
FLASHBACK
Seminggu yang lalu, Liana mendapatkan pesan dari Kenny Liem, wartawan senior Christopher yang bekerja di Golden Daily, sekaligus orang yang menolong Peter dan membawanya ke tempat rahasia milik Q.
“Nona Wang. Ada titipan untuk Anda,” ucap salah seorang resepsionis kantor Wang Construction.
Saat itu, Liana melintas setelah selesai memantau tahap akhir proyek rumah sakit Yayasan Xing Ping.
“Dari siapa?” tanya Liana.
“Tidak ada nama pengirimnya. Tadi juga dibawa kemari oleh seorang kurir. Apa kau tidak bersedia menerimanya?” tanya resepsionis itu.
“Tidak. Aku Terima ini. Thanks,” sahut Liana.
Liana pun kembali berjalan ke arah lift dan menuju ke ruangannya yang sekarang. Dia mulai menempati ruangan sang kakek di lantai teratas gedung tersebut.
Sesampainya di sana, Liana membuka bungkusan kecil yang dibungkus kertas teh. Di sana memang tak tercantum nama si pengirim dan hanya ada namanya saja.
Apa mungkin ini dari Wartawan Liem? batin Liana.
Meski ragu, namun Liana pun memilih untuk melihat isinya. Terdapat sebuah kunci dengan nomor di atasnya, serta sebuah catatan.
“Pergilah ke stasiun kota. Loker di sebelah selatan, sesuai dengan nomor yang tertera di kunci. Itu titipan dari Christopher,”
Begitulah pesan yang dikirimkan kepada Liana. Gadis itu pun segera memasukkan pesan tersebut ke mesin menghancur kertas dan menyimpan kuncinya ke dalam tas.
Dia melihat setumpuk dokumen yang harus di lihatnya hari ni, sehingga ia baru akan pergi ke stasiun usai bekerja.
__ADS_1
Sore hari, setelah semua pekerjaan selesai, Liana pun bergegas menuju ke tempat yang disebutkan dalam pesan itu.
Sesampainya di stasiun, dia segera menuju ke sisi kiri, di mana arah selatan berasa. Di sana, dia melihat deretan loker umum dan mencocokkan nomor di loker dengan kunci yang saat ini dipegangnya.
Setah ketemu, dia segera membuka loker tersebut dan melihat sebuah amplop besar di dalam sana.
Liana melepas tas punggungnya dan membuka resleting bagian besar. Gadis itu cepat-cepat memasukkan amplop tersebut ke dalam tasnya dan segera pergi dari tempat tersebut.
Dia segera melaju dengan kecepatan sedang menuju ke apartemennya, tetap dengan kawalan anak buah Falcon. Dia tak menghiraukan kedua orang itu meski kemungkinan besar mereka akan melaporkan semua gerak gerik Liana pada prianya itu.
Menurut Liana, Falcon pasti akan mencari tahu sendiri apa yang dilakukannya, dan seperti yang dia minta sebelumnya untuk selalu ada di sisinya dan percaya pada apa yang dia akan lakukan.
Sesampainya di apartemen, Liana segera membuka amplop tersebut yang bersisi lembaran kertas dari mulai print out baru, artikel koran dan majalah lama hingga terbaru, dan masih banyak lagi benda-benda lainnya di dalam sana.
Liana mengambil beberapa lembar foto yang juga dikirmkan oleh Christopher padanya. Foto-foto itu diambil dari berbagai kegiatan yang dilakukan kedua orang target Liana beberapa waktu ini.
Namun, fokus Liana tiba-tiba terhenti pada salah satu foto yang memperlihatkan seorang wanita dewasa, dengan dandanan glamour dan terlihat berkelas. Tak ada senyum di wajahnya, hanya tatapan tajam ke mata kamera.
Ketika dia sedang berpikir, pandangannya menangkap sebuah artikel yang tergeletak di mejanya. Sebuah artikel yang memperlihatkan seorang ayah dan putrinya yang tengah tertawa bersama, dengan judul artikel “Putri Sang Dermawan”.
Liana pun mengambilnya dan menjejerkannya dengan foto Amber yang tadi ada di Tangan.
“Apa ini sebuah kebetulan? Kenapa aku tidak menyadari nya saat berkunjung ke kediaman Tuan Harvey?” gumamya lagi.
Dia kemudian meraih ponselnya dan memfoto kedua potret tersebut. Liana lalu mengirimkannya kepada Christopher.
Tak berselang lama, pemuda itu melakukan panggilan kepada Liana, dan segera di terima oleh gadis tersebut.
__ADS_1
“Apa maksud foto yang kau kirim ini?” tanya Christopher.
“Apa ini sebuah kebetulan? Kenapa Lusy dan wanita itu terlihat begitu mirip? Apa kau sudah mencari tahu sedetail mungkin?” cecar Liana.
“Apa kau mencurigai jika mereka bertiga berhubungan?” tanya Christopher balik.
“Itu tugasmu untuk mencari tahu. Aku ingin infonya segera, Sepupu,” ucap Liana.
“Baiklah. Akan ku coba cari tahu lebih dalam lagi,” sahut Christopher.
Panggilan pun terputus.
Liana nampak menoleh dan memandangi kedua foto itu.
Tuhan, apa kau menahan doaku selama ini untuk sekarang? batin Liana.
FLASHBACK END
.
.
.
.
Yuhuuu.... hari ini sampe sini dulu ya bestie 😁besok lanjut lagi😘
__ADS_1
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