
“Apa kau akan menghadiri acara peresmian gedung rumah sakit itu?” tanya Kakek Joseph.
Kedua orang itu sedang duduk bersantai di ruang tengah, sambil minum teh dan beberapa camilan yang disajikan oleh pelayan rumah tersebut.
“Tentu saja. Bukankah aku yang membangunnya. Berarti aku ibu dari rumah sakit itu. Bagaimana mungkin kau tidak datang,” sahut Liana.
“Ku dengar bahwa kali ini kepala yayasa itu akan datang,” ucap Kakek Joseph.
“Maksud Kakek, Ketua Jung? Yah, ku dengar dia akan datang bersama anak gadisnya yang manja itu,” sahut Liana.
“Ku dengar dari Jimmy, kalau kau mengenal anak gadis si Jung itu, dan pernah punya masalah dengannya. Apa tak apa jika kalian nanti bertemu,” tanya Kakek Joseph khawatir.
Pria itu terlihat keberatan, jika Liana datang ke pesta yang akan dihadiri oleh orang yang sudah menjadikan perusahaannya hampir bangkrut dulu.
“Kakek, sebenarnya yang kau khawatirkan aku bertemu dengan anaknya atau ayahnya? Jika anaknya, aku sudah sering menghadapinya dan selalu berakhir kemenangan ku. Kalau ayahnya, aku yakin di tempat umum seperti itu, dia tidak akan berani macam-macam padaku. Bukankah saat itu dia yang akan jadi bintangnya,” jawab Liana.
“Tapi, Nak...,” sanggah Kakek Joseph.
“Kek, bukankah pria ku selalu mengawasi ku dengan ketat? Bahkan, mereka juga ada di sini bersama ku sekarang. Selama ini aku sangat aman di bawah perlindungannya. Kakek tak perlu risau, oke,” sela Liana cepat.
Gadis itu meraih tangan sang kakek dan menggenggamnya, seolah memberikan rasa tenang pada pria tua itu.
Melihat Kakek Joseph diam saja, Liana pun berpikir mencari topik bahasan baru, agar kakeknya tak lagi memikirkan masalah esok hari.
“Ah... Benar. Ini adalah kali pertama aku muncul, setelah semua orang tau kalau aku adalah cucumu. Kek, kapan ibuku muncul untuk pertama kali di depan umum sebagai putri mu?” tanya Liana.
__ADS_1
Kakek Joseph nampak berpikir dan mengingat-ingat.
“Ehm, mungkin saat acara syukuran rumah. Saat itu, aku pertama kali memperlihatkan dia di depan banyak orang, bahkan ada wartawan juga di sana. Sebelumnya, aku selalu memintanya untuk tidak pergi kemana-mana, dan selalu berada di rumah mengingat kondisi fisiknya yang lemah. Ah...Lilian ku yang malang. Ku kira akan bisa terus menjaga mu selamanya, tapi ternyata...,” ucap Kakek Joseph.
Wajahnya kembali menunjukkan kesedihan, kala mengingat kembali nasib anak gadisnya yang meninggal dalam pelariannya seorang diri.
Liana yang melihat itu pun merasa bersalah, karena membuat pria tua itu kembali bersedih. Dia mengusap punggung tangan sang kakek, mencoba membesarkan kembali hatinya.
“Kek, yang sudah berlalu, biarkanlah. Aku yakin, ibu tidak pernah menyalahkan Kakek atas apapun juga. Kakek harus berhenti menyalahkan diri kakek, agar ibu bisa beristirahat dengan tenang di sana,” ucap Liana dengan nada bicara yang begitu lembut.
“Gadis licik! Bisa juga kau bicara lembut seperti ini?” sindir Kakek Joseph.
Liana tak menjawab. Dia hanya tersenyum dan kembali merangkul lengan kakeknya. Sekarang, dia sangat suka bermanja-manja dengan kakeknya itu.
Hingga Joseph Wang merasa seperti mendapatkan kembali putrinya yang telah lama meninggal.
Kakek Joseph sedikit menoleh ke arah sang cucu dengan kening yang berkerut.
“Sepertinya masih ada. Mau coba lihat?” ajak sang kakek.
Liana pun mengangkat kepalanya dan mengangguk cepat.
Keduanya berjalan ke arah kamar yang sekarang menjadi ruang penyimpanan barang peninggalan Lilian, setelah kamarnya yang dulu diberikan kepada Liana, untuk ditempati gadis tersebut setiap kali dia datang ke mansion Keluarga Wang.
Kakek Joseph membuka lemari pakaian putrinya yang masih rapi dan nampak utuh. Di sana, berjejer baju-baju milik Lilian.
__ADS_1
Meski sudah lama, namun terlihat tak sedikitpun termakan usia. Semuanya terawat dengan baik di dalam sana.
“Ini semua pakaian ibumu, Nak. Lihatlah,” ucap Kakek Joseph.
Liana pun berdiri di depan lemari, dan mulai melihat satu persatu pakaian sang ibu. Dia menyentuhnya sambil membayangkan ibunya dulu.
“Cantik. Rupanya selera kami tak jauh beda,” gumamnya.
“Ibumu adalah gadis yang sederhana. Dia tak pernah menyukai hal-hal yang berlebihan. Semua koleksinya pun sederhana, namun tetap terlihat elegan dan berkelas,” sahut Kakek Joseph.
“Kau benar, Kek. Inilah ibuku,” ucap Liana.
Tiba-tiba, gerakan tangan Liana berhenti menyusuri deretan baju-baju itu. Sebuah ide seketika muncul di benaknya. Seringai di bibir Liana kembali muncul, dan sungguh membuat orang yang melihatnya merinding penuh tanya.
“Kek, mana baju yang dipakai ibu saat acara syukuran itu?” tanya Liana.
.
.
.
.
Sarapan datang bestie 🥰lumayan siang tapi nggak siang banget lah ya🤭kecuali kalau review nya lama 😅🙈
__ADS_1
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