
“Jangan pergi! Tolong jangan katakan selamat tinggal!” ucap Falcon.
Kalimat itu seketika mampu memporak porandakan hati Liana. Gadis yang sedari tadi kesal bukan main atas sikap Falcon, kini tak mampu lagi mengucapkan sepatah kata pun.
Hatinya menghangat dengan pelukan pria itu. Dia bahkan bisa mendengar dengan jelas jika jantung mereka berdegup begitu kencang dan saling bersahutan.
Falcon membenamkan wajahnya di ceruk leher Liana untuk beberapa saat, hingga dia bisa kembali mengendalikan dirinya.
Setelah beberapa saat, Falcon mengurai pelukannya. Tangannya terangkat dan membingkai wajah cantik gadis yang baru saja kembali dari bahaya.
“Maaf. Aku tidak bermaksud mendiamkanmu. Aku hanya terlalu khawatir dengan keselamatanmu. Apa kau tau, mereka itu sangat kejam. Harusnya kau segera melarikan diri begitu merasa ada yang tak beres. Aku yakin kamu menyadari kejanggalan pada wanita yang menghadang jalanmu bukan,” ucap Falcon.
Pria itu berusaha mengungkapkan perasaan di hatinya yang sedari tadi terus membuatnya tak tenang. Dia mencoba menjelaskan tentang sikapnya yang tak acuh pada Liana sejak tadi.
Sedangkan Liana, gadis itu hanya mampu menjawab setiap pertanyaan dengan gerakan kepala yang singkat. Tatapannya tak bisa lepas dari manik hitam Falcon yang seolah menguncinya dengan pesona.
Saat ini, sesuatu yang aneh memenuhi hati Liana. Dia bahkan bisa melihat pria itu dengan tatapan lain seolah mengagumi dan mendamba.
Kenapa aku seperti ini? Apa aku benar-benar sudah terpesona oleh pria ini? batin Liana.
Falcon menghelas nafas dan itu terdengar begitu berat. Dia menempelkan keningnya ke kening Liana, seolah sedang menenangkan hatinya.
Pandangan Liana pun turun. Terpaan nafas hangat di wajahnya begitu membuat sekujur tubuh Liana membeku, dengan bulu kuduk yang meremang.
Gadis yang sama sekali belum pernah dekat dengan kaum adam manapun ini, begitu asing dengan apa yang sedang terjadi di ruangan tersebut. Jangankan berpelukan, sekedar saling pandang pun Liana tak pernah merasa secanggung ini.
Semua perlakuan serta tindakan Falcon yang berubah-ubah padanya, membuat Liana bingung dan hanya mampu diam mematung. Tangannya terus meremas ujung kemeja Falcon hingga kusut. Degupan jantungnya semakin berkejaran tak tentu membuat sekujur badan Liana memanas.
“Apa kau tau, betapa takutnya aku saat kau menghilang? Aku sampai hilang akal, hingga Chip yang selalu bekerja lebih cepat dari angin, ku anggap selelet kura-kura,” tutur Falcon.
Falcon menjauhkan kembali wajah mereka dan menatap lekat paras gadis di hadapannya. Liana masih terus menunduk. Dia bingung dan tak tau harus berbuat apa.
Kenapa aku hanya diam? Kenapa tubuhku tak menolaknya? Bukankah tadi aku kesal setengah mati dengan pria ini? Aku ini kenapa? batin Liana.
__ADS_1
“Apa kau marah?” tanya Falcon.
Liana terus diam. Falcon pun terus menatap lekat wajah yang masih tertunduk itu.
“Asal kau tau, aku pun sangat marah. Tak kalah emosinya dari dirimu. Aku marah sampai tak bisa mengendalikan diriku sendiri. Aku mencemaskan nasibmu yang saat itu berada ditangan mereka. Apa kau tau, mereka itu sangat kejam, Lilian,” ucap Falcon.
Pria itu kembali meledak. Dia melepaskan Liana dan mengacak rambut serta mengusap wajahnya dengan kasar.
“Aku begitu mencemaskan mu sampai aku hilang akal. Semua yang kulakukan seolah tak sama dengan diriku sendiri. Aku bahkan mungkin sudah menjadi perbincangan di antara anak buah ku, karena kekonyolanku saat mencari keberadaan mu. Entahlah, yang jelas aku begitu ketakutan, terlebih karena tau kau dibawa pergi oleh mereka. Aku... Aku takut kehilangan mu. Aku... Aku sangat takut, Lilian. Tapi saat melihat kau turun dengan begitu santainya, aku memaki diriku sendiri karena sudah bertingkah seperti orang gila. Mencemaskan seseorang yang sama sekali tidak punya rasa takut sedikitpun,” ungkap Falcon.
