
Sore hari, Liana terlihat tengah bersiap-siap untuk pulang ke apartemennya. Hari ini, dia memiliki janji temu dengan seorang klien potensial, yang akan memakai jasa perusahaan Wang Construction untuk membangun sebuah komplek hunian elit yang bertempat di ibukota negara.
Hal ini adalah langkah awal yang baik untuk melebarkan karir Liana di dunia konstruksi, jika dia berhasil mendapatkan proyek tersebut.
Hal ini lah yang menjadi pertaruhan antara Kakek Joseph dengan Liana, saat pria tua itu memerintahkan gadis tersebut untuk bertemu dengan klien itu.
Beberapa hari yang lalu, di mansion Dream Hill
Setelah Kakek Joseph memerintahkan Jessica untuk meminta maaf kepada Liana, atas kesalahan yang telah diperbuatnya, pria tua itu pun mengatakan jika setelah ini, Liana lah yang akan mengawasi serta membimbing Jessica, agar bisa lebih baik lagi kedepannya.
Awalnya Jessica menolak dengan keras. Dia bahkan berlari meninggalkan Kakek Joseph, Liana serta Jimmy yang masih berada di sana.
Gadis itu naik ke atas dan bergegas masuk ke dalam kamar. Sementara itu, Caroline yang terlihat khawatir pun bangkit dari duduknya, dan berjalan hendak menyusul Jessica ke atas.
“Permisi, Tuan. Biarkan saya mencoba bicara dengan Jessy,” ucap Caroline.
“Nasehati lah dia,” seru Joseph Wang.
Di dalam kamar, Jessica nampak berbaring dengan posisi tertelungkup, sambil membenarkan wajahnya di atas bantal.
Tubuhnya berguncang, tetapi isaknya teredam oleh bantal yang dipeluknya. Caroline mengetuk pintu, dan mencoba membuka pintu tersebut.
“Tidak dikunci,” gumam Caroline.
Mengetahui pintu tak terkunci, wanita paruh baya itu pun segera masuk dan menghampiri putrinya yang tengah menangis di atas ranjang.
Dia kemudian duduk di bibir tempat tidur, dengan sebelah tangan yang terulur dan membelai lembut surai coklat terang sang putri.
“Jessy, kenapa kamu lari. Kakek tua itu jadi terlihat kecewa padamu,” ucap Caroline.
Jessica nampak sedikit mengangkat wajahnya, dan jelas terlihat jika pipinya sudah basah dengan mata yang sembab.
“Aku benci dia, Bu. Aku benci pria tua itu, aku benci Lilian, aku benci semuanya. Kenapa aku yang harus minta maaf? Di sini, aku korbannya. Aku yang sudah dipermalukan oleh gadis licik itu. Entah apa yang sudah dikatakan olehnya pada pak tua itu, sampai-sampai dia bisa dengan mudahnya lolos dari kemarahan kakek,” ungkap Jessica.
Gadis itu terlihat begitu marah kepada semua orang, terlebih karena Kakek Joseph rupanya lebih membela Liana, ketimbang dirinya, yang jelas-jelas adalah orang yang dipermalukan di depan umum.
Caroline pun sebenarnya sangat kesal dengan hal ini, akan tetapi, Caroline yang tak ingin hidupnya kembali susah pun, berusaha untuk membujuk putrinya.
“Kamu tenang dulu, Sayang. Ingat, Lilian itu lebih dulu ada di sini, dan lebih tau sifat kakek tua itu. Sepertinya, kamu memang harus belajar licik darinya, agar kelak kau bisa membalasnya dengan cara yang sama. Sudahlah, apa salahnya mengalah untuk kali ini. Lain kali, kita pikirkan caranya agar kita bisa membalas gadis itu. Kamu setuju kan,” bujuk Caroline.
Jessica nampak diam. Dia memilih untuk tak menjawab bujukan dari ibunya, karena dia masih sangat kesal dengan kejadian tadi.
...👑👑👑👑👑...
Sementara itu, di bawah, Liana nampak berjalan menuju ke arah gasebo samping, dan duduk bertiga di sana.
Dari kejauhan, terlihat Ella datang dengan membawa teh untuk disajikan kepada orang-orang yang ada di gazebo tersebut.
Liana bangkit dari duduknya, dan membantu Ella menyajikan teh untuk Kakek Joseph dan juga Jimmy.
__ADS_1
“Terimakasih ya,” ucap Ella lirih pada Liana, setelah semua camilan dan minuman selesai disuguhkan.
Liana hanya tersenyum menyahuti perkataan dari Ella. Dia pun kembali duduk di samping Kakek Joseph.
“Jimmy, ku dengan Tuan Bob Harvey akan datang pekan depan,” ucap Kakek Joseph.
“Benar, Tuan. Beliau akan datang kemari dan ingin berbincang mengenai rencana kerja sama kita ke depannya. Beliau berencana membangun sebuah komplek hunian elit di ibukota negara,” papar Jimmy.
“Ibukota negara? Apa kalian sedang membicarakan tentang Royal State?” tanya Liana yang tertarik dengan pembicaraan tersebut.
“Benar sekali,” Sahut Jimmy.
“Kenapa? Apa kau tertarik?” tanya Joseph menantang.
