
Di apartemen, terlihat seorang gadis berambut panjang tengah tertidur dengan posisi tertelungkup di atas meja kerjanya.
Mentari sudah mulai menunjukkan dirinya di ufuk timur, dan sinarnya menerobos masuk ke celah tirai kamar tersebut.
Secercah silau mengenai mata gadis yang tertutup, dan membuat tidurnya terusik. Dia nampak menggeliat dan mulai meregangkan otot tangannya.
“Eeehhhmmmm, sudah pagi rupanya. Lagi-lagi aku ketiduran di sini,” gumam Liana saat menyadari dirinya kembali tertidur di meja kerja.
Kasur empuk nya bahkan jarang tersentuh, dan seperti sia-sia saja berada di sana.
Dia pun berjalan menuju kamar mandi dan membersihkan diri.
Selang beberapa menit, dia telah selesai dengan urusannya dan telah siap untuk kembali pergi ke tempat kerjanya.
Kali ini, gadis itu hendak pergi ke tempat pembangunan apartemen warga. Karena kejadian terakhir di Grey Town, Liana pun harus mencari taksi di depan apartemennya.
Saat dia berjalan melewati lobi bawah, seorang resepsionis memanggil namanya.
“Nona Wu!” Teriaknya.
Liana pun berhenti dan menoleh ke arah meja resepsionis.
“Ada titipan untuk Anda,” lanjutnya.
Gadis itu berjalan menghampiri resepsionis itu dengan mengerutkan keningnya.
Sebuah tas punggung hitam dan sebuah kunci mobil, diletakkan di atas meja resepsionis. Liana seketika meraihnya karena dia sangat mengenal benda-benda tersebut.
“Siapa yang membawanya kemari?” tanya Liana.
“Seorang pria tadi pagi menitipkan ini kepada sekuriti, dan berpesan untuk menyerahkannya kepada Anda,” jawab si resepsionis.
“Baiklah. Terimakasih,” sahut Liana.
Dia pun kemudian membawa tas dan juga kunci mobil itu, kemudian berbalik kembali menuju ke lift. Dia yang awalnya hendak mencari taksi di depan pun urung dan memilih menuju ke basement.
Sesampainya di sana, dia menekan tombol callback yang ada di kunci dan seketika, sebuah bunyi keluar dari salah satu mobil yang terparkir di sana.
Nampak mobil Chevrolet miliknya sudah berada tak jauh dari tempatnya berada. Liana pun segera menghampiri dan masuk ke dalamnya.
Dia terlihat membuka tas punggung itu dan mengeluarkan semua isinya. Nampak semua masih berada di sana.
“Wah, hebat sekali. Tak ada satu pun yang hilang. Semuanya lengkap. Pasti orang-orang itu habis dipukuli anak buah Falcon. Hahaha... Bagus lah,” ucap Liana.
Dia pun kemudian melajukan mobilnya menuju ke Bronze District, untuk melihat perkembangan proses pembangunan apartemen warga di sana.
...👑👑👑👑👑...
__ADS_1
Sore hari, Liana yang baru saja selesai memimpin rapat perihal proyek pembangunan Golden Hospital, kini bersiap untuk pulang.
Sebelum kembali ke apartemen, Liana memilih untuk mampir terlebih dahulu ke sebuah pusat perbelanjaan, bermaksud hendak membeli keperluan pribadinya yang sudah hampir habis.
Dengan mendorong sebuah troli barang, dia berjalan mengitari rak barang yang terpajang di dalam supermarket nya.
Satu persatu, benda yang dicarinya telah masuk ke dalam troli, dan dia pun memutuskan untuk menyudahi acara belanjanya tersebut.
Saat dirinya hampir sampai di kasir, seseorang menyerobot, dan alhasil kedua troller mereka bertabrakan.
“Oh, maaf,” seru orang itu.
Liana hanya mendengus kesal, sambil mencoba tetap sabar dengan kejadian menyebalkan itu.
“Nona Wu? Ini Anda bukan?” sapa orang itu.
Liana pun menoleh dan melihat orang tersebut. Matanya sedikit memicing dengan kerutan yang terlihat di keningnya.
“Ini saya, Damian. Yang waktu itu di taman golden park,” lanjut pria bermarga Li tersebut.
