Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Pengakuan Liana


__ADS_3

Seperginya Kakek Joseph, Liana kembali menatap Falcon yang masih diam. Gadis itu tahu jika yang ia perbuat sudah sangat keterlaluan.


Dia jelas-jelas tahu bahwa Falcon sama sekali tak mau lagi terlibat dalam urusan Lunar Group. Namun, dia justru mendorongnya untuk semakin menuju ke puncak pimpinan klan tersebut.


“Honey...,” panggil Liana.


“Apa kau malu jika harus bersama dengan seorang ketua gangster?” sela Falcon.


Liana menggeleng cepat.


“Tidak. Sama sekali bukan itu masalahnya, Honey. Itu hanya omongan sombongku dengan kakekmu yang langsung dipegang erat-erat olehnya. Kau tahu aku pantang menarik kata-kataku lagi. Hingga aku berpikir untuk bertanggung jawab atas semua keputusan yang telah ku ambil, yaitu dengan mempercepat kepindahanku ke Empire State demi bisa selalu menemanimu.”


“Aku tak mau kau berjuang seorang diri tanpa ada seseorang yang bisa kau andalkan. Itu juga alasanku memintamu memanggil orang-orangmu di Grey Town untuk ikut mendukung usahamu di ibu kota.”


“Percayalah. Aku mencintai apa adanya dirimu. Apa kau lupa ciuman pertama kita. Itu adalah bukti bahwa hatiku telah menerimamu, dan hal itu terjadi saat kau masih menjadi bos di Grey Town sana, jauh sebelum aku tahu siapa dirimu sebenarnya,” jelas Liana panjang lebar.


Gadis itu berusaha meyakinkan kekasihnya, bahwa dia benar-benar mencintainya tanpa melihat status dan identitas pria itu.


Liana menyentuh pipi Falcon dan mengusapnya dengan lembut, membuat pria itu menutup mata dan meresapi kehangatan yang diberikan oleh gadis tersebut.


“Honey, aku tahu aku telah banyak tidak berterus terang padamu. Aku tak akan menyalahkanmu jika kau sulit percaya lagi padaku kaki ini. Tapi percayalah, aku benar-benar tulus mencintaimu sejak awal,” bujuk Liana.


“Aku tahu kau bukan gadis ceroboh yang hanya asal bicara, Liana. Aku yakin jika maksudmu menjadikan ku penerus Lunar Group lebih dari sekedar kata hanya,” timpal. Falcon.


Liana diam sejenak. Dia berusaha menghirup nafas dalam-dalam sebelum ia menjawab pertanyaan pria itu kali ini.

__ADS_1


“Baiklah, kau benar. Aku mengaku bahwa itu memang bukan sekedar kata hanya. Kau tahu bukan, bahwa aku memiliki nasib yang hampir sama denganmu. Aku hilang sejak dalam kandungan ibuku dan hidup jauh dari keluarga. Sedangkan kau dipaksa jauh dari rumah oleh keluargamu sendiri.”


“Aku tahu rasanya menderita hidup seorang diri sejak usia yang masih sangat muda. Aku pun tahu bagaimana rasanya bahagia, saat tiba-tiba memiliki rumah yang bisa dituju ketika kita lelah, keluarga yang bisa menjadi teman cerita saat masalah melanda. Aku ingin kau juga bisa merasakan hal tersebut”


“Kakekmu benar-benar telah menyesal atas apa yang telah ia perbuat padamu dan juga ibumu. Hanya saja, pria itu terlalu sombong sehingga dia tak tahu cara yang benar untuk meminta maaf. Berilah dia kesempatan. Setidaknya dia sudah berusaha mencarimu dan membawamu kembali pulang. Bukankah itu yang pernah kau katakan dulu saat di Sky Escape, ketika aku kecewa pada sikap kakekku?” ucap Liana.


Falcon nampak menghela nafas panjang. Entah kenapa, hatinya selalu menganggap semua perkataan Liana selalu benar, meski egonya masih menolak untuk menerima.


“Aku tak akan memaksamu sekarang. Tapi setidaknya, kau pikirkanlah baik-baik perkataanku, hem,” lanjut Liana.


“Kau istirahatlah. Ini masih sangat pagi,” seru Falcon.


Liana hanya mengangguk mengiyakan seruan Falcon. Dia memilih untuk menuruti semua perkataan Falcon untuk sementara ini, sampai suasana hati pria itu sedikit membaik.


...👑👑👑👑👑...


Dia ingat jika hari ini harus pergi ke kantor polisi untung melihat Amber. Penyelidikan kasus ini pun akan segera dimulai. Dia harus menyiapkan semuanya agar wanita itu bisa dihukum seberat-beratnya.


Saat dia berusaha bangun dari tempat tidur, pintu tiba-tiba terbuka dan Falcon muncul dari baliknya.


“Mau apa kau?” tanyanya.


Pria itu mencegah Liana untuk bagun dan membaringkannya lagi di tempat tidur.


“Tapi... Aku harus ke...,” sanggah Liana.

__ADS_1


“Serahkan saja semuanya padaku. Biar orang ku yang akan mengurus masalah ini. Kau cukup istirahat di sini dengan baik,” seru Falcon.


“Tapi...,” sanggah Liana.


“Kau bisa memantaunya dari sini denganku. Bisakah kali ini kau cukup andalkan aku saja?” sela Falcon.


Liana diam. Dia ingat jika suasana hati Falcon masih belum membaik sejak pengakuannya tadi pagi. Dia tak ingin terus melawan dan akhirnya hanya bisa diam dan patuh.


“Baiklah,” sahut Liana berat hati.


Melihat gadis itu murung, Falcon pun mendekat dan memeluknya dengan lembut.


“Maafkan aku, Sweety. Tapi dokter memintaku untuk memastikan agar kau istirahat dengan baik selama beberapa hari ini. Prosesnya masih lama. Kau bisa melihat wanita itu kapan saja setelah kau pulih. Sekarang yang terpenting, pulihkan dirimu agar kau bisa hadir di persidangan nanti,” ucap Falcon.


Liana pun mengangguk. Dia membalas pelukan prianya, meski hatinya masih belum bisa tenang sepenuhnya.


^^^. ^^^


.


.


.


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2