Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Kotak kayu


__ADS_3

“Liana, tunggu!” seru Bibi Luo.


Liana pun menghentikan gerakannya, dan menoleh ke arah wanita paruh baya itu.


“Maaf, Bi. Aku harus buru-buru,” ucap Liana.


“Tunggu sebentar! Bibi rasa kamu perlu melihat ini,” ucap Bibi Luo.


Liana pun menurunkan pandangannya, dan beralih melihat ke arah tangan wanita itu. Dia melihat sebuah kotak kayu berwarna coklat tua, dengan sebuah ukuran di atasnya.


“Ini adalah kotak tempat kalung milik ibumu di simpan,” sambung Bibi Luo.


“Kalung?” tanya Liana dengan kening yang mengerut.


“Duduklah, Liana. Kamu perlu mengetahui sesuatu. Kau bilang, kalau kau sangat ingin tahu siapa dirimu bukan,” ucap Paman Luo.


Liana pun berbalik dan kembali berjalan menuju kursi dan memilih duduk di sana.


Bibi Luo ikut bergabung duduk di sana, dan meletakkan kotak tersebut ke atas meja.


“Dulu, bibi mu menggandaikan sebuah kalung yang disimpan di dalam kotak ini. Beberapa hari yang lalu, dia kembali untuk mengambil kalung itu, dan pergi tanpa membawa kotanya,” ucap Bibi Luo.


Liana perlahan mengulurkan tangannya, dan meraih kotak kayu tersebut.


“Awalnya, kami hanya melihat itu sebagai kota kayu biasa, karena isinya sudah diambil. Tapi, saat aku hendak membawanya masuk, Nina tidak sengaja menabrak ku, dan membuat kotak itu terjatuh,” lanjut Paman Luo.


Liana membuka kotak kayu tersebut. Matanya membola, dan dia segera meraih sesuatu yang ada di dalamnya.


“Itu semua awalnya tersembunyi di bawah kain beludru, yang melapisi kotak itu, dan keluar saat kotak itu tak sengaja jatuh. Kami pun begitu terkejut saat melihat benda-benda tersebut. Meski kami tak tau kabarmu saat itu, namun rasa bersalah kami karena membiarkan benda peninggalan Vivian di bawa pergi lagi oleh Caroline, membuat kami memutuskan untuk menyimpannya hingga mungkin suatu saat kamu akan datang kemari,” ucap Paman Luo.


Liana tak bisa lagi berkata-kata. Dia tak peduli lagi dengan kalung yang dibawa pergi oleh Bibi Caroline nya.


Perhatiannya saat ini adalah benda-benda yang ada di tangannya. Dia buah foto dan juga sebuah surat yang terlihat sudah usang, dengan warna kertas yang telah menghitam di beberapa bagian.


Dia melihat satu persatu foto tersebut. Yang paling atas, adalah foto yang memperlihatkan dua orang gadis muda, yang terlihat begitu ceria, sama dengan yang dilihatnya di kamar putri Kakek Joseph. Foto Vivian dan Lilian dua puluh tiga tahun silam.


Kemudian, dia meletakkan foto tadi ke dalam kotak, dan melihat sebuah foto yang lain. Foto yang memperlihatkan seorang wanita muda, tengah menggendong seorang bayi yang terlihat masih merah, terbalut kain yang sangat dia kenal.

__ADS_1


“Kain ini ... Kain ini adalah harta karunku,” gumam Liana.


“Yah, ini memang harta karunmu, dan itu masih kami simpan dengan baik,” sahut Bibi lho.


Mata Liana seketika berair saat melihat foto itu. Terlihat betapa wanita itu menyayangi anak yang sedang di gendongnya. Seketika, dada Liana terasa kembali sesak. Rasa rindu pada sosok ibu yang telah lama tak ia dapatkan, membuatnya tak kuasa menahan bening itu luruh di pipi.


Tangannya bahkan tanpa sadar mengusap wajah wanita di foto itu dengan perlahan, dengan perasaan rindu yang entah terasa begitu menyesakkan dadanya.


Ibu. Apa kau benar-benar ibu ku? Batin Liana.


Dia melihat Lilian mengenakan sebuah kalung berliontin bulat, dengan sebuah ukiran berbentuk bunga.