“Bukankah ini proyek besar dengan klien potensial? Kenapa aku harus tidak tertarik? Ku rasa, ini sangat bagus untuk karirku ke depannya,” ucap Liana.
“Hahaha ... Dasar gadis licik! Kamu memang selalu suka menantang hal baru, yang orang lain bahkan tak berani mengambilnya,” sahut Joseph terbahak.
“Orang b*doh mana yang menolak kesempatan besar seperti ini? Sangat aneh sekali. Menurutku, semakin tinggi tantangannya, maka semakin nikmat saat kita berhasil menaklukannya. Bukan begitu, Kek?” ucap Liana.
“Hahahaha ... Jadi, apa kau mau mencoba melakukan pertemuan dengan klien kita ini?” tanya Kakek Joseph.
“Bolehkah?” tanya Liana matikan.
“Tentu saja. Tapi dengan syarat,” ucap Kakek Joseph.
“Syarat?” tanya Liana.
“Lalu, bagaimana jika aku menang?" tanya Liana.
"Apa yang kau mau?" tanya Kakek Joseph balik.
"Aku ingin Kakek memberiku modal, untuk membuka sebuah kantor cabang Wang Construction di royal state atas namaku,” ucap Liana.
Gadis itu balas memberikan tantangan kepada Kakek Joseph.
“Apa? Membuka cabang di Royal State?” tanya Joseph memastikan pendengarannya.
“Benar. Royal State. Bahkan jika bisa, aku akan membuka cabang yang lain di luar negeri pula,” tekad Liana.
“Kau terlalu sombong, Anak muda. Membangun sebuah perusahaan itu tak semudah membalikkan telapak tangan,” ucap Kakek Joseph.
“Aku yakin pada diriku sendiri. Kalau memang tidak bisa, maka tidak akan pernah aku mulai,” ucap Liana.
“Baiklah. Baiklah. Dasar cerewet! Jimmy, biarkan dia mencobanya kali ini. Kita lihat, apakah kepintarannya sama tingginya dengan sikap sombong gadis ini,” seru Kakek Joseph.
“Baik, Tuan,” sahut Jimmy.
“Tapi, Lilian. Kau harus membawa Jessica juga kali ini. Aku ingin dia mulai belajar serius,” seru Kakek Joseph.
__ADS_1
Apap Kakek serius? Ini klien besar lho, Kek. Apa tidak sebaiknya langsung diserahkan pada menejer pemasarannya saja, Kek?” sanggah Liana.
“Aku bilang, ajaklah dia untuk belajar. Bukan untuk menangani hal ini. Kau tetap akan maju bersama dengan menejer pemasaran kita. Hanya mengajaknya saja, apa itu sulit?” timpal Kakek Joseph.
Liana tampak biasa saja ketika bicara dengan Kakek Joseph, hanya benda yang ada di genggaman nya lah yang tau, bagaimana perasaan hati Liana saat ini.
Kepalan tangannya benar-benar kuat, hingga hampir bisa meremukkan apapun yang dipegangnya.
Namun, sejurus kemudian, helaan nafas panjang terdengar, dan Liana pun mencoba untuk tetap terkendali.
“Haaaaahhh! Baiklah, aku akan mengajaknya. Jadi, seperti apa Tuan Bob Harvey ini?” tanya Liana Kemudian.
Mereka pun kembali berbincang mengenai rencana kerja sama yang akan, datang bersama klien potensial tersebut.
Setelah sepekan berlalu, Liana mengatakan kepada Jessica untuk ikut dengannya malam ini, menemui klien tersebut. Awalnya, Jessica tampak tak acuh dengan hal tersebur. Namun, ketika mengetahui jika klien itu adalah seorang pria matang, dia tiba-tiba menjadi begitu Bersemangat.
Sore harinya, saat Liana hendak pulang bekerja, seseorang menghubunginya.
“Halo,” sapa Liana.
“Apa kau ingat kalau pertemuannya adalah malam ini?” tanya orang di seberang.
“Tentu saja ingat. Aku juga sudah memberi tahukan kepada Jessica, untuk bersiap pergi denganku, Kek,” sahut Liana.
“Anak baik. Aku sangat tidak sabar menunggu kegagalanmu,” ucap Kakek Joseph.
“Kakek siapkan saja uang yang banyak untuk modal usahaku nanti. Karena aku yakin, pasti aku bisa,” timpal Liana.
“Hahahaha ... Dasar gadis sombong. Baiklah, aku sangat menantikannya. Tolong jaga Jessica baik-baik, dan ajarkan yang terbaik untuknya. Aku percaya padamu, Lilian,” sahut Kakek Joseph.
“Baiklah. Kakek bisa mengandalkan ku. Kalau begitu, ku tutup dulu. Aku harus bersiap-siap untuk malam ini,” sahut Liana.
Sambungan pun berakhir. Nampak perubahan di wajah gadis itu. Senyum di wajahnya seketika hilang, dan berganti dengan ekspresi yang begitu suram.
Maafkan aku, karena aku tak akan pernah membantunya, batin Liana.
.
.
.
.
Udah 2, kurang 1 bab lagi hari ini😁tungguin ya😘
Kasih kopi boleh sini, biar othornya semangat 🤭
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar yah😘