
Beberapa hari berlalu, sejak kejadian di jalur hutan menuju Dream Hill. Liana telah kembali kerutinitasnya seperti biasa dan tak ada yang tahu akan kejadian tersebut, bahkan Jimmy sekalipun.
Falcon telah menghapus semua jejak dari kasus tersebut. Semua itu atas permintaan dari Liana, ya g tak mau membuat beban pikiran untuk kakeknya.
Saat diperjalanan pulang setelah bermalam di basecamp gang Jupiter, Falcon sendiri yang mengantarkan Liana ke apartemennya di Golden City.
Saat di perjalanan, suasana sempat kembali canggung. Namun, Liana tiba-tiba angkat bicara karena terpikirkan sesuatu.
“Hei, Falcon. Apa kejadian semalam sudah diketahui oleh Paman Jimmy?” tanya Liana.
“Orang tua itu sepertinya benar-benar sudah tumpul. Kalau dia mengetahuinya, pasti dia menanyakannya padaku,” ucap Falcon.
“Kenapa begitu? Memangnya sejauh apa paman mengetahui hubungan kita?” tanya Liana lagi.
Falcon menoleh sekilas ke arah gadis itu. Nampak Liana sudah mulai mengikis rasa canggungnya, dan kembali berbincang seperti biasa.
“Jimmy tau kalau aku menempatkan beberapa orang untuk menjagamu. Sejak kejadian dengan Jessica, aku memintanya untuk mempercayakan keamanan mu padaku. Mengingat jasa ku yang telah membantu mengungkapkan identitas mu yang sesungguhnya, Jimmy pun mengijinkannya,” jawab Falcon.
“Benarkah? Lalu, apa Kakek juga tahu akan hal itu?” tanya Liana lagi.
“Hei, Nona. Apa kau pikir Jimmy akan bertindak sendiri tanpa persetujuan Pak tua Wang itu?” tanya Falcon balik.
“Hehehe... Kau benar. Paman tidak akan mungkin mendahului Kakek dalam mengambil keputusan apapun. Pantas saja kakek tau tentang kedekatan kita,” ucap Liana.
“Memang nya, apa kata kakekmu tentang kita?” tanya Falcon.
“Tidak terlalu penting. Yang terpenting adalah membuat mereka benar-benar tidak mengetahui kejadian kemarin," sahut Liana.
"Itu mudah saja. Tapi, aku penasaran dengan yang Pak tua itu katakan," ucap Falcon.
"Kakek hanya bilang kalau kita terlihat dekat. Tapi kurasa, kita tidak sedekat itu,” sahut Liana.
“Oh ya? Bukankah kita bahkan sudah tak berjarak lagi?” ucap Falcon.
Pria itu menaik turunkan alisnya, bermaksud menggoda Liana. Gadis itu pun seketika kesal melihat keusilan Falcon yang lagi-lagi mengungkit masalah ciuman malam itu.
“Apa kau tidak bisa berhenti mengingatkan ku tentang hal memalukan itu? Sepertinya kau senang sekali melihatku salah tingkah,” keluh Liana.
“Kau benar. Kau semakin terlihat lucu saat meras canggung, dan aku pun jadi semakin ingin menggodamu,” sahut Falcon.
Pria itu terkekeh melihat wajah kesal Liana. Pukulan kecil pun mendarat di pundak Falcon yang tak terasa sakit sama sekali, dan justru menambah tawa Falcon semakin keras.
__ADS_1
...👑👑👑👑👑...
Wang Construction, salah satu perusahan konstruksi yang sedang melejit namanya dibidang pembangunan infrastruktur di kota-kota besar, dan kini hendak melebarkan sayapnya untuk menembus peringkat tiga besar nasional.
Hal ini akan dimulai dengan kerja samanya bersama Tuan Harvey, untuk membangun sebuah kawasan real estat di Empire State.
Langkah yang akan diambil oleh seorang arsitek dan calon insinyur muda, yang sekaligus adalah pewaris tunggal dari perusahaan tersebut.
Minggu ini, sesuai jadwal yang sudah di tetapkan, Liana hendak melakukan perjalanan bisnis ke Empire State bersama beberapa orang perwakilan kantornya untuk membahas kontrak lebih lanjut dengan Tuan Harvey, sekaligus penandatanganan kerja sama di antara keduanya.
Di samping itu, proyek pembangunan Golden Hoslital sudah mulai berlangsung. Alat berat yang sebelumnya diminta Liana untuk mengebor tanah, sudah tiba dan telah mulai beroperasi hari ini. Gadis itu pun sedang melihat proses penanaman beton yang akan menjadi pondasi dari gedung rumah sakit tersebut.
