
Beberapa saat kemudian, Liana dan Falcon telah tiba di kantor catatan sipil. Nampak penampilan gadis itu begitu berantakan akibat ulah Falcon yang menggelitikinya tanpa ampun.
Liana bahkan harus mengambil alat make up, serta menyisir ulang rambutnya yang sudah acak-acakan.
“Menyebalkan! Kau mengerjai ku sampai seperti ini. Lihat! Kalau orang lain tahu kondisiku, mereka pasti akan mengira kita telah berbuat yang tidak-tidak,” gerutu Liana.
“Apa itu berbuat yang tidak-tidak? Aku rasa lebih tepatnya, berbuat yang iya-iya,” sahut Falcon.
Seketika sebuah spon bedak melayang ke wajah Falcon. Pria itu tergelak melihat gadisnya yang terlihat kesal.
Liana bukan termasuk penganut make up tebal, sehingga sangat mudah untuk merapikan penampilannya kembali. Cukup dengan memoles sedikit bedak dan sapuan lipstik tipis di bibir, maka penampilannya akan kembali menawan.
Rambut hitamnya pun mudah diatur, sehingga hanya perlu disisir dan mereka akan kembali rapi seperti semula.
Setelah melihat gadisnya rapi, Falcon pun turun dari mobil dan memutar ke sisi satunya. Dia membukakan pintu untuk Liana dan mengulurkan tangan ke arah gadis itu.
“Sudah siap untuk menikah?” tanya Falcon.
Liana diam sejenak. Entah kenapa jantungnya tiba-tiba berdetak dengan kencang, saat menyadari bahwa mereka telah tiba di kantor pemerintahan tersebut.
“Sweety,” panggil Falcon lagi.
Liana menoleh. Dia memegangi dadanya karena debaran jantungnya semakin terasa cepat, hingga membuat tubuhnya menegang.
__ADS_1
“Apa kau gugup?” tanya Falcon.
Liana mengangguk. Falcon pun kemudian meraih tangan Liana dan mengecup punggung tangan lembut itu. Tangan sang mempelai wanita benar-benar terasa dingin.
“Tenang saja. Ada aku di sini. Ayo,” ajak Falcon.
Liana pun melangkah keluar dari mobil. Falcon merangkul pundak gadisnya dan menuntun Liana menuju ke dalam gedung.
Sangkin gugupnya, Liana sampai tak sadar jika ada seseorang yang telah menunggunya di depan pintu masuk.
“Hahaha... Lihat pasangan pengantin kita. Dia akan menikah di kantor catatan sipil, padahal kekasihnya itu kaya raya,” sindir orang tersebut.
Mendengar sindiran itu, Liana seketika menoleh dan melihat jika sang kakek telah berada di sana. Dia pun kembali kesal dibuatnya.
Namun, Falcon tak menanggapinya dan hanya tersenyum saja. Dia seolah sudah kebal dengan semua perkataan sadis yang keluar dari mulut Liana.
Mereka telah sampai di depan pintu. Falcon membungkuk memberi hormat kepada sang calon kakek mertua, yang sebentar lagi akan sah menjadi kakek mertuanya.
“Selamat siang, Tuan,” sapa Falcon.
“Kenapa Kakek datang kemari? Apa kau hanya ingin menghina pernikahanku ini, hah?” tanya Liana ketus.
“Iya, benar. Kakek ingin menertawakan kesombonganmu kemarin. Kau bilang, calon suami mu ini kaya raya bukan? Tapi lihat! Menikah saja hanya di kantor catatan sipil. Hahahaha... Benar-benar gadis yang sangat beruntung,” jawab Kakek Joseph.
__ADS_1
“Lihat, Honey. Kakek mengejek kita. Kau jangan lupa untuk membuatkanku pesta pernikahan yang besar, agar kakek ku ini tidak menertawakan kita lagi,” rengek Liana.
Semua orang tertawa melihat tingkah Liana.
“Masuklah. Kakek akan menunggu kalian di sini,” ucap Kakek Joseph.
“Ayo, Sweety. Sudah tiba waktunya,” ajak Falcon.
Liana pun mengangguk. Dia memeluk terlebih dulu kakeknya, seolah sedang meminta restu pada pria tua itu. Meski tak ada kata-kata yang terdengar bersahabat dari keduanya, namun sesungguhnya, kasih mereka sangatlah besar.
Kakek Joseph pun mengurai pelukannya. Dia menepuk lengan Liana beberapa kali, hingga akhirnya menyerahkan tangan cucu satu-satunya kepada Falcon.
.
.
.
.
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘
__ADS_1