
Kini, tinggal Liana dan juga Kakek Joseph yang berada di kediaman Wang. Keduanya terus bersama-sama menghabiskan hari minggu ini. Waktu Liana berkunjung hanya sampai sore hari nanti, karena setelah itu Liana akan kembali ke apartemennya dan bersiap untuk kembali bekerja esok hari.
Kakek meminta Liana untuk datang setiap minggu mengunjunginya di mansion tersebut, karena sang kakek sudah tak bisa lagi sering-sering pergi ke perusahaan.
Semua pekerjaannya sementara ini dipegang oleh Jimmy, sebelum nanti akan diserahkan kepada Liana saat gadis itu telah siap.
Kini, keduanya tengah berada di halaman depan, dan melihat air mancur yang berada di muka rumah besar tersebut. Banyak bunga mawar yang tumbuh di sana, serta beberapa bunga lainnya.
Melihat pemandangan tersebut, Liana seolah teringat kembali dengan tempat asing yang beberapa waktu lalu sempat ia datangi bersama dengan si ketua gangster, Falcon.
Benar. Sejak saat itu aku belum bertemu dengan pria menyebalkan itu lagi. Apa dia masih di sana? Atau sudah kembali ke Grey Town? batin Liana.
Saat pikirannya melayang jauh ke tempat terpencil itu, tiba-tiba suara kakek membawanya kembali ke Dream Hill.
“Aku dengar, masalahmu dengan yayasan Xing Ping sudah berhasil ditangani. Dari yang Jimmy katakan, kau seperti tak asing dengan yayasan tersebut,” tanya Kakek Joseph.
“Ehm, oh, itu... Yah, bisa dibilang suatu kebetulan saja, Kek,” jawab Liana sedikit kikuk.
Joseph menoleh ke arah sang cucu. Liana mendadak salah tingkah saat kakeknya menangkap basah jika dirinya tengah melamun.
“Apa yang sedang kau risaukan, Nak?” tanya sang kakek.
Liana berusaha menutupi kegugupannya dengan melempar pandangan ke arah air mancur di hadapannya.
“Aku hanya teringat hubungan ku dengan mereka di masa lalu saja, Kek,” ucap Liana.
“Benarkah? Apa mereka mempersulit mu?” tanya Kakek Joseph.
“Ehm, mungkin bisa dibilang begitu, tapi juga bisa dibilang tidak. Yang ku rasakan hanya, mereka tak ubahnya seperti budak dari seorang gadis manja yang selalu merengek karena berhasil ku jahili,” jawab Liana.
“Benarkah? Kakek jadi penasaran seperti apa kehidupanmu dulu,” ucap si pria tua.
“Sudah ku bilang itu bukan cerita yang bagus untuk di dengar,” sahut Liana cepat.
“Bagaimana kalau kau ceritakan tentang yayasan itu saja,” seru Kakek Joseph.
“Ehm, sekilas tak ada yang aneh dengan mereka. Hanya saja, yayasan tersebut sangat tunduk pada seorang gadis yang tak lain adalah pemilik yayasan tersebut. Gadis itu selalu saja menggangguku, tapi bukan Liana namanya kalau tidak membalasnya dengan telak,” ucap Liana dengan bangga.
“Wah... Benar-benar gadis yang kejam,” sahut Kakek Joseph.
“Bukankah itu juga warisan dari Kakek,” timpal Liana.
__ADS_1
“Kau ini. Selalu memakai alasan itu untuk membela diri. Gadis menyebalkan,” keluh Joseph.
Liana hanya terkekeh, begitu pun dengan Kakek Joseph. Keduanya begitu menikmati waktu kebersaam tersebut hingga sore mulai menjelang.
Waktu kini menunjukkan pukul empat petang. Liana pamit kembali ke Golden City untuk bersiap bekerja esok hari. Meski berat, namun kakek tua itu pun mengijinkan cucunya untuk pergi.
“Akhir pekan nanti, kamu harus datang lagi ya,” seru Kakek Joseph.
Pria tua itu terus memegangi tangan Liana, seolah enggan untuk melepasnya. Gadis itu pun mengusap punggung tangan sang kakek seraya mencoba menenangkan hatinya.
“Iya, Kek. Aku janji. Lusa mungkin aku akan ke Empire State. Setelah dari sana, aku akan langsung menemui Kakek di sini. Apa Kakek mau ku bawakan sesuatu dari sana? Kudengar, di sana banyak hal-hal baru yang bagus,” tanya Liana.
“Cukup kembali saja dengan selamat. Hanya itu yang kakek mau,” jawab Kakek Joseph.
Liana tersenyum hangat ke arah sang kakek, seraya menganggukkan kepalanya. Setelah itu, kakek beserta Debora mengantarkan kepergian Liana hingga ke teras depan.
