
Sore itu, mendung menggelayut, seiring kelabunya hati Liana. Di saat dia bisa menemukan siapa dirinya, tiket yang bisa mengantarnya menuju kakek kandungnya, kini telah diambil kembali oleh Caroline yang saat ini tinggal di Grey Town.
Setelah puas menangisi nasib dirinya yang bahkan tak mengenali ibu kandungnya sendiri, kini gadis itu segera pergi dengan membawa kotak kayu peninggalan dari Lilian yang dititipkan kepada pelayan setianya, Vivian. Serta harta karun miliknya, yang sudah lama dititipkan di tempat keluarga Luo bersama buku tabungannya dulu.
“Jangan pergi dulu. Malam ini akan ada badai. Bahaya kalau kamu pergi sekarang. Jalan menuju negara bagian A itu melewati bukit dengan kiri kanan tebing dan jurang,” seru Bibi Luo.
“Maaf, Bi. Tapi aku harus segera menemui Bibi Caroline. Aku harus mendapatkan kalung itu agar bisa meyakinkan kakekku, bahwa aku adalah cucunya,” ucap Liana.
Gadis itu tak lagi menghiraukan omongan dari paman dan bibi Luo nya itu. Yang ada dipikirannya saat ini adalah mendapatkan kembali barang milik ibunya, Lilian. Dia segera masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya pergi dari sana.
“Ya Tuhan. Aku baru ingat kalau dia bertelanjang kaki. Dia pasti panik sampai-sampai lupa dengan sepatunya,” ucap Bibi Luo ketika melihat mobil Liana telah jauh pergi.
“Semoga dia bisa berkumpul kembali dengan keluarga yang sebenarnya,” sahut Paman Luo sambil merangkul anak dan istrinya.
...👑👑👑👑👑...
Di jalanan, nampak seorang pemuda tengah berjalan menyusuri trotoar, sepanjang jalur dari toko pegadaian keluarga Luo hingga ke dekat sebuah persimpangan.
Sesekali, dia tersenyum saat mengingat kembali gadis yang mencuri perhatiannya, dan sempat hilang beberapa tahun lalu, namun kini akhirnya dia bisa menemukannya lagi serta memastikan jika itu adalah benar dirinya.
Namun, keadaan saat ini bukanlah saat yang tepat untuk dia berbahagia, melainkan hatinya ikut merasa sakit saat melihat gadis pujaan hatinya tengah bersedih.
Sedikit banyak, pemuda itu mengetahui apa yang terjadi di dalam toko pegadaian, karena sebelumnya dia berdiri tepat di samping pintu yang terbuka lebar.
Dia bahkan mendengar jika saat ini, dia sudah berada dekat dengan kakek kandungnya, namun dia masih belum bisa mengungkapkan identitas aslinya pada sangat kakek.
Aku yakin, ini sudah jadi garis takdirmu. Meski dengan cara tak sengaja, kamu akhirnya bisa bersama dengan Tuan Wang selama beberapa tahun ini, batin pemuda itu.
Namun, di tengah perjalanan, netranya menangkap keberadaan sebuah mobil sport yang sangat dia kenal tengah melaju kencang di jalanan, bahkan melewatinya begitu saja.
“Liana? Mau kemana dia?” gumam pemuda tadi.
Dia terus melihat laju mobil itu. Saat di persimpangan, lampu merah baru saja menyala, dan mobil itu menyalakan lampu sein ke arah kiri.
“Jangan-jangan ... Gawat! Sebentar lagi akan ada badai. Bisa berbahaya jika dia pergi sekarang,” lanjut pemuda itu.
Dia menyadari jika jalan yang akan diambil oleh Liana, adalah jalan keluar dari kota Metropolis. Pemuda itu pun segera berlari mengejar mobil Liana, dan segera meraih Handle pintu mobil tersebut.
__ADS_1
Ternyata, Liana yang pergi terburu-buru, lupa mengunci pintu mobilnya, dan membuat pemuda itu seketika masuk dan duduk di kursi depan.
“Hei!” pekik Liana yang terkejut dengan kehadiran pemuda aneh di sampingnya.
“Hai, Nona Wu. Kebetulan bertemu di sini. Boleh saya menumpang?” tanya pemuda itu di sela nafasnya yang terengah-engah.
“Apa begini cara meminta tumpangan, Wartawan Chen?” sindir Liana.
“Oh, maaf. Itu gerakan reflek ku saat harus mengejar orang untuk diwawancarai,” sahut Pria bermarga Chen itu.
