Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Aku tidak kabur


__ADS_3

“Apa kau pikir aku tidak?” sahut Liana.


Mendengar jawaban dari Liana, Falcon pun mengurai pelukan mereka dan menjauhkan sedikit tubuh Liana darinya, agar dia bisa melihat wajah gadis itu dengan jelas.


“Hei, Nona. Apa kau tidak bisa cukup bilang ‘aku juga'? Kenapa harus selalu terkesan menyebalkan?”gerutu Falcon.


“Itu terlalu biasa. Aku tidak suka cara seperti itu,” sahut Liana tak acuh.


“Issh! Kau ini,” keluh Falcon.


Pria itu kembali membawa Liana masuk ke dalam pelukannya, dan gadis itu pun dengan nyaman menyandarkan kepalanya di dada lebar prianya.


“Kau belum jawab pertanyaanku,” ucap Liana.


“Pertanyaan yang mana?” tanya Falcon.


“Bagaimana kau bisa ada di sini?” tanya Liana.


Namun, belum sempat Falcon menjawab, Liana tiba-tiba melepas pelukannya dan menegakkan posisi duduknya.


“Jangan bilang kalau kau sedang kabur dari kakekmu ya?” terka Liana.


Seketika, sebuah jentikan ibu jari dan telunjuk mendarat di kening Liana, dan membuat gadis itu memekik kesakitan.


“Aawwww! Apa yang lakukan!” keluh Liana.


“Itu karena kau sudah berpikir macam-macam,” sahut Falcon.


“Lalu apa kalau bukan kauir?” tanya Liana lagi.


“Anggap saja ini kelonggaran yang orang tua itu berikan padaku, karena aku sudah sangat menurut akhir-akhir ini,” jawab Falcon.

__ADS_1


“Maksudmu, kakekmu sendiri yang memintamu kemari untuk menemuiku?” tanya Liana memastikan.


“Bisa dikatakan seperti itu. Aku ditunjuk sebagai pimpinan tim penanggung jawab proyek Paradise, dan dia memintaku untuk mengajakmu berkeliling melihat lahan hari ini,” ucap Falcon.


Liana menoleh ke kanan dan kiri seolah sedang mencari sesuatu. Falcon seolah paham dengan apa yang tengah dipikirkan Liana, dan dia pun hanya bisa tersenyum geli melihatnya.


“Tidak ada pengawal. Lagi pula, bandara ini adalah miliknya. Kalau pun aku kabur juga bisa dengan mudah diketahui olehnya. Dan terpenting lagi, aku tak ingin kau ada dalam bahaya karena ku,” ucap Falcon.


Pria itu meraih kedua tangan Liana, dan mengecup punggung tangan gadis tersebut.


“Aku akan selalu melindungimu. Akan ku pastikan, kalau kau aman berada di dekatku, hem,” ucap Falcon.


Liana hanya bisa menyahuti nya dengan tersenyum, dan mengangguk dengan pelan. Kali ini, gadis itu tak menjawab dengan cara bar-barnya.


Falcon kemudian melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, untuk mengetahui waktu saat ini.


“Ini sudah lewat jam makan siang. Apa kau tidak lapar?” tanya Falcon.


“Dasar gadis nakal,” ucap Falcon.


Pria itu gemas dengan jawab Liana, hingga dia pun mengacak puncak rambut gadisnya hingga berantakan.


“Hei!” pekik Liana yang tak Terima rambutnya diacak-acak.


Falcon berdiri lebih dulu, saat Liana masih sibuk merapikan rambutnya yang berantakan. Dia meraih koper Liana dan mengulurkan tangan ke arah gadis tersebut.


Gadis itu pun mendongak, dan tersenyum, kemudian meraih tangan prianya. Keduanya berjalan bersama meninggalkan area bandara.


“Hei, Falcon. Aku harus memanggilmu apa saat di kota ini?” tanya Liana.


“Mereka mengenalku dengan nama Alex. Tapi, kau bisa memanggilku sesukamu saat hanya ada kita berdua,” sahut Falcon.

__ADS_1


“Baiklah. Di mana kita akan makan siang? Menu apa yang akan kita pilih nanti?” tanya Liana.


“Terserah kau saja,” sahut Falcon.


“Kalau begitu, aku mau makan hotpot. Kudengar di sini ada restoran yang menjual menu hot pot all you can eat yang enak,” ucap Liana.


“Baiklah. Kita akan kesana,” sahut Falcon.


“Mungkin akan semakin enak kalau setelah makan, kita mampir di kedai gelato,” ucap Liana.


Falcon tiba-tiba menghentikan langkahnya, dan membuat Liana pun ikut berhenti.


“Kalau kau cerewet seperti ini, sebaiknya kita langsung meninjau lahan saja,” keluh Falcon.


“Hei, aku ini tamu mu. Harusnya kau berinisiatif mengajakku jalan-jalan,” sanggah Liana.


Falcon memutar bola matanya kesal dengan ucapan Liana, dan kembali melangkah meninggalkan gadis itu.


“Ah, benar. Bukankah di bagian barat kota ini, ada taman hiburan yang berada di dekat pantai? Bagaimana kalau nanti kita juga pergi ke sana?” ajak Liana.


Falcon tak lagi menyahuti cerewetnya gadis yang kini tengah bersamanya itu. Mereka pun pergi dari bandara bersama dengan perasaan ceria.


.


.


.


.


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2