
Setelah kepergian Debora, Liana memutuskan untuk mengangkat seorang pelayan senior sebagai pengganti wanita itu. Dia adalah pelayan yang dilatih langsung oleh Debora, dan sudah banyak mengetahui cara wanita itu dalam mengatur semua pelayan di rumah tersebut.
Saat Kakek Joseph kembali, dia seketika menyadari bahwa Debora telah pergi. Liana mencoba untuk menjelaskan dengan baik, tanpa menyinggung sedikit pun masalah yang sebenarnya.
Sang kakek pun berusaha mengerti, meski sebenarnya sangat berat saat tiba-tiba harus kehilangan orang kepercayaan yang telah bertahun-tahun menemaninya, dan juga mengurus semua kebutuhannya.
Makan malam pun terasa sepi, hanya karena perginya seorang kepala pelayan di Dream Hill. Suasana kehilangan begitu terasa. Liana paham jika sosok Debora begitu lekat dengan rumah tersebut. Namun dia yakin, seiring berjalannya waktu, semua pasti akan kembali seperti semula.
Keesokan harinya, Liana dan Kakek Joseph sarapan bersama. Hari ini, suasana lebih terlihat ceria. Mungkin karena semua orang telah beristirahat.
“Nak, Kakek sudah melihat makam ibumu di Heaven Forest,” ucap Kakek Joseph.
Liana yang saat itu sedang memegang roti selainya pun tiba-tiba berhenti sejenak, ketika sang kakek menyinggung soal ibunya.
“Apa Alex yang memberitahumu, Kek?” tanya Liana.
Gadis itu kemudian kembali memakan sarapannya, dan mencoba bersikap biasa saja.
“Apa kau keberatan, jika kakek memindahkannya ke tempat yang lebih indah dan hangat?” tanya sang kakek.
Liana mengangkat wajahnya dan menatap sang kakek. Sebuah senyum tipis muncul di bibir sang gadis.
“Aku percaya Kakek ingin memberikan tempat yang terbaik untuk istirahat ibu. Aku serahkan semua pada Kakek saja,” ucap Liana.
Gadis itu kembali memakan rotinya.
“Jika sudah selesai, ajak aku mengunjunginya ya, Kek,” lanjut Liana.
Senyum pun terbit di wajah tua pria lanjut usia tersebut. Dia merasa jika cucunya sudah semakin dewasa, dan bisa menerima kondisi dirinya bahkan yang paling buruk sekalipun.
“Baiklah. Kakek akan pastikan bahwa tempat itu akan menjadi tempat yang indah, sama seperti yang disukai oleh ibumu,” sahut Kakek Joseph.
“Aku sangat menantikannya, Kek,” ucap Liana.
Keduanya pun saling tersenyum dan melanjutkan sarapan bersama.
...👑👑👑👑👑...
Hari-hari berlalu, tak terasa kini sudah tiba akhir pekan pertama Liana tinggal di rumah kakeknya.
Hampir setiap saat, Falcon dan Liana bergiliran menghubungi masing-masing. Bahkan terkadang, hanya untuk sekedar mengingatkan jangan lupa makan tepat waktu.
Hari ini, Liana nampak berdandan sangat cantik, karena seperti yang sudah dijanjikan oleh sang kekasih bahwa Falcon hari ini akan menemuinya di Dream Hill.
Gadis itu nampak mengenakan sebuah gaun yang cantik berwarna maroon, dengan panjang selutut dan lengan sesiku. Dipadu dengan sepasang sepatu boot pendek dan legging hitam yang sesuai dengan udara yang semakin dingin saat ini.
Dia menggerai rambut panjangnya dan memakai anting yang menjuntai panjang hingga ke pundak di salah satu telinganya.
Sapuan make up tipis dengan lipstik merah, membuat Liana nampak begitu ceria dan cantik.
__ADS_1
Dia keluar dari kamar dengan menenteng sebuah tas tangan dan sebuah long coat abu-abu yang terlipat di lengannya.
Sang kakek yang sejak tadi duduk di ruang tengah, melihat cucunya turun dari lantai dua.
“Apa berandalan itu mau datang kemari?” sindir sang kakek.
Pria tua itu tampak fokus pada surat kabarnya, meski dia tahu kehadiran sang cucu dengan penampilan yang sangat berbeda.
“Kakek, dia adalah calon suamiku. Kakek harus berhenti memanggilnya seperti itu,” seru Liana.
Gadis itu berjalan mendekati sang kakek dan duduk di sampingnya.
“Cih! Memang siapa yang mau menerimanya?” tepis Kakek Joseph.
.
.
.
.
