
Hari itu, Liana terus diganggu oleh Damian, yang menawarkan beberapa nama perusahaan rekanan yang bergerak di bidang pengadaan bahan material bangunan.
Pria itu berusaha mendapatkan kontrak kerja sama dengan Wang Construction di luar jalur yang sudah ditentukan.
“Maaf, Tuan Li. Sekali lagi ku katakan, kalau saya tidak menunjuk secara personal setiap rekanan yang akan bekerja sama dengan perusahaan kami. Jika memang perusahaan yang Anda sebutkan tadi cukup baik dan mampu, ajukan saja proposal kepada kami. Nanti akan kami panggil untuk presentasi. Kalau dinilai baik, mungkin bisa mendapatkan kontrak kedepannya,” ucap Liana.
“Kami sangat profesional, Nona. Itu sudah kami lakukan sejak lama. Tapi, mengingat pertemanan kita, aku harap Anda bisa memberi kami sedikit kemudahan dalam prosesnya,” ucap Damian.
Mendengar hal itu, Liana menyunggingkan senyumnya yang tersembunyi di balik masker penutup wajah.
Oh ... Jadi sekarang sudah mau terang-terangan? Bagus kalau begitu, batin Liana.
Gadis itu tak menyahut lagi. Dia justru naik ke atas menggunakan lift proyek yang biasa digunakan para pekerja, dan terus diikuti oleh Damian.
Liana sengaja membawa pria itu ke tempat yang cukup bising, hingga suara ocehannya tak bisa didengar jelas oleh Liana.
Pria itu terlihat menutup telinga dan kesulitan untuk berbicara, karena suara beberapa mesin crane serta mesin lainnya yang memekakan telinga.
“Nona Wu. Jika kau mau, kita bisa membahasnya sambil makan siang bersama. Itu akan lebih intens dan tenang. Di sini cukup bising,” ucap Damian.
Liana diam. Dia berpura-pura tak mendengar perkataan dari Damian. Sesampainya di atas, mereka keluar lift, dan Damian terus mengekor Liana.
Damian seperti tak kenal lelah untuk membujuk Liana. Namun, gadis itu seperti tak berpengaruh sama sekali.
Di ujung lantai paling atas, ada beberapa tumpukan kayu sisa pengerjaan, yang hendak diturunkan ke bawah menggunakan crane.
“Tuan Li. Saya hargai usaha Anda. Hanya saja, cara Anda sudah salah sejak awal. Saya tau, Anda yang meminta orang untuk berpura-pura menabrak ku dengan sepeda tempo hari di Golden Park. Aku tau, kalau setiap pertemuan kita itu bukanlah sebuah kebetulan, melainkan Anda memang dengan sengaja menungguku sebelumnya di tempat-tempat tersebut. Dan lagi, hanya karena segelas kopi di mall, tidak langsung membuat kita menjadi dekat, bukan. Saya hanya menghargai Anda dan ingin berlaku sopan saja. Namun, jika Anda terus mendesak saya, mohon maaf, saya tidak bisa untuk bersikap se sopan itu lagi,” ucap Liana tegas.
Gadis itu kemudian berjalan mendekat ke arah tumpukan kayu yang sudah mulai terangkat, dan bergeser ke arah luar bangunan. Liana cepat-cepat melompat naik ke atasnya, untuk turun ke bawah meninggalkan Damian yang masih berdiri di atas bangunan.
Pria itu hanya melongo melihat aksi Liana yang begitu berani, menumpang mesin crane dari atas gedung berlantai tiga puluh tanpa pengamanan sama sekali.
Damian melongok ke bawah dan merasa kesal, karena sudah ditolak mentah-mentah oleh gadis itu. Dia terlihat mengacak rambutnya dan melepas kasar dasi yang masih melilit di leher.
“Gadis kurang ajar! Awas kau!” maki Damian.
Liana terus bergerak seiring mesin crane membawanya turun, hingga sampai di bawah. Gadis itu terlihat tak takut sama sekali saat menumpangi mesin tersebut, bahkan wajahnya nampak sangat senang bermain-main dengan alat itu.
Saat baru pertama kali mengawasi proyek di lapangan, dia bahkan sempat membuat semua orang cemas karena tiba-tiba melompat ke atas tali yang membawa tumpukan baja, dan naik ke atas gedung setengah jadi dengan mesin itu.
__ADS_1
Bahkan, tak ada gurat ketakutan saat harus berada di ketinggian tanpa standar keamanan yang cukup. Wajahnya bahkan terlihat sangat senang saat mesin semakin tinggi membawanya.
