Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Orang yang penting


__ADS_3

Di kediaman Dream Hill, Liana tengah duduk di gazebo favoritnya. Semenjak kepulangannya dari Empire State, gadis itu lebih banyak melamun. Hampir semua orang yang mengenalnya merasa aneh dengan sikap sang arsitek muda.


Hal itu pun tak luput dari perhatian Kakek Joseph. Pria tua yang kini tengah menunggu hasil tes DNA yang beberapa hari lalu dilakukannya, merasa jika ada hal aneh yang terjadi di diri sang cucu.


Dia pun berjalan mendekat ke arah Liana yang masih duduk seorang diri di sana.


“Ada yang pernah bilang, udara semakin dingin dan tidak baik terus berada di luar. Tapi sendirinya malah melamun terus di sini,” ucap Kakek Joseph.


Liana masih tak menyadari kedatangan sang kakek. Pria tua itu benar-benar tak mengerti apa yang telah terjadi pada cucunya tersebut.


Dia pun duduk di samping Liana. Dengan lembut, ia mengusap puncak kepala sang cucu. Gadis itu seketika tersadar dari lamunan dan mendapati sang kakek telah berada di sampingnya.


“Kek? Sejak kapan Kakek di sini?” tanya Liana.


Kakek Joseph menatap ke dalam manik hitam Liana. Senyum tipis muncul di bibir keriput pria tua itu. Dia kembali mengusap lembut surai hitam cucunya.


“Apa yang sedang kamu pikirkan, Nak? Jangan dipendam sendiri. Kau bisa membaginya dengan Kakek, apapun itu,” ucap Kakek Joseph.


Liana tersenyum tipis mendengar ucapan sang kakek. Dia menggeleng pelan mengelak apa yang tengah ditanyakan padanya.


“Aku tidak aapa-apa, Kek. Mungkin karena masih jetlag,” sanggah Liana.


Joseph nampak tak percaya begitu saja. Meski tak mengenal Liana sejak kecil, namun dua tahun lebih dia bersama gadis itu, sedikit banyak Kakek Joseph pun tahu bagaimana sifat Liana.


Kakek meraih tangan Liana, dan mengusap punggung tangan gadis itu dengan lembut.


“Nak, kamu tidak sendiri lagi sekarang. Ada Kakek di sini. Kakek lah satu-satunya keluarga yang tersisa untuk mu. Kau jangan sungkan untuk mengatakan segalanya pada Kakek. Kakek janji, tidak akan melarang apapun keinginan mu, asal kamu benar-benar yakin dengan hal itu,” ucap sang kakek.


“Kalau begitu, boleh ku pinjam pundak Kakek sebentar? Entah kenapa, akhir-akhir ini aku merasa sangat lelah, Kek,” sahut Liana.


Dengan lembut, Kakek Joseph menuntun kepala Liana, dan menyandarkannya di pundak renta itu.

__ADS_1


Helaan nafas yang begitu berat, seolah tersimpan beban yang besar di didalam hatinya, keluar dari bibir Liana.


Gadis itu masih diam, dan tak mau mengatakan kegundahan di hatinya. Mungkin lebih tepatnya, Liana pun tak tahu mengapa dia bisa bersikap seperti itu sepulangnya dari Empire State.


Yang Liana tahu hanyalah, dia sudah mengetahui identitas Falcon, dan mendapati pria itu yang tiba-tiba berubah menjadi tak acuh padanya. Namun, Liana tak tahu kenapa ada rasa kecewa yang teramat di dalam hatinya atas semua sikap Falcon dadanya.


Melihat sang cucu yang hanya diam, dan terus membuang nafas kasar, Kakek Joseph pun menyadari jika ini bukan masalah pekerjaan atau lainnya, melainkan masalah hati.


Liana sama sekali tak pernah bersikap seperti ini sebelumnya. Seberat apapun  masalah pekerjaan dan gunjingan serta hujatan dari luar, tak pernah sekalipun dia terlihat melamun sepanjang waktu begini.


Aku rasa, gadis ini sedang tumbuh menjadi seorang wanita dewasa, batin Kakek Joseph.