“Oh, ya benar. Hai, Tuan Li. Sedang apa Anda di sini?” tanya Liana.
“Damian. Panggil saya Damian saja,” sahut Damian.
“Maaf, tapi kita tidak sedekat itu untuk saling memanggil nama belakang,” jawab Liana.
Liana tak langsung menyahut, namun tiba-tiba garis bibirnya melengkung ke atas dan mengiyakan ajakan pria itu.
Keduanya pun mengurus urusan di meja kasir, untuk selanjutnya pergi ke sebuah caffe yang masih berada di kawasan mall tersebut.
“Nona Wu, Anda mau pesan apa?” tanya Damian.
“Ehm, tolong pesankan saya es kopi saja. Terimakasih,” jawab Liana.
Gadis itu berjalan ke arah sebuah meja, dan duduk terlebih dulu tanpa menunggu Damian selesai memesankan minuman mereka.
Beberapa saat kemudian, pria itu nampak berjalan dengan membawa pesanannya dan juga milik Liana.
“Terimakasih,” ucap Liana saat pria itu meletakkan gelasnya di atas meja.
“Sama-sama. Akhirnya kita bisa minum kopi bersama. Saya sangat senang sekali bisa dekat dengan gadis sejenius Anda,” puji Damian.
“Ehm, benar juga. Tuan Li, kenapa saya sama sekali tak mengenal Anda, tapi Anda seolah sangat mengenal saya?” tanya Liana.
“Siapa yang tidak kenal gadis pintar, yang berhasil membangun gedung-gedung berkelas dunia dalam usia yang begitu muda. Ditambah, posisi Anda di perusahaan Wang pun termasuk tinggi,” jelas Damian.
“Wah, apa saya se terkenal itu?” tanya Liana.
__ADS_1
“Tentu saja. Apa Anda tak tahu akan hal itu?” sahut Damian.
“Waaahhhh! Pantas saja banyak orang yang akhir-akhir ini mencoba dekat dengan saya. Rupanya, saya memang terkenal di kota ini. Apa itu bagus?” tanya Liana.
“Saya sarankan, Anda berhati-hati kepada orang yang tiba-tiba berusaha dekat dengan Anda. Mereka pasti punya maksud tidak baik saat mendekati seorang gadis dengan latar belakang yang bagus,” seru Damian.
“Oh ya? Lalu, apa Anda tau latar belakangku?” tanya Liana.
“Tentu. Anda adalah cucu dari pemilik Wang Contruction bukan. Sudah pasti semua orang ingin mendapatkan keuntungan dengan mendekati Anda,” jawab Damian.
“Apa Anda juga termasuk?” tanya Liana.
Damian seketika diam. Pria itu tak menyangka, jika Liana justru akan membalikkan pertanyaan tersebut kepadanya.
“Ehm... Ten... Tentu saja saya berbeda, Nona Wu. Saya bukan orang yang seperti itu,” jawab Damian gugup.
“Bukankah tadi Anda mengatakan sendiri, jika saya harus hati-hati dengan orang yang tiba-tiba mendekati saya?” tanya Liana dengan wajah polos.
Pria di hadapannya nampak tegang. Dia bahkan meneguk begitu saja latte panasnya hingga lidahnya terasa melepuh.
“Aaarrghhh!” teriaknya.
Liana pun bangkit dan meraih sebuah tisu, untuk mengelap sudut bibir Damian yang masih kotor dengan sisa kopinya.
“Hati-hati, Tuan Li. Maaf, saya tadi hanya bercanda saja. Tolong jangan masukkan ke hati yah,” ucap Liana dengan nada menyesal.
“Aaahhh... Tidak apa-apa, Nona. Saya paham kalau Anda hanya bercanda. Ehm, ini sudah cukup sore. Kebetulan, saya ada urusan setelah ini. Permisi,” ucap Damian.
“Oh baiklah. Sekali lagi saya minta maaf, Tuan Li. Senang bisa berbincang dengan Anda,” seru Liana.
“Saya juga,” sahut Damian.
Pria itu pun kemudian pergi terlebih dahulu dari sana, meninggalkan Liana yang masih menyedot es kopi miliknya.
Sebelah sudut bibir gadis itu terangkat ke atas, saat netranya melihat kepergian Damian dari kejauhan.
.
.
.
.
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘
__ADS_1