Mandor yang bekerja saat itu pun cepat-cepat naik menggunakan lift proyek, dan menuju di lantai paling atas untuk menunggu atasannya sampai.
Semua panik, tapi gadis itu malah tertawa, dan berkata lain kali ingin naik benda itu lagi.
Seiring berjalannya waktu, setiap pekerja yang mengikutinya, sudah tak heran dengan kelakuan dari atasan mereka yang satu itu.
Setelah kakinya telah menyentuh tanah, Liana segera berjalan menuju mobilnya, dan menitipkan proyek kepada mandor.
Gadis itu tak ingin jika Damian kembali mengganggunya dengan ocehan tak penting.
Saat dia baru saja masuk ke dalam mobil, seseorang juga ikut menyerobot masuk dari pintu satunya.
Liana seketika menoleh karena terkejut dengan orang yang tiba-tiba masuk ke dalam mobilnya.
Matanya membulat namun sekejap kemudian di mendengus kesal, saat menyadari siapa yang sudah berbuat seenaknya itu.
“Apa kau selalu seperti ini, Tuan?” keluh Liana pada orang tersebut.
“Hehehe... Maaf, sudah kebiasaan,” sahutnya.
“Aku hanya mau minta tumpangan saja. Hehehe...,” sahut Christopher Chen, si pria aneh yang selalu saja muncul tiba-tiba.
“Memangnya Anda mau kemana? Saya tak akan sebaik itu mengantarkan Anda ke alamat tujuan, jika kita tidak searah,” ujar Liana ketus.
“Tenang saja. Aku akan selalu searah dengan mu, Nona Wu,” sahut Christopher tersenyum lebar, sambil memamerkan deretan gigi putihnya.
Liana hanya bisa mendengus kesal, saat berhadapan dengan senior yang selalu saja mengganggunya.
Dia pun melajukan mobilnya meninggalkan lokasi pembangunan, serta Damian yang sudah tentu kesal dibuatnya.
Dari kaca spion, Christopher bahkan bisa melihat pria yang baru saja turun dari atas itu, dan tengah berlari mengejar mobil Liana, namun tak bisa terkejar karena gadis ini sengaja menginjak gas sedikit dalam.
Mobil itu bukan mobil biasa, melainkan mobil sport, sehingga gas sedikit saja sudah pasti kecepatannya akan cukup tinggi.
“Sepertinya, pria itu tadi mengejar mobilmu,” ucap Christopher.
“Entahlah. Aku tak peduli,” sahut Liana dingin.
__ADS_1
“Bukankah dia seorang pemilik usaha bahan baku bangunan? Setahuku, perusahaan kalian pernah bekerjasama, sebelum kau menduduki jabatan mu sekarang,” tutur Christopher.
Liana menoleh sejenak, kemudian kembali fokus ke jalan.
“Benarkah?” tanya Liana.
“Yah. Aku pernah melihat artikelnya. Saat itu, perusahaan Wang Construction sempat mengalami kerugian besar, akibat bangunan yang dibuat mengalami kerusakan parah, bahkan saat usianya belum menginjak satu tahun. Mungkin kau pernah mendengar, kasus ambruknya jembatan penghubung pulau di sebelah selatan sana,” ungkap Christopher.
Benar. Saat itu posisi ini masih dipegang oleh kepala bagian Feng. Sepertinya, karena sekarang aku yang memegang posisi ini, dia ingin menjalin kerja sama seperti saat itu lagi dengan cara mendekati ku, batin Liana.
“Bisakah kau ceritakan semuanya padaku?” tanya Liana.
“Bisa saja. Tapi, aku ingin kita bicara sambil makan siang. Bagaimana?” tawar Christopher.
Liana menghela nafas dalam. Tak disangka keingintahuannya ini, justru memberi kesempatan senior nya itu untuk mencari keuntungan darinya.
“Baiklah,” sahut Liana terpaksa.
Gadis itu kemudian melajukan mobilnya ke sebuah restoran, yang terdekat dari tempat mereka berada saat ini.
Kalau kau mengira aku sama seperti kepala bagian yang korup itu, akan ku beri pelajaran berat kau nanti, batin Liana.
.
.
.
.
Gomenasai, Mina-san.... Mianhae yorobun.... I'm sorry guys... ngapuntene sing katah... mohon maaf...
othor kesiangan 🤭hari ini 1 eps lagi ya, besok baru kita mulai gas pol 3x sehari😁
Selamat ber hari minggu 😘
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘
__ADS_1