Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Terpergok


__ADS_3

Setelah beristirahat beberapa hari di rumah sakit, Liana akhirnya keluar dan pulang ke rumah Peter. Kakek Joseph telah pulang ke Golden City untuk kembali mengurus perusahaannya.


Kini, Liana berusaha untuk menurut dengan perintah dari kakek dan juga suaminya, bahwa dia harus banyak beristirahat.


Saat ini, wanita itu terlihat tengah duduk di balkon kamarnya, dengan sebuah macbook di tangan. Saat itu hari sudah mulai gelap dan semburat jingga hampir hilang di ufuk barat.


Wanita itu nampak sedang memperhatikan sesuatu dengan serius dari layar gadget yang dipegangnya. Sangkin seriusnya, dia sampai tak sadar bahwa sang sumi telah pulang dan masuk ke dalam kamar mereka.


Falcon melihat tirai tertiup angin, pertanda bahwa pintu balkon sedang terbuka. Dia pun berjalan mendekat dan melihat bahwa sang istri sedang duduk seorang diri di sana.


Dia berjalan  mendekat dan kini telah berdiri di belakang Liana. Falcon melihat bahwa sang istri tengah memperhatikan laporan perkembangan setiap proyek, yang saat ini sedang dijalankan oleh perusahaan desainnya.


Ada juga laporan keuangan dan banyak lagi hal-hal lain yang telah dikirim melalui email Liana.


Meskipun dia sudah sepakat dengan sang suami bahwa dia akan menurut dan tidak akan bekerja lagi sampai setelah melahirkan, akan tetapi dia diam-dian meminta staffnya untuk melaporkan setiap hal di perusahaan dan mengirimnya via surel.


Dia akan memeriksanya saat Falcon tidak di rumah, dan akan selesai saat mobil sang suami telah sampai di pelataran rumah Peter.


Akan tetapi, beberapa hari terakhir, Falcon sering mendapati Liana yang kurang fokus saat berbicara dengannya, seolah ada hal yang sedang dipikirkan.


Dia mengira hal itu terjadi karena Liana tengah memikirkan masalah perusahaan, sebab dia sudah dilarang untuk mengurusi hal tersebut.


Namun suatu hari saat baru sampai rumah, dia tak sengaja melihat layar macbook Liana yang masih menyala, saat wanita itu terburu-buru meninggalkannya dan masuk ke kamar mandi. Intensitas buang air kecilnya semakin sering mengingat perutnya sudah semakin membesar.


Sekilas, dia bisa melihat hal apa saja yang sedang dilihat oleh sang istri dengan diam-diam.


Saat mendengar suara air closet disiram, Falcon kembali keluar kamar agar Liana tak menyadari bahwa suaminya itu telah mengetahui semua.


Benar saja, saat Falcon mengetuk pintu kamar dan membukanya, Liana segera menyembunyikan macbook tersebut dan menyambut sang suami yang baru saja pulang.


Setelahnya, wanita itu terus menemani Falcon. Namun, pikiran terus tertuju pada hal lain, dan kini Falcon telah mengetahui alasannya.


Hingga keesokan harinya, dia mencoba meminta bantuan mertunya, Peter, untuk mencari tahu hal apa saja yang dilaporkan setiap hari pada sang istri. Jika itu hanya hal kecil yang tidak terlalu mempengaruhi tingkat stressnya, maka ia akan mengijinkan hal tersebut.


Namun jika tidak, maka dia akan menegur Liana dan membuatnya tidak melakukan hal itu lagi.


Setelah mendapat informasi dari Peter, Falcon begitu terkejut saat melihat semua daftar file yang dikirimkan kepada Liana setiap harinya. Ada sekitar sedikitnya tiga puluh file setiap hari yang dikirimkan ke surel sang istri.


Dia pun kemudian merencanakan sesuatu pada Liana. Falcon akan pulang lebih awal, dan tidak akan memakainya mobil sendiri, melainkan ikut mobil sang mertua.


Dia mencoba mengecoh sang istri karena setiap dia pulang pasti Liana telah menyembunyikan gadgetnya.

__ADS_1


Hingga sampailah saat ini, dia memergoki sang istri yang tengah serius dengan laporan dari perusahaan desainnya.


Falcon mengulurkan tangan dan meraih pundak Liana. Wanita itu begitu terkejut dan seketika menoleh ke arah belakang. Dia mendapati bahwa sang suami telah berdiri di sana sambil menata lurus kearah bola matanya.


