
“Nama kapalnya adalah Thinkerbell. Mungkin saja jika kita mengikutinya, kita bisa bertemu dengan Peterpan,” ucap Falcon.
Liana nampak masih tak peduli sama sekali dengan anak yang baru saja pergi itu. Namun, Tiba-tiba, Liana menoleh ke arah Falcon dengan tatapan terkejutnya.
Dia kemudian menoleh ke kanan dan ke kiri, mengedarkan pandangannya ke sekitar mencari sosok kecil yang telah ia abaikan tadi.
Namun, tak terlihat siapa pun di sana, dan seketika Liana kembali lemas. Falcon meraih ponsel dari saku celananya, dan melakukan panggilan kepada seseorang.
“Bawa dia kembali!” serunya.
Ponsel kembali ia simpan ke dalam saku. Dengan lembut, pria itu mengusap surai hitam Liana.
“B*doh! Kenapa aku tidak bisa menyadarinya?” rutuk Liana pada diri sendiri.
“Wajar. Itu karena, saat ini kau hanya sedang fokus pada satu hal saja,” sahut Falcon.
Liana menoleh ke arah prianya. Nampak Falcon tersenyum begitu hangat, hingga angin laut yang dingin pun tak terasa sama sekali di tubuhnya.
Dari arah lain, ekor mata Liana menangkap kedatangan seseorang ke arahnya. Anak kecil itu kembali bersama salah satu anak buah Falcon.
“Sejak kapan kau menyadarinya?” tanya Liana.
“Sejak dia datang dan hanya menyapa mu saja, seolah tidak ada aku di sini. Itu menandakan bahwa anak itu memang diperintahkan oleh seseorang untuk menemuimu. Ditambah perkataan dia yang mengatakan jika kapalnya bernama Thingkerbell. Siapapun pasti akan langsung berpikir tentang Peterpan, si bocah yang tak bisa dewasa itu bukan. Seperti ayahmu yang masih menjadi tuan muda, bahkan sampai sekarang,” ungkap Falcon.
Liana tak menyangka, jika prianya benar-benar jeli dalam melihat sesuatu.
“Wahhh... Kau benar-benar bisa diandalkan, Tuan muda Harvey. Aku sangat beruntung memilikimu di sampingku,” ucap Liana.
__ADS_1
Falcon hanya membalasnya dengan sebuah kecupan manis di kening gadisnya.
“Sudah ku katakan, kau bisa gunakan aku semaumu, Sweety,” sahut Falcon.
Saat keduanya masih terlihat berbincang, anak kecil itu kembali menghampiri mereka. Anak buah Falcon kembali ke tempatnya semula dan berjaga di sana.
“Tadi, paman itu bilang kau akan naik ke kapalku. Apa itu benar?” tanya anak kecil tadi.
Liana membungkuk dan mensejajarkan kepalanya dengan sang anak nelayan kecil itu.
“Bisakah kau membawaku bertemu dengan Peterpan?” tanya Liana.
Anak kecil itu tersenyum mendengar pertanyaan dari Liana.
“Tentu saja. Ayo ikut denganku!” ajak si anak kecil.
“Laporkan jika ada pergerakan yang mencurigakan sekecil apapun,” seru Falcon saat melewati tempat anak buahnya.
“Baik, Bos!” sahut salah satunya.
Liana, Falcon serta anak kecil itu menuju ke sebuah dermaga kecil, di mana sudah terikat sebuah perahu motor yang bisa membawa mereka pergi berkeliling disekitar pantai di pesisir pulau tersebut.
Anak kecil itu naik ke atas kapal terlebih dulu dan membuka penutup mesin diesel. Falcon kemudian ikut naik dan mengulurkan tangan ke arah Liana, serata membantunya untuk naik ke atas perahu tersebut.
Perahu itu bergoyang, hingga membuat Liana limbung. Beruntung, Falcon segera meraih pinggang Liana dan memeluk gadis itu agar tak terjatuh.
“Kalian duduklah yang tenang. Aku akan segera menyalakan mesinnya,” seru si anak kecil.
__ADS_1
Meski tubuh dan usianya masih jauh dari kata dewasa, namun kemampuannya mengendalikan mesin motor penggerak perahu tersebut cukup handal. Tak perlu waktu lama, mesin menyala dan perahu mulai melaju ke tengah laut.
Matahari terlihat jelas mulai tergelincir ke arah cakrawala, menyemburkan sinar jingga yang nampak begitu indah.
Para nelayan yang mencari ikan mulai kembali pulang untuk menemui keluarganya yang menanti di rumah, sementara ketiga orang itu justru pergi menuju ke tengah lautan.
Perahu melaju semakin jauh meninggalkan daratan. Di depan sana, terdapat sebuah tebing batu yang menjulang tinggi, dengan pepohonan yang rimbun tumbuh di atasnya.
Perahu berbelok dan masuk ke dalam ceruk tebing. Siapa sangka, di sana terdapat sebuah rumah panggung di tepi pantai yang tersembunyi dari pandangan mata semua orang.
Jika dilihat dari pesisir, tak akan ada yang tahu jika tempat ini ada. Hanya saat melewati tebing batu itulah tempat tersebut bisa ditemukan.
Kapal yang dikemudikan anak kecil itu jelas-jelas menuju ke rumah pantai tersebut, dan berhenti tepat di bibir pantainya.
.
.
.
.
Airnya bening kaya kaca ya bestie🥰jadi pengen berenang di situ deh🤭
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar yah😘