Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Sarapan


__ADS_3

Hari yang dinanti telah tiba. Acara peresmian gedung rumah sakit Golden Hospital akan digelar pada malam ini.


Saat ini, Liana tengah sarapan bersama sang kakek di kediaman Dream Hill.


“Apa kau yakin kakek tak perlu ikut? Biasanya juga, Kakek selalu hadir bukan?” tanya Kakek Joseph.


“Biasa apanya, Kek? Itu sebelum Kakek jatuh sakit terakhir kali. Sekarang, melihat kondisi Kakek, aku tak yakin Kakek bisa menghadiri acara yang melelahkan seperti itu. Apalagi setiap ada pesta, Kakek pasti pulang lebih lama dari pada aku,” sanggah Liana.


“Itu karena Kakek menggantikan mu yang tidak sopan dan selalu pulang lebih dulu,” sahut Kakek Joseph.


“Oleh karena itu, kali ini biar aku saja yang datang. Mulai sekarang, Kakek cukup istirahat di rumah,” seru Liana.


“Baiklah. Lagi pula ini yang terkahir untuk mu,” sahut sang kakek.


“Apanya yang terakhir? Aku bilang, mulai sekarang kakek cukup istirahat di rumah saja,” sanggah Liana.


“Bukankah kau akan membuka cabang di Empire State? Mana ada waktu untuk kau mengurusi urusan di Golden City ini?” cecar sang kakek.


“Aku bisa menangani masalah di sini, sambil aku mengurus perusahaan ku di sana. Bukankah masih ada Paman Jimmy yang akan membantuku meng-handle semua urusan di Golden City. Aku bisa datang sesekali untuk mengecek dan menghadiri acara atau rapat penting lainnya. Bukankah Kakek selalu berkata agar aku belajar? Jadi, biarkan aku belajar dengan serius, Kek,” sahut Liana tegas.

__ADS_1


“Jadi, kau sudah mau mengambil perusahaan yang ku rintis dari bawah itu, hah?” tanya Kakek Joseph.


“Bukan mengambil, lebih tepatnya melanjutkan usaha Kakek itu. Apa Kakek mau usaha Kakek diakuisisi orang lain, dan dijalankan oleh mereka, seperti rencana Kakek sebelum menemukanku?” cecar Liana balik.


“Kau ini! Bisa tidak kau lupakan masalah itu? Itu karena Kakek mu ini sudah sangat putus asa mencari mu kemana-mana. Apa kau tidak kasihan dengan pria tua malang ini?” keluh Kakek Joseph.


Liana terkekeh mendengar rengekan dari sang kakek.


“Kakek yang mulai, jadi jangan salahkan aku jika membahas sampai sana. Intinya, mulai sekarang, Kakek cukup pantau aku dari rumah saja. Paman Jimmy pasti akan sering melaporkan semuanya pada Kakek. Jadi, Kakek tak perlu khawatir apapun lagi,” ucap Liana.


“Lalu, apa kau akan melupakan kakekmu ini setelah pindah ke sana?” tanya Kakek Joseph.


“Aku masih bisa datang setiap sebulan sekali seperti sekarang ini. Jarak dari Empire State ke sini hanya butuh empat jam perjalanan dengan pesawat. Jadi, jangan khawatirkan soal itu lagi, oke,” jawab Liana.


Liana tahu perasaan kakeknya. Presdir Wang pasti khawatir akan kembali hidup dalam kesepian, setelah Liana memutuskan untuk pindah ke kota lain.


Namun, gadis itu sebisa mungkin akan menyempatkan waktunya yang akan sangat sibuk, untuk berkunjung menemui kakeknya di Dream Hill.


Pria tua yang malang, yang harusnya berkumpul dengan keluarga, menghabiskan masa tuanya dengan dikelilingi anak cucu, akan tetapi justru harus tinggal di rumah besar itu seorang diri.

__ADS_1


“Hah... Ingin rasanya aku menikahkan mu dan menjadikanmu seorang ibu rumah tangga saja,” ucap Kakek Joseph tiba-tiba.


“Jangan harap aku mau hidup seperti itu, Kek. Sangat membosankan!” sahut Liana cepat.


Kakek Joseph pun terkekeh dengan jawaban lugas Liana itu.


Dian tahu, jika cucunya tak akan mungkin mau menjadi seperti ibunya, yang selalu diam di rumah.


.


.


.


.


Othor juga nggak mau cuma diem dirumah🤭penginnya tuh jalan-jalan, shoping-shoping, makan-makan, pokoknya me time dibanyakin lah 🤣🤣🤣


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2