Liana kemudian teringat surat di tangannya. Dia pun meletakkan foto tadi kembali ke dalam kotak, dan beralih menatap surat usang tersebut.


Tangannya gemetar, saat hendak membuka surat, yang ia yakini pasti ditinggalkan oleh ibu kandungnya. Dia tak bisa membayangkan, apa isi dari surat tersebut.


Perlahan, lipatan demi lipatan ia urai, hingga terlihatlah sebuah surat dengan tulisan tangan yang begitu indah dan rapi.


Liana mengusap air mata yang membuat pandangannya kabur, dan menarik nafas dalam-dalam sebelum membaca isi surat tersebut.


Apa kamu sudah dewasa sekarang? Kenalkan, namaku Lilian. Aku adalah ibumu. Mungkin selama ini, kamu lebih mengenal Vivian sebagai ibumu kan. Tak apa, aku bisa mengerti.


Saat kamu membaca tulisan ini, itu berarti aku sudah tak ada lagi di dunia ini. Tubuhku memang begitu lemah sejak kecil, hingga aku selalu terkurung dalam rumah besar ayahku.


Liana, maafkan ibumu ini, karena tak bisa memberimu hidup yang layak selama ini. Aku anak yang tidak berbakti. Demi cinta, ibu mu ini berani kabur dari rumah. Tapi percayalah, aku tidak pergi untuk mengejar pria itu. Aku hanya ingin melindungi mu yang saat itu masih ada di dalam perutku.


Kakekmu sangat marah saat tau ayahmu adalah seorang mata-mata bisnis. Dia pasti akan meminta ku untuk menggugurkan kandungan. Karna itulah, aku pergi dan menghilang dari radar kakek mu.


Saat kandungan ku semakin membesar, aku mendengar kabar jika ternyata ayahmu difitnah. Bukan dia mata-mata yang sudah membuat perusahaan kakek mu dalam krisis. Aku lega sekali.


Tapi meski begitu, aku belum berani untuk pulang ditambah kondisiku yang sudah hamil besar. Aku bertahan hidup di dalam hutan. Vivian bilang, ini pondok milik ayahnya yang biasa digunakan untuk bermalam saat berburu dan mencari bahan makanan.


Saat kau lahir, rupanya tubuhku sudah semakin lemah. Aku pun heran, kenapa aku bisa kuat mengandung selama sembilan bulan, bahkan dalam kondisi yang serba kekurangan.


Sepertinya yang kuat itu kau, Nak. Karena semenjak kau lahir, aku pun kembali sakit-sakitan.


Aku meminta Vivian untuk merawatmu, hingga kau cukup bisa memahami keadaan ini, dan memintanya mengantarkanmu pada kakekmu.

__ADS_1


Aku yakin, saat ini dia pasti sedang putus asa mencari kita. Bawalah kalung ku, dan katakan padanya kalau kau adalah anak Lilian.


Jika kau sudah menemuinya, sampaikan ucapan maafku, karena sudah menjadi anak yang tidak berbakti, dan membuatnya harus hidup seorang diri selama ini.


Liana, aku tak berharap kamu mau memanggilku 'Ibu', karena kamu bahkan tak ingat bagaimana rupaku, dan meninggalkanmu saat kamu masih butuh ASI dariku.


Meskipun kamu sama sekali tak mengingatku, tapi percayalah, bahkan di surga pun, aku akan terus menyayangimu dan mendoakan yang terbaik bagimu.


Maafkan ibumu, yang tak bisa memberimu apapun kecuali kemalangan ini, Nak. Maafkan ibu.


Dengan penuh cinta,


Lilian Wang.


Wajah Liana sudah sangat basah dengan air mata. Dia tak menyangka akan menemukan sesuatu seperti ini.


Gadis itu gemetar, dia pun mendekap surat itu dengan tubuhnya yang semakin berguncang.


“Aaaarrrgghhhh.... Aaaarrggghhhhh....”


Tangisnya pecah. Teriakannya terdengar begitu memilukan, menggema di seluruh ruang tamu toko pegadaian milik keluarga Luo itu.


Di luar toko, seorang pemuda bahkan bisa mendengar jerit dan tangis Liana dari tempatnya berdiri.


.


.


.


.


Tisu mana tisu🤧🤧🤧🤧🤧🤧


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘

__ADS_1


__ADS_2