Sangkin terkejutnya, macbook yang sedang ia pegang pun sampai terjatuh, namun segera ditangkap oleh Falcon.


“Honey, itu...,” Liana gugup.


Dia mencoba berdiri saat melihat suaminya mendapati apa yang sedang ia lakukan. Falcon terlihat biasa saja dan segera mematikan benda tersebut.


Liana nampak semakin panik. Falcon kemudian meletakkan macbook itu ke meja yang dekat dengan kursi balkon. Dia kemudian merengkuh pundak Liana, dan menatap lekat mata lentik sang istri.


“Honey, maafkan aku,” ucap Liana lebih dulu.


Mendengar hal itu, Falcon tersenyum tipis dan membawa Liana masuk ke dalam pelukannya. Dengan lembut, dia mengecup puncak kepala sang istri.


“Ayo masuk. Di sini dingin,” ajak Falcon.


Liana bingung karena tanggapan sang suami sangat berbeda dari yang dibayangkan. Dia pun hanya bisa mengikutinya dan masuk ke dalam.


Falcon meminta Liana untuk naik ke atas ranjang, dan menyelimuti kaki wanita itu. Saat Falcon hendak pergi, Liana menarik tangannya agar Falcon tidak menjauh.


“Honey, apa kau marah?” tanya Liana.


“Aku ingin marah, tapi tidak bisa karena rupanya istri ku ini sangat ketakutan. Apa aku se menyeramkan itu?” tanya Falcon.


Liana menggeleng.


“Aku sadar sudah salah. Maaf,” ucap Liana.


“Tak apa. Aku tahu kalau kau sangat keras kepala. Awalnya aku ingin memberimu ijin untuk memantau perusahaan dari rumah, tapi ternyata kau justru meminta semua laporan. Ini sama saja kau bekerja dari rumah, dan itu tidak baik untuk kondisimu, Sweety,” seru Falcon.


“Jadi, kau sudah tahu sebelumnya?” tanya Liana.


“Yah, aku sudah tau. Jadi hari ini, aku sengaja mengecoh mu agar bisa menangkap basah istri nakal ku ini,” ucap Falcon.


Pria itu mencubit hidung sang istri, hingga membuat Liana mengaduh kesakitan.


“Licik!” keluh Liana.


“Sekarang, istirahatlah. Kau pasti sudah terlalu lama di luar, bukan,” seru Falcon.

__ADS_1


“Temani aku,” pinta Liana.


“Aku mandi dulu. Badan ku bau,” ucap Falcon.


Namun, Liana semakin erat merangkul lengan sang suami.


“Tapi aku suka. Duduklah dulu di sini,” seru Liana.


Akhirnya, Falcon pun menuruti kemauan sang istri dan duduk di atas ranjang bersama Liana. Wanita itu menyandar di pundak sang suami dan bermanja di lengannya.


“Jadi, apa kau mengijinkan ku untuk bekerja dari rumah?” tanya Liana.


“Tidak boleh. Kau harus fokus menjaga kehamilan mu. Apa kau lupa kedua orang tua itu sangat galak? Kau tak mau suamimu ini dimarahi lagi oleh mereka kan?” sanggah Falcon.


“Haih! Baiklah. Aku akan menurut. Mereka benar-benar keterlaluan. Mengeroyokmu di depan ku seperti itu. Aku sangat tidak tega melihat mu kesusahan, Honey,” ucap Liana.


“Maka dari itu, kau harus menurut, oke?” seru Falcon.


“Baiklah,” sahut Liana dengan helaan nafas berat.


Liana memeluk Falcon dengan erat dan menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami.


“Ah iya. Honey, apa kakekmu masih bertanya tentang jenis kelamin anak kita?” tanya Liana.


“Masih. Kenapa?” tanya Falcon balik.


“Kakek ku juga sama. Tapi belum ku beritahukan padanya tentang anak ini. Biarkan saja ini jadi kejutan nanti. Aku yakin pasti mereka tidak akan menyangkanya,” ucap Liana.


“Yah, sesuai yang kau inginkan saja, Sweety. Aku juga sudah meminta pihak rumah sakit untuk merahasiakan hal itu dari siapapun,” sahut Falcon.


“Terimakasih, Honey,” ucap Liana.


Keduanya pun saling berpelukan. Untuk beberapa saat, Liana masih betah berlama-lama memeluk sang suami yang baru saja pulang kerja. Hingga wanita itu tertidur dan Falcon pun beranjak untuk membersihkan diri, kemudian menyiapkan makan malam untuk sang istri.


.


.


.


.

__ADS_1


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2