
Akhir pekan ini, Liana diminta untuk datang ke kediaman keluarga Wang di Dream Hill. Gadis itu merasa aneh, karena ini bukanlah akhir pekan di akhir bulan.
Namun, dia tak merasa curiga sama sekali dan memenuhi panggilan tersebut. Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Liana pun bergegas menuju ke mansion besar Dream Hill.
Setibanya di sana, dia disambut oleh dua orang wanita yang tengah duduk di ruang tamu. Mereka seolah sengaja menunggu kedatangan Liana.
“Lihatlah, Bu! Orang jahatnya sudah datang. Aku sudah tidak sabar ingin lihat hukuman apa yang akan diberikan oleh kakek padanya,” ucap Jessica saat Liana berjalan melewati mereka berdua.
“Lihatlah gayanya. Sekarang dia masih bisa sombong seperti itu. Tapi, setelah hari ini, kita lihat apakah dia masih bisa bersikap seperti ini?” sahut Caroline.
Liana mendengar jelas dan sangat paham maksud dari pembicaraan keduanya. Dia seketika teringat akan kejadian tempo hari di area proyek.
Gadis pintar itu pun menyadari jika kedatangannya kali, karena omongan Jessica yang sudah pasti telah mengadu macam-macam pada Kakek Joseph.
Liana tetap berjalan naik ke lantai dua. Dia mencoba bersikap biasa saja, dan menyiapkan diri untuk kemungkinan buruk yang mungkin akan terjadi.
Sebelum kemari, Jimmy mengirimkan sebuah pesan yang memintanya untuk segera menuju ke ruang kerja Kakek Joseph, begitu dia sampai di sana.
Saat ini, Liana telah berdiri di depan pintu ruang kerja Kakek Joseph. Gadis itu terlihat menghirup napas dalam dan menghembuskan nya sekaligus. Hal itu dilakukannya beberapa kali, hingga ia merasa lebih baik.
Meski degupan jantungnya berdetak begitu cepat, karena terselip ketakutan jika Kakek Joseph lebih percaya pada perkataan Jessica dan memutuskan akan menghukumnya, akan tetapi, gadis dingin itu kembali memasang wajah datarnya kemudian.
Beberapa ketukan dibunyikan nya di pintu.
“Kek, ini aku, Lilian,” ucap Liana memberitahukan kedatangannya.
“Masuklah!” seru suara dari dalam.
Liana pun kembali menghela napas, lalu kemudian membuka pintu tersebut.
Di sana telah ada Jimmy, yang tengah berdiri di depan meja kerja Kakek Joseph.
Liana pun melangkah masuk, dan berdiri tepat di samping Jimmy berada. Tiba-tiba, pria paruh baya itu meraih lengan kanan Liana, dan membuat gadis itu mengaduh kesakitan.
“Ada apa dengan lenganmu?” tanya Jimmy.
Liana mengusap-usap lengannya dari luar baju yang dipakai, sambil mendesis menahan sakit.
“Aku jatuh beberapa hari yang lalu saat di proyek, Paman. Lukanya masih belum kering dan terasa sakit,” sahut Liana.
“Apa karena menolong Jessica?” tanya Joseph.
Liana menoleh dan menatap tak percaya ke arah kakek tua, yang tengah duduk di balik meja kerjanya.
“Bagaimana Kakek bisa tau? Apa Jessica yang memberitahukannya?” tanya Liana memastikan.
__ADS_1
Meski dia berkata seperti itu, namun dalam hati, dia sama sekali tak yakin jika Jessica menceritakan tentang dia yang menolongnya. Gadis itu justru sangat jelas, seolah ingin melihat Liana dihukum atas sebuah kesalahan, dari saat Liana baru saja sampai.
Jimmy mengambil ponselnya, dan tampak menekan beberapa kali di atas benda tersebut. Dia kemudian menunjukkan layar ponselnya kepada Liana, dan seketika membuat gadis itu terkejut.
“Paman memata-mataiku?” terka Liana.
“Aku memang sedang mencari tahu kejadian di sana, tapi sebelum aku bergerak, seseorang sudah terlebih dahulu mengirimkan foto-foto ini kepada ku. Aku pun memberitahukan kepada tuan besar, dan kemudian beliau meminta mu kemari untuk menjelaskan detilnya,” ucap Jimmy.
“Yah, aku memang meminta Jimmy mencari tahu semuanya,” ucap Joseph.
Beberapa hari yang lalu, tepat setelah Jessica mengadu padanya, pria tua itu menekan sebuah tombol berwarna biru yang ada di remote daruratnya.
Di remote tersebut, dilengkapi fitur pesan suara yang memudahkan Kakek Joseph untuk berkomunikasi dengan Debora.
“Perintahkan Jimmy untuk mencari tahu kejadian hari ini di proyek!” seru Joseph.
