
Menjelang petang, guyuran hujan membasahi sebagian kota Empire State. Sebuah mobil Ferrari biru mengkilap, nampak memasuki halaman depan sebuah yayasan amal di pinggiran timur kota tersebut.
Nampak seorang pria dengan balutan jas hitam, keluar dengan menggunakan sebuah payung kelabu bergaris hitam.
Dia berjalan menuju bangunan utama dengan dinding bata merah. Begitu masuk, dia sudah langsung disambut oleh seorang pria muda yang memakai kemeja putih lengan panjang, dengan kaca mata frameless yang bertengger di hidungnya.
“Selamat datang, Bos,” sapa pria muda itu.
Dia tak lain adalah Henry. Kepala Yayasan Amal Xing Ping, sekaligus tangan kanan Moses Jung, sang pembunuh berdarah dingin serta mantan petinggi di geng Jupiter yang menguasai hampir seluruh wilayah di Grey Town.
“Di mana dia?” tanya Moses langsung.
“Dia ada di ruangan kepala,” sahut Henry.
Pria muda itu menuntun jalan Moses menuju ke ruangannya, di mana sudah ada Amber yang menunggunya.
Sesampainya di depan pintu, Moses berhenti dan berbalik menghadap ke arah anak buah kepercayaannya tersebut.
“Jaga pintunya! Jangan sampai ada yang masuk ke dalam,” ucap Moses
“Baik, Bos,” sahut Henry.
Ruangan tersebut kedap suara, sehingga semua pembicaraan di dalam sana tak mungkin bisa di dengar oleh orang lain.
Henry merasa sedikit aneh dengan sikap bosnya. Jika biasanya Moses akan selalu memintanya menemani di setiap urusan, akan tetapi kali ini, dia seolah tak ingin ada yang tahu masalah apa yang sedang terjadi antara dirinya dan sang donatur.
__ADS_1
Moses kembali berbalik menghadapi pintu. Sejenak, dia menghirup napas dalam dan menghembuskannya sekaligus.
Baru setelahnya, dia meraih handle dan memutar benda itu. Pintu terbuka dan menampilkan sosok wanita anggun berambut pirang bermata biru khas bangsawan eropa, tengah duduk di dalam sana.
Dada Moses berdegup kencang namun ada rasa sakit di dalamnya. Pria itu segera menutup kembali pintunya agar tak seorang pun dapat mendengar pembicaraannya dengan Amber.
“Wah... Coba lihat siapa yang datang! Bukankah ini menantu pertama keluarga Harvey?” sapa Moses saat dirinya baru saja masuk.
Dia berjalan ke arah kursi kayu yang berada tepat di depan Amber.
Wanita itu masih dengan posisi sebelumnya. Duduk bersandar di kursi, dengan kaki yang menyilang serta tangan yang terlipat di depan dada.
Tatapannya tajam, namun nampak merendahkan ke arah Moses Jung.
“Apa yang kau maksudkan, Sayang? Aku tidak pernah bermain-main denganmu. Aku selalu serius. Bahkan saat kau melahirkan anak kita, aku pun serius mengajakmu untuk kabur dari sini,” ucap Moses enteng.
“DIAM KAU, JUNG!” bentak Amber.
Wanita itu nampak kesal mendengar perkataan Moses tadi. Kakinya yang tadi menyilang pun kini sudah turun semua. Kedua tangannya telah terurai dan mengepal kuat menanggapi omongan pria di depannya.
Sementara Moses Jung, pria itu nampak bangkit berdiri dan berjalan ke arah sebuah lemari kayu kecil, yang ada di dalam ruangan tersebut.
“Apa kau tidak ingin melihatnya, Em? Dia pasti akan sangat senang saat bertemu denganmu,” ucap Moses Jung.
“Jangan katakan kau masih menginginkanku, Jung. Ku tegaskan sekali lagi! Kau itu tidak pantas bersama denganku. Aku adalah seorang keturunan bangsawan Queen Elisa. Sedangkan kau hanya yatim piatu yang tak jelas asal usulnya. Hanya karena kebaikan keluarga Chen, kau bisa membuat dirimu menjadi seperti sekarang ini,” ucap Amber dingin.
__ADS_1
Moses Jung terlihat mengambil sebuah kotak kayu dari dalam lemari kecil itu. Dia membawanya ke arah meja kerja, lalu membuka kotak kayu tersebut dan melihat dua buah cerutu, serta pemotong ujungnya, lengkap dengan pemantik.
Dia sama sekali tak terusik dengan perkataan Amber, meski tak dipungkiri bahwa hatinya sangat tidak baik-baik saja.
Dia sudah terbiasa dengan hinaan dan cacian dari wanita itu, jauh sebelum semua tragedi itu terjadi.
“Jadi, kau masih mengharapkan pria dungu itu sampai sekarang? Dia sudah memutuskan untuk menjadi biksu dengan tidak menikah seumur hidupnya. Bukankah karena itu juga kau bisa jatuh ke pelukanku?” ucap Moses Jung.
“Brengs*k! Bertahun-tahun kau sudah membohongi ku tentang Peter. Apa mau mu, Jung?” ucap Amber kesal.
.
.
.
.
Siang bestie ☺maaf ya siangnya kebangetan up nya🙏lagi sibuk banget nih 😅
tapi aku tetep bakal up kok, tenang aja 😁
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘
__ADS_1