Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Kecebong


__ADS_3

Di tempat lain, di sebuah ruangan yang gelap, tampak seorang pria sedang berbaring di atas ranjang susun, tempat yang biasa digunakan untuk istirahat para staff medis. Dia baru saja selesai melakukan operasi besar dengan durasi enam jam, dan baru sempat merebahkan diri di sana.


Dia bermaksud untuk beristirahat sejenak, sebelum dia kembali melakukan tugasnya sebagai dokter.


Namun baru saja matanya terpejam, dering ponselnya berbunyi, dan sontak membuatnya kembali terjaga.


“Sh*t! Apa mereka tak tahu kalau dokter juga butuh istirahat?!” keluhnya.


Dia lalu meraih ponsel yang ada di saku jas, yang tersampir di dekat tempat tidur, dan menempelkannya langsung ke telinga tanpa melihat dulu siapa si penelepon.


“Ha...,” ucapnya.


“Datang ke Dream Hill dalam tiga puluh menit!” seru ucap suara di seberang.


Sambungannya pun kembali terputus, bahkan sebelum dokter itu menyelesaikan satu kata halo.


“Si*lan! Siapa yang berani memerintahku seperti ini?” umpatnya.


Dia pun mencoba melihat riwayat panggilan. Dengan matanya yang masih terasa berat, dia mencoba mencari dengan benar siapa yang tadi menelponnya.


Saat melihat daftar nama tersebut, rasa kantuk dan lelahnya tiba-tiba hilang, dan berubah menjadi panik.


“Ada apa lagi ini? Mungkinkah ada yang terluka lagi?” gumamnya.


Dia segera bangun dan berlari keluar, bahkan dengan masih mengenakan baju operasinya. Orang yang tak lain adalah Q itu, segera menuju ke Dream Hill, yang berjarak sekitar 60 KM dari pusat kota Golden City.


Waktu menunjukkan sudah hampir tengah malam, dan Q melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, melewati jalur perbukitan dan hutan yang ada di bagian timur negara bagian A.


Hingga akhirnya, tepat 30 menit kemudian dia telah berhasil sampai di depan gerbang kediaman Keluarga Wang.

__ADS_1


Penjaga gerbang yang memang sudah mengenal Q, segera mempersiapkannya untuk masuk. Di dalam, dia bertemu dengan kepala pelayan.


Q memperkenalkan diri sebagai dokter yang dipanggil oleh Falcon secara pribadi. Wanita itu lalu menunjukkan kamar nonanya.


Dia mengetuk pintu beberapa kali hingga terdengar sahutan dari dalam.


“Masuk!” seru Falcon.


Kepala pelayan membukakan pintu dan memberitahu bahwa dokter telah sampai. Q pun dipersilakan masuk.


“Cepat periksa Kakak iparmu. Dia sejak tadi malam muntah terus sampai lemas seperti ini,” seru Falcon.


Q pun segera memeriksa kondisi wanita yang sedang terbaring lemah itu, dengan stetoskopnya. Dia juga memeriksa rongga mulut, mata dan juga denyut nadi wanita itu beberapa saat, kemudian mencoba menekan area perut.


“Apa yang kau rasakan selain mual dan muntah?” tanya Q setelah memeriksa kondisi fisik Liana.


Q nampak mengalungkan kembali stetoskopnya, dan melipat kedua lengan di depan dada.


“Kapan kau terakhir datang bulan?” tanya Q lagi.


Liana mengernyitkan keningnya atas pertanyaan dokter itu. Falcon yang merasa sang istri terganggu dengan pertanyaan itu pun menjawab mewakilinya.


“Apa hubungannya dengan hal seperti itu? Kau jangan sembarangan bertanya, Lion,” seru Falcon.


“Kak, aku ini dokter. Aku tau apa yang ku katakan. Aku sudah memeriksanya. Dia baik-baik saja. Bahkan lambungnya tidak menunjukkan ada gejala penyakit yang serius. Jadi kesimpulan ku sampai pada kemungkinan itu,” jelas Q.


Dia kembali menatap Liana. Nampak wanita itu sedang mencoba mengingat sesuatu.


“Bagaimana, Kakak ipar? Apa kau mengingatnya? Apa bulan lalu kau sudah mendapatkan periodemu?” tanya Q.

__ADS_1


Liana terlihat menggigit kuku ibu jarinya. Hal itu membuat Falcon merasa khawatir karena tak tau maksud dari arah pembicaraan Q dan juga istrinya.


“Aku melewatkannya bulan lalu,” gumam Liana.


Nampak senyum tersungging di bibir Q.


“Baiklah. Sepertinya kecebong kakak ku ini cukup cepat bekerja. Karena aku bukan ahlinya, sebaiknya kau segera pergi ke rumah sakit untuk memastikannya,” ucap Q.


“Kecebong? Apa maksudmu?” tanya Falcon bingung.


“Aku belum bisa memastikan. Yang jelas, tugasmu sekarang adalah untuk menjaganya dan membawa Kakak ipar ke rumah sakit,” sahut Q.


Dokter itu kemudian mendekat ke arah Liana. Dia menepuk pundak wanita yang masih diam tersebut.


“Aku ucapkan selamat lebih dulu, Kakak ipar,” ucap Q.


Dia kemudian pergi meninggalkan Falcon dan juga Liana di dalam kamar. Kepala pelayan lalu mengantarkan dokter itu sampai ke depan.


.


.


.


.


Pagi bestie, nih ku kasih sarapan😁semalem ketiduran jadi baru sempat ku update 🤭anggep aja bonus😅


next siang aja yah😁🙏

__ADS_1


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2