
“Tidak ada siaran ulang. Perkataanku semuanya eksklusif,” ucap gadis itu.
Falcon mendekat dan memeluknya dari belakang. Pria itu terus menciumi rambut gadis itu seolah telah menjadi candu untuknya.
“Kenapa kau selalu saja pelit untuk hal-hal manis seperti itu sih? Aku ingin dengar lagi dari mulutmu. Berbaik hatilah, hem,” goda Falcon.
“Tidak ada. Aku ngantuk. Besok masih harus ke perusahaanmu. Aku tak mau dikira semalaman tidak tidur lagi ya,” ucap Liana.
Falcon tiba-tiba menyeringai. Sebuah ide jail muncul di pikirannya. Dia pun menggeser tangannya yang tadi melingkar di perut Liana, kini berada di pinggang dan menggelitik gadis itu hingga Liana tertawa terpingkal-pingkal.
“Aaaaa..... Stop! Stop! Geli! Aaaaa.... Hentikan!” pekik Liana yang tak tahan dengan gelitikan pria itu.
“Panggil lagi aku dengan sebutan tadi, atau ku gelitiki terus kau,” seru Falcon.
“Aaaa.... Hahahaha... Jangan! Sudah hentikan! Hahaha... Honey, stop!” ucap Liana.
Mendengar itu, Falcon pun menghentikan aksi nakalnya. Dia tersenyum menatap Liana yang saat ini berada tepat di bawahnya, dengan nafas yang tersengal akibat ulahnya tadi.
“Kau ini jahat sekali. Aku paling tidak tahan dengan geli,” keluh Liana.
Falcon membaringkan tubuhnya di samping Liana, dengan sebelah lengannya tertekuk menyangga kepala, sedangkan satunya membelai pipi gadisnya. Dia merasakan butiran keringat di pelipis Liana dan menyekanya. Dia kemudian membelai rambut gadis itu dengan lembut.
“Aku benar-benar beruntung memilikimu,” ucap Falcon.
Liana yang sejak tadi mencoba mengatur nafasnya pun menoleh dan menatap pria itu. Mata mereka saling beradu. Degupan jantung Falcon seakan berpacu semakin cepat saat gadis itu balas menatapnya.
“Apa bisa aku dapatkan sebuah good night kiss?” tanya Falcon.
__ADS_1
Liana tersenyum. Gadis itu meraih tengkuk Falcon dan menuntun pria tampan tersebut untuk mendekat ke arahnya. Bibir mereka pun bertemu dan sebuah kecupan manis mendarat sempurna di bibir Falcon.
Saat Liana hendak melepaskan tangannya, pria itu menahannya dan semakin memperdalam ciumannya. Dia menggigit bibir bawah Liana hingga gadis itu membuka mulut.
Lidahnya pun masuk menerobos barisan gigi putihnya, dan mengabsen setiap sudut rongga mulut gadis itu. Falcon menyesap manisnya bibir Liana, atas dan bawah, hingga semuanya basah oleh liurnya.
Lidah mereka menari-nari di dalam sana hingga mereka tak sadar, jika tangan mereka telah bergerak kemana-mana.
Liana semakin meremas rambut belakang Falcon, hingga pria itu semakin menempel tak berjarak.
Sedangkan Falcon, tangannya mulai turun ke bawah dan membelai bukit indah milik Liana.
Aliran listrik seolah mengalir dan membuat sekujur tubuh gadis itu melemas. Gelenyar-gelenyar aneh muncul dan berpusat pada pangkal pahanya. Falcon semakin naik dan kini telah mengungkung Liana di bawahnya.
Remaaasan di salah satu buktinya membuat Liana melenguh di sela pagutan prianya, membuat Falcon semakin menggila.
Tangannya semakin gencar mencari celah di balik baju gadisnya, hingga ia berhasil masuk dan menyentuh hangatnya bukit kembar milik Liana.
Gadis itu tak menolak, dia semakin kuat menekan tengkuk Falcon agar ciuman mereka tak terlepas.
Falcon semakin menggila. Dia menaikkan braa yang menghalangi bukit Liana, dan meloloskan salah satunya. Dengan gerakan nakal, dia memelintir puncak kecil itu hingga membuat Liana merintih di bawah kungkungan nya.
Seakan tak sabar, pria itu melepas pagutannya di bibir Liana, dan mulai menuruni leher jenjang gadis itu. Sebuah gigitan manis nan kuat meninggalkan jejak di kulit putihnya.
Falcon semakin turun ke bawah, menciumi tulang bahu Liana. Dia kembali menyesap bagian itu kuat dan meninggalkan jejak-jejak cintanya.
Saat semakin turun, dia sudah melihat kedua bukit Liana telah lolos dari pengekangnya, dan bergetar naik turun seiring dengan deru nafas gadis itu yang sudah tak beraturan. Falcon bahkan sampai kesulitan menelan salivanya, melihat kedua benda kenyal yang menantang di depannya.
__ADS_1
Mata Liana sayu. Gadis itu seolah telah kehilangan akal dan siap menyerahkan dirinya pada Falcon.
Namun, pria itu tiba-tiba menutup kembali baju tidur Liana, dan menarik selimut untuk menutupi tubuh gadisnya yang hampir terbuka.
Liana terkejut dengan hal itu. Dia pun bangkit dengan kedua lengan yang bertumpu ke belakang.
Sementara Falcon, dia mengusap lembut surai hitam Liana, dan mengecup kening gadis itu.
“Sudah larut. Kau istirahatlah. Ini sudah lebih dari good night kiss. Maaf yah,” ucapnya.
Dia membaringkan gadis itu dan membawanya masuk ke dalam pelukan. Falcon benar-benar menahan sekuat-kuatnya h*srat yang sudah memuncak dan ingin dituntaskan. Dia sadar jika gadisnya belum siap untuk hal itu, dan tak mau meninggalkan penyesalan untuk orang yang begitu berharga untuknya
Malam yang indah mereka lewati bersama. Setelah semua ketegangan yang terjadi hari ini, keduanya pun tertidur karena kelelahan. Falcon terus mendekap erat tubuh Liana dengan posesif, seolah tak ingin gadis itu kembali pergi darinya.
Liana begitu nyaman berada di pelukan Falcon. Dia percaya, jika prianya tidak akan pernah menyakitinya dan akan selalu melindunginya. Meskipun mereka hanya berdua di ruangan tersebut, namun Falcon benar-benar menahan diri agar tidak menyakiti Liana.
Dia akan bersabar, hingga gadis itu sendiri yang datang dan menyerahkan diri padanya.
.
.
.
.
Kipas mana kipas🥵panas nih🤭
__ADS_1
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