Pria itu kembali mengusap wajahnya dengan kasar, dan berkacak pinggang sambil terus berdiri tak tenang di depan Liana.
Gadis itu pun akhirnya memperhatikan tingkah Falcon yang sangat berbeda dari biasanya. Dia masih belum jelas dengan ungkapan hati yang baru saja diucapkan oleh Falcon. Dia hanya tahu jika pria di depannya itu begitu peduli akan keselamatannya dan takut jika sesuatu yang buruk sampai menimpanya.
Terlihat jelas rasa frustasi yang tergambar dari wajah pria itu, saat mengungkapkan apa yang dirasakannya beberapa jam ini, hingga akhirnya dia diam dan seolah tak menghiraukan Liana yang baru saja selamat dari penculikan.
Dalam hati, Liana mengakui jika dirinya sudah bersalah, karena tak segera melarikan diri saat menyadari ada keanehan dari wanita yang berpura-pura meminta bantuannya di hutan. Padahal, Liana bisa saja mengulur waktu hingga anak buah Falcon datang melintas dan memberinya perlindungan.
Tanpa sadar, satu tangannya terulur ke depan. Dia menyentuh pipi Falcon yang saat itu masih memalingkan wajah demi menyembunyikan ekspresi kalutnya.
Sentuhan lembut dari tangan Liana membuat Falcon mematung. Dia pun menoleh ke arah gadis yang masih berdiri di depannya. Falcon terkejut dengan yang dilakukan Liana. Tatapan mereka pun bertemu.
Namun, saat pria itu balas menatapnya, Liana tiba-tiba seperti tersadar dari lamunan dan mendapati jika tangannya telah mendarat di pipi Falcon.
Hah? Apa yang sudah ku lakukan? batin Liana.
Saat dia hendak menarik tangannya, Falcon telah lebih dulu meraih tangan lembut itu dan menggenggamnya erat.
“Lilian,” panggil Falcon lirih.
Seolah terjadi sebuah perang batin, kali ini Liana merasa jika kerja otaknya tak sejalan dengan gerak tubuhnya. Saat logikanya memerintahkan untuk menjauh, namun tubunya sama sekali tak bergerak. Bahkan tatapan matanya pun terus terpaku pada manik hitam Falcon yang seolah menguncinya.
Entah dorongan dari mana, Falcon pun turut mengulurkan tangannya dan menangkup telinga Liana. Dengan tatapan yang terus terpaku satu sama lain, pria itu semakin mendekatkan wajahnya ke arah Liana.
__ADS_1
Gadis itu sekaan tak menolak dan hanya diam ketika hembusan nafas hangat menerpa kulitnya. Falcon mulai memiringkan kepala, hingga hidung mereka pun tak saling bersentuhan.
Kemudian, sebuah kecupan lembut mendarat di bibir Liana. Cukup lama Falcon menyesap manisnya bibir Liana, hingga dia yakin jika gadis itu tak menolaknya.
Tangannya beralih memegangi tengkuk Liana, dan dengan lembut, dia memberikan sedikit gigitan di bibir tipis gadis itu, membuat Liana terpaksa membuka mulutnya.
Saat itu lah, Falcon memperdalam ciumannya. Dia mulai mengekspansi rongga mulut Liana dan mengabsen jejeran gigi putih gadis itu yang tertata rapi dengan lidahnya. Keduanya pun saling menyesap dan bertukar saliva masing-masing, dengan lidah yang terus menari di dalam rongga mulut.
Falcon menuntun kedua tangan Liana secara bergantian agar melingkar di lehernya, sambil terus memegangi tengkuk gadis itu sehingga ciuman mereka tak mudah lepas begitu saja. Dia pun melingkarkan lengannya di pinggang Liana hingga tak ada jarak sama sekali di antara keduanya.
Otak cerdas gadis itu kali ini benar-benar kalah dengan hatinya. Saat dia ingin mendorong Falcon menjauh, tangannya justru semakin erat merangkul leher pria itu hingga membuat ciuman keduanya semakin dalam dan hangat.
Meski tak ada ikrar yang terucap, namun tubuh mereka seolah mengatakan apa yang tak bisa dan belum mampu diungkapkan oleh otak dan ego masing-masing.
.
.
.
.
Nah kan, ku up malem biar nggak ganggu yang puasa 😅🤭biarpun cuma kissing kan lumayan bikin berdesir🤭🤣🙈🙊
Yang bacanya siang, othor nggak tanggung jawab ya🙈🙊🐵🤣🤣🤣🤣
masih weekend ya, jadi cuma up satu aja 😁✌sambil nunggu neng Liana up lagi, yuk mampir ke novel othor yang lainnya😊🙏
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘
__ADS_1