Dengan lembut, Kakek Joseph mengusap pundak Liana, yang masih menyandarkan kepalanya di bahu pria tua itu.


“Nak, apa kau tahu. Jika suasana hati kacau, jalan termudah mengatasinya adalah dengan mengungkapkan kepada orang terdekat. Mungkin saat ini, kakek lah satu-satunya yang kamu miliki. Namun, cepat atau lambat, kamu pun membutuhkan orang lain sebagai sandaran hatimu. Terlebih, melihat usia kakek yang sudah cukup tua ini. Sebaiknya, kau segera mencari seseorang yang bisa kau andalkan untuk menjaga dan mendukungmu,” seru sang kakek.


“Sandaran hati?” tanya Liana.


Liana mendengarkannya dengan sangat jelas. Dia bahkan memikirkan perkataan tersebut dengan serius.


Seseorang yang penting? batin Liana.


Liana menegakkan duduknya. Dia menatap ke arah sang kakek. Meski ragu, gadis itu pun akhirnya mencoba mencari tahu perihal rasa yang saat ini hadir di dalam hatinya.


“Kek, apakah seseorang yang penting untuk kita bisa diukur dari semua rasa yang tadi kakek sebutkan?” tanya Liana.


Kakek Joseph tersenyum simpul mendengar penuturan sang cucu perempuannya.


Jadi, ini benar-benar masalah hati? Baiklah. Kita lihat, pria mana yang sudah mencuri hati cucuku ini? batin Kakek Joseph senang.


“Kau tahu, Kakek ini sudah banyak makan asam garam kehidupan. Kakek tahu bagaimana rupa ibumu dulu saat bertemu ayahmu. Bagaimana tingkah konyolnya sampai mereka memutuskan untuk menjalin sebuah hubungan,” tutur sang kakek.

__ADS_1


Liana nampak memperhatikan lekat-lekat wajah kakeknya saat mengatakan semua hal itu. Namun, pikirannya kembali terbang ke sebuah tempat yang sangat jauh, di mana terdapat seseorang yang saat ini terus mengusik ketenangan hatinya.


“Apa kamu tahu, bagaimana saat Kakek berhadapan dengan mu dulu? Penuh dengan emosi. Namun, seberapa besar kesalahanmu, Kakek selalu bisa memaafkanmu. Meski Kakek kecewa padamu, namun kakek selalu memilih untuk melepaskan mu. Kakek tak pernah bisa marah padamu, karena Kakek merasa jika kamu begitu berharga untuk kakek. Sekalipun kakek belum tau identitas mu yang sebenarnya,” lanjut sang kakek.


Liana tertunduk. Gadis itu memegangi dadanya yang masih tak tenang dan entah perasaan apa yang kini menyerangnya. Kecewakah? sedihkah? Kehilangankah? Marahkah? Liana bahkan tak tau lagi dengan dirinya sendiri. Akalnya tak bisa menjangkau ke dalam hatinya. Logikanya tak mampu menembus kuatnya perasaan Liana yang tengah berkecamuk di dalam dada.


“Nak, ada kalanya otak kita tak mampu mencerna apa yang hati kita mau. Tapi percayalah pada hatimu. Dia akan menuntunmu pada seseorang yang memang kau anggap penting,” ucap sang kakek.


Dan Kakek harap, siapapun dia. Kau akan bahagia dengan orang itu, Nak, batin Kakek Joseph.


Liana masih diam. Gadis itu bahkan belum mengangkat kembali wajahnya.


“Apa wartawan kenalan mu itu?” tanya sang kakek.


Liana menggeleng pelan tanpa bersuara. Sang kakek pun menebak satu orang lagi yang lain, yang mungkin saja benar, mengingat kedekatan keduanya..


“Falcon?” tanya kakek lagi.


Kali ini, Liana diam. Gadis itu masih menunduk. Namun, tangannya meremaas kuat jemarinya. Hal itu cukup memberikan jawaban kepada pria tua itu.


.


.


.


.


Maaf ya bestie, kemarin cuma up 1 bab, hari ini othor usahain kasih 3 bab buat gantiin yang kemarin🙏😊


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2