Tak lama, Jimmy memberi tahukan apa yang dia ketahui, dan memintanya serta Liana untuk datang esok hari di akhir pekan.
saat itulah, Jimmy menyerahkan foto-foto yang didapatkannya secara anonim, dan saat ini, Joseph tengah meminta penjelasan dari Liana sebagai pihak terduga.
Liana pun menceritakan kejadian menurut versinya kepada Kakek Joseph, bagaimana Jessica dengan serampangan nya masuk begitu saja ke area proyek, yang sarat akan bahaya. Dia pun mengatakan jika Jessica tak mau menurut dengan aturan, yang mewajibkan setiap orang yang masuk ke sana harus menggunakan minimal helm, untuk melindungi bagian kepala dari kemungkinan kecelakaan kerja yang terjadi di sekitar tempat tersebut.
“Mungkin caraku yang terlalu kasar, Kek, sehingga membuat Jessica merasa jika aku sudah memarahinya di depan umum. Maafkan aku,” pungkas Liana.
“Sudahlah. Tujuanmu baik untuk menegur Jessica karena kelalaiannya sendiri. Yang terpenting, kamu sudah menolongnya sehingga dia tak mengalami kejadian yang serius. Aku selaku kakeknya, meminta maaf sekaligus berterimakasih. Ke depannya, bimbing lah dia agar menjadi lebih baik lagi ya,” ucap Joseph.
“Baik, Kek,” sahut Liana.
Gadis itu tersenyum, namun tangannya mengepal dengan kuat, karena kakek tua itu selalu saja memasang badan atas nama Jessica.
Ini sudah yang ke dua kalinya Kakek melindungi pelacur itu. Tahan. Aku harus tahan. Aku harus bisa menyingkirkan mereka berdua selamanya, batin Liana.
Joseph nampak berjalan menggunakan tongkatnya, dan menghampiri Liana yang masih berdiri di tempat.
Pria tua itu mengulurkan tangan dan meraih lengan kanan Liana.
“Apa masih sakit? Kau sudah ke dokter?” tanya Kakek Joseph pada gadis itu.
Seketika, ada kehangatan yang terasa di hati beku gadis itu, yang seketika mencairkannya hingga membuat lapisan bening di mata.
Liana menunduk demi menghindari pandangan mata Kakek Joseph, dan menyembunyikan matanya yang sudah memerah.
Liana hanya menyahuti dengan anggukan kepala, karena bibirnya bergetar dan tak bisa berkata-kata.
...👑👑👑👑👑...
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, ketika Liana telah bisa mengendalikan hatinya, ketiganya keluar dari ruang kerja, dan berjalan turun ke bawah.
Liana nampak merangkul lengan kakek, sambil memapahnya menuruni anak tangga.
Dari arah bawah, terdengar suara tertawa dua orang wanita, yang tadi sempat menyindir Liana ketika dia baru saja sampai. Namun, tawa mereka seketika hilang, ketika melihat Liana dengan santainya berbincang dengan Kakek Joseph, bahkan terlihat seperti tak terjadi apapun.
Keduanya saling berpandangan tanpa berkata-kata. Hingga Joseph meminta Jessica untuk datang menghampiri nya.
“Jessica, kemari lah!” seru Kakek Joseph.
Dengan ragu-ragu, Jessica pun bangun dan berjalan mendekat ke arah pria tua itu.
“Iya, Kakek. Ada apa?” tanya Jessica sambil memasang wajah polos di depan Kakek Joseph.
Pria tua itu meraih tangan Jessica, dan menariknya ke samping kirinya.
“Kau minta maaflah pada Lilian,” ucap Joseph.
Jessica membola. Dia tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh pria tua di hadapannya. Dia bahkan tanpa sadar, menghempaskan tangan tua itu dengan kasar.
“Kenapa? Kenapa aku harus minta maaf?” tanya Jessica tak Terima.
“Apa kamu tidak sadar sudah berbuat salah? Harusnya, kamu berterimakasih kepada Lilian, karena sudah menolongmu di tempat proyek. Kalau tidak, mungkin kamu sudah mengalami cidera serius di kepala, karena tertimpa batu bata. Tapi, kamu malah mengatakan hal lain yang menjelekkan Lilian. Jadi, Kakek minta supaya kamu minta maaf padanya sekarang juga,” ucap Kakek Joseph.
Si*lan! Kenapa Kakek tua ini malah memintaku untuk minta maaf pada gadis kurang ajar ini sih? Menyebalkan! batin Jessica.
Dia menatap tajam ke arah Liana. Tampak dengan jelas, senyum tipis dengan sebelah sudut yang terangkat lebih tinggi di wajah Liana. Gadis itu sengaja memprovokasi Jessica agar semakin emosi.
Lihatkan? Kamu tak akan bisa menjatuhkan aku di depan Kakek, batin Liana.
.
.
.
.
Hari ini sudah ya, udah 3 bab othor up date😁sambil nunggu up date besok, mampir ke novel ku yang lain yuk😄
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘
__ADS_1