Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Berhadapan


__ADS_3

Pesta dansa yang awalnya menjadi ajang untuk Liana membuat Lusy semakin marah, justru kini berbalik. Kekasihnya tiba-tiba muncul, dan mengajak Lusy berdansa di depan semua orang.


Gadis itu berusaha menutupi rasa cemburunya, agar rencana malam ini bisa berjalan lancar. Sejak awal, Liana memang tidak berencana untuk mengungkap kebusukan Moses sekaligus di depan para tamu, melainkan memberi pria itu sebuah peringatan dan mencari tahu akan sesuatu.


Liana bahkan sengaja berdandan sama persis seperti sang ibu ketika pertama kali bertemu Moses, dan ternyata reaksi pria itu di sesuai dugaan. Moses mengenalnya dan bahkan memeluk Liana dengan tetesan air mata.


Bahkan lagu yang dimainkan Liana tadi pun adalah lagu yang juga dimainkan sang ibu dulu, dan sukses membuat Moses seperti tersihir.


Dengan itu semua, Liana bisa menganggap jika memang hubungan ibunya dan pria itu tidak sekedar kenal, melainkan ada hal lain yang telah terjadi, sesuai dengan apa yang dikatakan oleh sang ayah.


Bukan Liana tak percaya omongan Peter, namun gadis yang terbiasa bertindak hati-hati dan teliti ini, tak bisa langsung mengeksekusi sesuatu tanpa diselidiki terlebih dulu dengan benar.


Saat Liana sedang duduk seorang diri di mejanya, tiba-tiba Moses menghampirinya.


“Apa Anda lelah, Nona Wang?” tanya Moses.


Liana menoleh dan tersenyum tipis.


“Tidak sama sekali,” sahut Liana.


“Maukah kau berdansa dengan ku?” ajak Moses.


“Tentu,” jawab Liana.


Gadis itu kemudian meneguk sampanye nya hingga habis, dan meraih uluran tangan Moses.


Kedua orang itu pun maju ke lantai dansa. Falcon yang sedari tadi berdansa dengan Lusy pun, sekarang dibuat waspada dengan hal tersebut. Tatapan matanya terus mengarah ke arah Liana dan Moses berada.


Dia tahu betul jika ada yang tak beres dengan pesta ini, karena telah menyadari sesuatu saat berada di apartemen Liana sebelum datang kemari.


Begitu juga Christopher yang masih berdansa dengan seorang wanita tua. Dia khawatir jika karena provokasi Liana yang terang-terangan, membuat Moses akan bertindak cepat.


Musik berganti dengan yang lebih lembut. Liana dan Moses pun mulai menari. Moses nampak membungkuk memberi hormat dengan satu tangan di dada, sedangkan Liana sedikit menekuk lututnya sambil kedua tangannya menyincing gaun di kedua sisi.


Kedua orang tersebut kemudian mulai menari, seiring alunan musik yang lembut. Awalnya mereka saling diam, hingga Moses memutar Liana satu kali dan kembali merangkul pinggang gadis tersebut.

__ADS_1


“Sepertinya ada yang ingin kau sampaikan malam ini?” tanya Moses pada Liana.


“Siapa? Aku? Tidak. Aku tidak ingin menyampaikan apapun pada siapapun,” kilah Liana.


“Aku yakin kau punya rencana, bukan? Gaun, penampilan, permainan piano, kau pasti sudah mempersiapkan semunya?” selidik Moses.


“Ah... Tentu saja aku harus persiapkan semua dengan baik. Lalu, bagaimana pendapat Anda?” tanya Liana.


“Kau sangat mirip dengan ibumu,” jawab Moses yang mulai terus terang.


“Tentu saja. Bukankah aku anaknya, tentu saja mirip. Bukankah, putrimu juga mirip dengan ibunya?” timpal Liana.


Moses terkejut dengan perkataan Liana. Dia sekejap kehilangan ritme gerakannya dan Liana merasakan hal tersebut. Namun, sedetik kemudian, dia kembali bisa menguasai diri.


“Sepertinya, kau benar-benar mempersiapkan hari ini. Kau pasti sudah bertemu dengan ayahmu? Apa kalian akur? Apa kau bersedia memaafkan bajingan yang sudah meninggalkan ibumu itu?” tanya Moses.


Pria itu kembali memutar Liana sekali dan kemudian merangkul pinggang gadis itu.


“B*jingan teriak b*jingan. Itu menjijikan, Tuan Jung,” ucap Liana.


“Entah lah. Tapi aku melihat raut penyesalan saat kau memelukku di awal tadi. Kenapa? Apa Anda melakukan sesuatu yang kejam pada ibuku?” cecar Liana.


“Hahahaha... Jadi, kau melakukan semua itu hanya untuk melihat reaksiku?” tanya Moses.


“Menurut Anda?” tanya Liana balik.


“Lilian sangat lembut dan sopan. Berbeda dengan sikapmu. Hanya wajah dan fisik kalian yang sama persis,” ucap Moses


“Tentu saja aku berbeda dari ibuku. Kalau tidak, aku tak mungkin berani menemui mu secara terang-terangan. Lain halnya dengan Lusy yang sangat mirip dengan ibunya. Terlalu terobsesi dengan pria,” sindir Liana.


Terasa remasan di tangan Liana, pertanda Moses mulai terpancing.


“Gadis kecil, aku peringatkan kau untuk tidak pernah coba-coba bermain denganku, atau kau akan terluka sendiri,” ancam Moses.


“Aku? Tentu tidak. Anda terlalu tua untuk diajak bermain dengan gadis seusia ku. Lagipula, aku sudah menetapkan siapa yang akan ku ajak bermain nanti,” ucap Liana.

__ADS_1


Moses semakin geram. Dia akhirnya menghentikan dansanya dan menatap tajam ke arah Liana.


“Jika kau berani berbuat sesuatu pada Lusy, aku pastikan akan berbuat hal yang sama dengan orang-orang yang dekat denganmu,” ancam Moses.


Liana mengangkat sebelah sudut bibirnya, dengan kedua lengan yang terlipat dia depan dada.


“Jaga putrimu dengan baik, Tuan. Jika tidak, dia akan habis di tanganku,” tantang Liana.


Moses nampak begitu emosi dengan Liana. Gadis itu sangat pintar memprovokasi orang hingga siapapun akan menjadi kesal dibuatnya. Pria itu pun berbalik dan pergi meninggalkan Liana di tengah lantai dansa.


Dari belakang, Christopher tiba-tiba muncul setelah selesai menemani seorang wanita tua menari.


“Apa yang kau katakan pada Tuan Jung? Jangan bilang kau juga memprovokasi dia?” terka Christopher.


“Apalagi?” sahut Liana enteng.


“Kenapa kau harus berbuat seperti itu? Dia itu orang yang sangat berbahaya,” ucap Christopher.


“Chris, aku tau apa yang ku lakukan. Ini belum seberapa. Hanya membuatnya kesal dan merasa terancam, ini baru permulaan. Pembalasan yang sesungguhnya sama sekali belum dimulai,” ucap Liana dengan tatapan lurus ke depan.


.


.


.


.


Semoga nggak mbalik ya neng🙈


bestie, maaf kalau nanti sore aku nggak update lagi, soalnya lagi agak ribet nih🤭kalau sempet ya aku up lagi 🙏


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘

__ADS_1


__ADS_2