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘
Setelah kepergian Debora, Liana memutuskan untuk mengangkat seorang pelayan senior sebagai pengganti wanita itu. Dia adalah pelayan yang dilatih langsung oleh Debora, dan sudah banyak mengetahui cara wanita itu dalam mengatur semua pelayan di rumah tersebut.
Saat Kakek Joseph kembali, dia seketika menyadari bahwa Debora telah pergi. Liana mencoba untuk menjelaskan dengan baik, tanpa menyinggung sedikit pun masalah yang sebenarnya.
Sang kakek pun berusaha mengerti, meski sebenarnya sangat berat saat tiba-tiba harus kehilangan orang kepercayaan yang telah bertahun-tahun menemaninya, dan juga mengurus semua kebutuhannya.
Makan malam pun terasa sepi, hanya karena perginya seorang kepala pelayan di Dream Hill. Suasana kehilangan begitu terasa. Liana paham jika sosok Debora begitu lekat dengan rumah tersebut. Namun dia yakin, seiring berjalannya waktu, semua pasti akan kembali seperti semula.
Keesokan harinya, Liana dan Kakek Joseph sarapan bersama. Hari ini, suasana lebih terlihat ceria. Mungkin karena semua orang telah beristirahat.
“Nak, Kakek sudah melihat makam ibumu di Heaven Forest,” ucap Kakek Joseph.
Liana yang saat itu sedang memegang roti selainya pun tiba-tiba berhenti sejenak, ketika sang kakek menyinggung soal ibunya.
“Apa Alex yang memberitahumu, Kek?” tanya Liana.
Gadis itu kemudian kembali memakan sarapannya, dan mencoba bersikap biasa saja.
“Apa kau keberatan, jika kakek memindahkannya ke tempat yang lebih indah dan hangat?” tanya sang kakek.
Liana mengangkat wajahnya dan menatap sang kakek. Sebuah senyum tipis muncul di bibir sang gadis.
“Aku percaya Kakek ingin memberikan tempat yang terbaik untuk istirahat ibu. Aku serahkan semua pada Kakek saja,” ucap Liana.
Gadis itu kembali memakan rotinya.
__ADS_1
“Jika sudah selesai, ajak aku mengunjunginya ya, Kek,” lanjut Liana.
Senyum pun terbit di wajah tua pria lanjut usia tersebut. Dia merasa jika cucunya sudah semakin dewasa, dan bisa menerima kondisi dirinya bahkan yang paling buruk sekalipun.
“Baiklah. Kakek akan pastikan bahwa tempat itu akan menjadi tempat yang indah, sama seperti yang disukai oleh ibumu,” sahut Kakek Joseph.
“Aku sangat menantikannya, Kek,” ucap Liana.
Keduanya pun saling tersenyum dan melanjutkan sarapan bersama.
...👑👑👑👑👑...
Hari-hari berlalu, tak terasa kini sudah tiba akhir pekan pertama Liana tinggal di rumah kakeknya.
Hampir setiap saat, Falcon dan Liana bergiliran menghubungi masing-masing. Bahkan terkadang, hanya untuk sekedar mengingatkan jangan lupa makan tepat waktu.
Hari ini, Liana nampak berdandan sangat cantik, karena seperti yang sudah dijanjikan oleh sang kekasih bahwa Falcon hari ini akan menemuinya di Dream Hill.
Gadis itu nampak mengenakan sebuah gaun yang cantik berwarna maroon, dengan panjang selutut dan lengan sesiku. Dipadu dengan sepasang sepatu boot pendek dan legging hitam yang sesuai dengan udara yang semakin dingin saat ini.
Dia menggerai rambut panjangnya dan memakai anting yang menjuntai panjang hingga ke pundak di salah satu telinganya.
Sapuan make up tipis dengan lipstik merah, membuat Liana nampak begitu ceria dan cantik.
Dia keluar dari kamar dengan menenteng sebuah tas tangan dan sebuah long coat abu-abu yang terlipat di lengannya.
Sang kakek yang sejak tadi duduk di ruang tengah, melihat cucunya turun dari lantai dua.
“Apa berandalan itu mau datang kemari?” sindir sang kakek.
Pria tua itu tampak fokus pada surat kabarnya, meski dia tahu kehadiran sang cucu dengan penampilan yang sangat berbeda.
“Kakek, dia adalah calon suamiku. Kakek harus berhenti memanggilnya seperti itu,” seru Liana.
Gadis itu berjalan mendekati sang kakek dan duduk di sampingnya.
“Cih! Memang siapa yang mau menerimanya?” tepis Kakek Joseph.
.
.
.
.
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘
__ADS_1