Pria tua itu benar-benar menunggu hingga mobil Liana telah hilang di kejauhan, baru dia mau untuk kembali masuk ke rumah.
Helaan nafas panjang begitu jelas terdengar dari mulut pak tua itu.
“Hah, rumah kembali sepi,” gumamnya lirih.
“Sabar, Tuan. Aku yakin Nona Liana lambat laun pasti memilih untuk menetap di sini menemani Anda,” ucap Debora.
“Saya paham jika Anda tidak bermaksud begitu. Bukankah fisik Nona Lilian yang saat itu sangat lemah, hingga membuat Anda memutuskan untuk melarangnya keluar rumah,” ucap Debora.
Pak tua Joseph tak menjawab. Dia memilih terus berjalan dan kembali ke ruang istriahatnya.
...👑👑👑👑👑...
Di tengah jalan. Setelah melewati tikungan pertama dari kediaman keluarga Wang. Nampak beberapa mobil sedan hitam mengikuti Liana dari belakang.
Gadis itu bisa dengan jelas melihat mereka dari balik kaca spion.
“Kemarin cuma ada satu. Kenapa sekarang ada ... Lima? Apa Falcon mau membuatku malu dengan iring-iringan mobil sebanyak itu? Wah... Keterlaluan. Awas kau nanti,” gumam Liana.
Liana tak menghiraukan lagi keberadaan mobil-mobil di belakangnya. Meski dia menghubungi Falcon saat itu juga, seperti biasa dia hanya akan berakhir dengan menerima semua perkataan dari pria itu.
Entah kenapa, Liana tak pernah bisa menang berdebat dengan sang ketua gangster.
Kini, jalan telah memasuki area hutan yang berada di luar kawasan Dream Hill milik pribadi Kakek Joseph. Jalanan semakin menanjak dan turun membelah hutan dan bukit. Hanya ada satu jalur di sana, dan merupakan jalan penghubung antara perbukitan yang mengelilingi negera bagian A.
__ADS_1
Liana sesekali melihat ke belakang, namun dia merasa jika iring-iringan mobil di belakangnya menjadi bertambah banyak dua kali lipat.
“Apa-apaan ini? Kenapa mereka semakin banyak? Sepertinya aku harus menghubungi Falcon saat ini juga. Jangan sampai mereka terus seperti ini hingga ke Golden City,” gumam Liana kesal.
Gadis itu pun kemudian mencoba meraih ponselnya dan mencari nomor kontak Falcon di sana. Dia mengambil sebuah earphone dan memasangkan di satu telinganya.
Gadis itu pun kemudian mulai melakukan panggilan pada si ketua gangster. Namun, seakan tak ada sinyal seluler di sekitar tempat tersebut, Liana sama sekali tak bisa melakukan panggilan keluar.
Dia pun melirik sekilas tanda sinyal di bagian atas layar ponselnya, dan mendapati jika ada tanda silang merah di gambar sinyal.
“Aneh! Tidak biasanya seperti ini,” gumam Liana.
Dia pun kembali mencoba, namun, gerakannya terhenti saat di depan terlihat sebuah mobil nampak berhenti di sisi jalan, dengan seorang perempuan nampak meminta bantuan pada pengemudi lain.
Dia bahkan maju dan menghadang mobil Liana, hingga gadis itu pun terpaksa menghentikan laju kendaraannya.
Wanita itu mendekat ke arah pintu dan mengetuknya berberapa kali. Tanpa merasa curiga sedikitpun, Liana membuka kaca mobil dan menyapa sang wanita.
“Ada apa? Apa kau butuh bantuan?” tanya Liana.
“Mesin mobilku tiba-tiba keluar asap. Aku rasa air karburatornya habis. Tapi aku tidak bawa air sama sekali. Sudah ku coba untuk menghubungi bengkel langganan ku, tapi di sini tidak ada sinyal,” tutur si wanita.
“Ehm, yah kebetulan di sini sedang tidak ada sinyal seluler hari ini, padahal biasanya selalu ada. Baiklah, aku ada air minum. Sebentar ku ambilkan,” ucap Liana.
Gadis itu pun berbalik memunggungi wanita tadi, hendak mengambil air minum di kursi samping. Namun dari belakang, seseorang melingkarkan lengannya di leher Liana, sambil menutup hidung dan mulut gadis itu dengan sebuah sapu tangan.
“Eeehhhhmmmm.... Eeehhhhmmmm...!” Liana meronta.
Namun, semakin lama gadis itu melemas dan akhirnya tak sadarkan diri.
.
.
.
.
Tinggal 1 bab lagi ntar malem yah bestie😁
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar yah😘