter.
“Satu lagi?” pekik Liana.
Gadis itu sangat terkejut mendengar penuturan sang ayah, yang mengatakan bahwa bukan hanya sang teman dan pelayan itu saja pelakunya, namun masih ada satu orang lagi.
Dia merasa jika ibunya tak memiliki musuh di manapun, mengingat hidupnya yang harus selalu terkurung di dalam rumah karena kondisi fisiknya. Tapi kenapa begitu banyak orang yang tega untuk mencelakai dirinya.
“Ini salahku. Tak seharusnya aku mendekati ibu mu sejak awal. Aku terlalu arogan dan percaya diri. Aku tak ingat satu hal penting itu,” ucap Peter ambigu.
Peter bahkan sampai meringis kesakitan, karena lukanya kembali terasa nyeri oleh tekanan dari putrinya.
"Singkirkan tanganmu dari ku, Nak. Kau membuat luka ku terbuka lagi," rintih Peter lirih.
Liana pun melepas cengkeraman nya dari pundak sang ayah, dan duduk menatap tajam tepat di hadapan pria itu.
__ADS_1
“Katakan semuanya! Jangan bertele-tele! Siapa dalangnya dan kenapa dia tega melukai ibuku?” seru Liana geram.
Helaan nafas yang berat kembali terdengar dari mulut Peter, sebelum ia melanjutkan ceritanya.
“Sesampainya aku di Empire State, semua keluarga ku bersikap seolah tak terjadi apapun. Namun anehnya, mereka terus menghindari ku setiap kali aku bertemu dengan mereka.”
“Tetapi, aku tidak berpikir ada hal serius yang sedang terjadi di sana. Fokusku adalah untuk segera bertemu ayah yang saat itu masih berada di luar negeri. Tiga hari berikutnya, ayahku pulang. Aku ingin segera menemuinya, tapi entah kenapa dia selalu menolaknya. Hal itu terus terjadi hingga aku berada sekitar satu minggu di sana, dan mulai merasa ada yang tak beres dengan keluarga ini.”
.
.
.
.
Sarapan datang bestie 🥰di sini hujan dari subuh 🥶 bawaannya pengen tarik selimut mulu kalo nggak inget ini hari senin deh 🤭
jangan lupa kasih vote kalian yes, hari senin lho ini😘
__ADS_1
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