Liana nampak mendengus kesal, karena harus bertemu dengan pria yang tak diharapkannya, sedangkan Christopher justru duduk dengan damai di sana.
“Oh iya, Anda ada urusan apa di kota ini?” tanya Christopher pura-pura tak tahu.
“Bukan urusan Anda,” sahut Liana ketus.
“Baiklah! Baiklah! Tapi, sekarang Anda mau mencari penginapan di mana?” tanya Christopher.
“Aku akan kembali ke negara bagian A. Apa kita beda arah? Kalau iya, silakan Anda segera turun dari mobil ku!” seru Liana.
“Sudah hijau. Jalanlah!” seru Christopher.
Liana pun tak mendebat lagi. Dia kemudian melajukan mobilnya dan kembali menuju ke jalan keluar kota Metropolis.
Perasaannya masih belum bisa tenang, sebelum dia bisa bertemu dengan bibinya, dan merebut kembali kalung milik sang bunda. Dia ingin segera memberitahukan Kakek Joseph, bahwa dia adalah cucu kandungnya, dan meminta pria tua itu untuk segera menjalani operasi pemasangan ring jantung.
Saat sudah hampir tiba di gerbang keluar kota, sebuah barikade petugas lalu lintas memutar balikkan semua kendaraan yang hendak pergi dari kota tersebut.
Hal ini itu membuat Liana semakin merasa tak tenang. Gadis itu pun mencoba untuk mendekat, dan bernegosiasi dengan para petugas tersebut.
“Selamat sore,” sapa salah satu petugas saat mobil Liana tiba di pos penjagaan.
Gadis itu pun menurunkan kaca mobilnya dan menyapa petugas itu.
“Sore, Pak. Ada apa ini? Kenapa semuanya diputar balikkan?” tanya Liana.
“Malam ini akan ada badai besar. Kami hanya mencegah seseorang mengalami kesulitan saat melintasi kawasan hutan menuju ke negera bagian A sana. Apa Anda juga mau ke sana? Kalau iya, saya sarankan untuk menundanya sampai besok pagi,” seru petugas itu.
__ADS_1
“Tapi, Pak. Saya ada keperluan yang sangat mendesak. Tidak bisa menundanya sampai besok,” ucap Liana menolak untuk putar balik.
“Maaf, Nona. Sepenting apapun urusan Anda, cuaca malam ini akan sangat berbahaya bagi Anda. Kami tidak akan mengijinkan siapa saja untuk keluar dari kota malam ini. Semua demi kebaikan Anda sendiri,” sanggah petugas lalu lintas itu.
Liana nampak hendak mendapat mendebat kembali perkataan dari petugas tersebut, namun Christopher lebih dulu menyela dan mengambil alih pembicaraan.
“Baiklah, kami mengerti, Pak. Kami akan segera putar balik. Terimakasih atas informasinya. Selamat bekerja kembali,” ucap Christopher.
Liana menoleh dan menatap tajam ke arah pria di sampingan itu. Dia terlihat geram, karena Christopher dengan lancangnya telah mencampuri urusannya.
“Kau ...,” ucap Liana.
“Sebelum marah-marah, sebaiknya kau bawa pergi dulu mobilmu dari sini,” sela Christopher dengan nada yang tiba-tiba menjadi terdengar dingin.
Dengan perasaan cemas karena diburu waktu, serta rasa kesal dengan tingkah Christopher yang sudah mengganggunya, Liana pun dengan kasar membanting stir dan berbalik arah kembali ke dalam kota Metropolis.
Setelah berjarak beberapa meter dari pos petugas tadi, Liana menepikan mobilnya.
“Apa mau Anda? Kenapa Anda dengan lancang menyerobot pembicaraan ku dengan petugas tadi? Anda tidak tau seberapa mendesaknya urusan saya !” cecar Liana kesal
“Se mendesak apa urusanmu? Sangat penting kah? Menurut prakiraan cuaca, malam ini akan datang badai tahunan yang cukup besar. Jika Anda mencoba untuk tetap melakukan perjalanan keluar kota, bisa saja Anda justru celaka di luar sana, dan akhirnya, Anda akan kehilangan hal penting itu,” sangat Christopher tegas.
Liana diam. Dia sadar jika keadaannya terlalu berbahaya jika harus berkeras kepala.
.
.
.
.
Ada yang mau kasih kopi? butuh nih buat seger-seger🤭
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘
__ADS_1