
Setelah Liana pergi, Peter menangis hingga matanya sembab dan hidungnya pun benar-benar merah. Puas menangis, pria itu pun memutuskan kembali ke apartemennya.
Di sana, dia merenungkan kembali perkataan sang putri. Peter ingin sekali memberikan kebahagiaan yang belum bisa ia berikan kepada gadis itu. Namun, jika dia benar-benar datang, secara tak langsung, dia mengakui bahwa dirinya adalah ayah kandung Liana, dan Peter belum berani untuk menghadapi reaksi gadis itu.
“Meskipun dia bilang dia sangat ingin bertemu dengan ayahnya, tapi saat dia tahu kalau aku lah ayahnya, apa mungkin dia akan menerima ku dengan mudah?” gumam Peter dalam hati.
Dia merasa jika anak gadisnya pasti akan sulit menerima pria yang sudah meninggalkan ibunya menderita dan kesakitan seorang diri.
“Aku pria kejam. Aku seorang pengecut. Mana pantas aku datang dan berkata 'Hai, aku ayahmu'. Itu benar-benar terlalu egois,” lanjut Peter.
Hingga pagi menjelang, Peter tak bisa terlelap barang sedetik pun. Dia berusaha memejamkan matanya, namun pikirannya terus tertuju pada sang putri.
Dia kemudian mengambil ponsel dan mencoba melihat jadwal penerbangan menuju Empire State.
“Apa dia mengatakan akan berangkat pukul berapa?” tanya nya pada dirinya sendiri.
Dia mencari jadwal penerbangan dan menemukan satu pesawat yang akan lepas landas setengah jam dari sekarang.
“Apa mungkin dia berada di pesawat ini?” gumamnya.
Tanpa berpikir lagi, Peter segera bangun dan bersiap pergi ke luar. Dia memesan sebuah taksi online dan pergi ke bandara.
Setidaknya aku harus datang. Tak apa jika aku telat. Justru bagus jika dia tak melihatku. Setidaknya, aku datang dan memenuhi permintaan putriku, batin Peter.
__ADS_1
Sesampainya di bandara, rupanya semua penumpang pesawat telah masuk. Peter mencari dari dalam bandara, pesawat yang mungkin ditumpangi oleh putrinya.
Dia berdiri di tepi dinding kaca, dengan kedua tangan yang menempel sepenuhnya di sana. Matanya tiba-tiba menangkap sebuah pergerakan aneh di salah satu kaca jendela pesawat yang sudah berada di jalur run away.
Matanya berkaca-kaca saat membaca tulisan yang begitu kecil terlihat dari kejauhan, namun berhasil dibacanya.
Liana menempelkan beberapa kertas secara bergantian ke depan jendela pesawat beberapa kali, berharap sang ayah melihat pesannya.
Dia sengaja menyiapkan pesan tersebut dengan font jumbo, agar bisa terbaca dari kejauhan.
Aku tau, kau pasti melihat pesan ku, Ayah. Aku pergi dulu. Semoga saat aku kembali, kita bisa berjumpa lagi, harap Liana dalam hati.
...👑👑👑👑👑...
Setelah menempuh jarak yang cukup jauh, kini pesawat telah sampai di Bandar Internasional Platina, Empire State.
Liana dan rombongannya pun sudah turun dari pesawat dan sedang mencari penjemput yang sudah disiapkan oleh perusahaan rekanan.
__ADS_1
Dari kejauhan, Liana melihat banner bertuliskan “SELAMAT DATANG, ROMBONGAN WANG CONSTRUCTION” yang dipegang oleh seorang pria yang memakai kaus abu-abu polos berkerah.
Gadis itu pun mendekat dan bertanya ke arah pria tersebut.
“Maaf, Tuan. Apa Anda dari The Palace?” tanya Liana.
“Betul, Nona. Apa Anda perwakilan dari Wang Construction?” sahut si pria.
“Benar,” jawab Liana.
“Mari ikut saya. Saya akan mengantarkan Anda sekalian ke penginapan yang sudah disiapkan oleh perusahaan kami. Ehm, boleh saya tau siapa di antara kalian yang bernama Nona Wang?” tanya oria itu.
“Saya. Apa ada masalah?” tanya Liana balik.
.
.
.
.
Maaf, kemaleman😅🙏amunisi kopinya kurang deh kek nya🤭othor ketiduran😅🙏🙏🙏🙏
__ADS_1
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