Meskipun dia sudah mendapatkan informasi mengenai lahan tersebut dari Christopher, akan tetapi Liana masih terus mencoba menggali informasi yang mungkin saja tersembunyi dari masyarakat mengenai lahan tersebut, yang bisa saja mengakibatkan kerusakan fatal bagi bangunannya nantinya.
Dia berkeliling daerah tersebut, namun sepertinya cara itu tak begitu efektif. Dia teringat akan sosok wartawan yang tak lain adalah seniornya ketika di Universitas Negeri Metropolis, Christopher Chen.
Biasanya, pemuda itu akan muncul di area proyek pembangunan yang sedang digarap oleh Liana.
Gadis itu pun tanpa sadar berkeliling sambil mencoba mencari keberadaan Christopher, namun rupanya semua sia-sia. Tak ada tanda-tanda keberadaan pemuda itu.
“Apa aku telepon dia saja?” gumam Liana.
Dia meraih ponsel dari dalam tas selempangnya. Namun, ketika hendak mencari nomor kontak pemuda tersebut, Liana urung dan memasukkan kembali benda pipih itu.
Dia pun kembali menyibukkan diri di dalam. Area proyek.
Setelah seharian memantau jalannya pekerjaan di lapangan, Liana memutuskan untuk kembali ke kantornya dan membahas mengenai persiapan perjalan bisnisnya esok hari.
Namun, saat dia berhenti di sebuah lampu merah, matanya melihat sebuah papan nama dari kantor berita, yang berjarak tak jauh dari lampu lalu lintas tersebut.
Liana pun membatalkan niatnya untuk kembali ke kantor dan mendatangi gedung berita tersebut.
Sesampainya di sana, sang gadis cerdik memarkirkan mobilnya di parkiran belakang, dan berjalan menuju lift yang berada di lobi, untuk sampai ke lantai di mana sang wartawan kenalannya berada.
Saat dia baru sampai di depan lift, dia tak sengaja berpasangan dengan seorang wartawan yang lebih senior, dan tiba-tiba menyapanya.
“Ehm ... Anda Nona Wu, dari Wang Construction bukan?” sapa wartawan senior itu.
Liana menoleh dan mengamati pria di sampingnya.
“Yah, saya Lilian Wu dari Wang Construction. Maaf, tapi apa kita saling kenal sebelumnya?” tanya Liana.
__ADS_1
Wartawan senior itu kemudian mengulurkan tangannya hendak memperkenalkan diri. Meski ragu, Liana pun menerima uluran tangan pria tersebut dan berusaha bersikap sopan.
“Pernalkan, nama saya Kenny Liem. Saya senior Chris sejak di bangku kuliah, dan kebetulan saya tahu Anda dari dia,” ucap Kenny.
“Oh, rupanya begitu. Salam kenal Wartawan Liem. Ehm, kebetulan, saya kemari memang ingin bertemu dengan Wartawan Chen. Apa dia ada?” tanya Liana
“Boleh saya tau ada perlu apa Anda mencarinya?” tanya Kenny.
“Tidak ada hal penting. Hanya saja, saya ingin berterimakasih padanya mengenai bantuan yang dia berikan padaku sebelumnya,” tutur Liana.
“Oh, begitu rupanya. Tapi, sepertinya Anda tidak bisa lagi menemuinya di sini. Chris sudah pindah dan dia telah mengundurkan diri dari kantor berita ini,” ungkap Kenny.
“Benarkah?” tanya Liana memastikan.
Gadis itu tak percaya jika pemuda yang bahkan terus menempel pada dirinya, mengikutinya kemana pun dia berada, kini justru tiba-tiba menghilang.
“Yah, itu benar,” sahut Kenny.
“Sejak kapan?” tanya Liana.
“Beberapa hari yang lalu. Sepertinya, ini urusan keluarga. Saya tidak begitu paham. Maaf,” ucap Kenny.
“Tidak apa, Wartawan Liem. Saya justru berterimakasih atas informasinya. Kalau begitu, saya permisi dulu,” seru Liana.
“Ehm, apa Anda tidak mau mampir untuk minum kopi sebentar?” tawar Kenny.
“Mungkin lain kali. Permisi,” sahut Liana.
Gadis itu pun segera pergi dari tempat tersebut. Dia kembali melanjutkan perjalanannya menuju ke gedung Wang Construction untuk mempersiapkan semua keperluannya esok hari.
.
.
.
.
Nungguin? 😁tenang😊seperti biasa othor akan kasih 3 bab hari ini😉
Votenya masih nggak? masih dong🤭buat sini aja yak😅
__ADS_1
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