
Hari keberangkatan Liana pun hampir tiba. Lebih tepatnya esok hari. Siang ini, Liana datang ke pemukiman nelayan dan mencari keberadaan si kecil Paulo yang biasanya akan kembali ke tengah laut setelah selesai mengantar dan mengambil cucian, serta beberapa kebutuhan lainnya.
Seperti biasa, anak kecil itu selalu menambatkan perahunya di tempat yang agak jauh dari tempat nelayan lain menambatkan milik mereka.
Liana berjalan mendekat ke arah perahu bernama Tinkerbell itu, dan duduk di atasnya. Tak berselang lama, nampak anak kecil yang membawa dua kantung plastik besar berjalan ke arahnya.
“Hai,” sapa Liana dengan lambaian tangan ke arah si anak kecil itu.
Si kecil Paulo berhenti sejenak saat melihat keberadaan Liana di atas perahunya. Dia nampak sama seperti sebelumnya, tak acuh dan cenderung dingin pada Liana.
Dia melempar begitu saja sebuah plastik besar yang penuh isi ke atas perahu, membuat Liana berteriak karena harus menangkap benda tersebut dan menahan keseimbangan perahu.
“Anak kurang ajar! Apa kau mau mencelakai ku?” maki Liana.
“Salah mu sendiri yang ada di sana,” sahut Paulo.
Anak kecil itu pun kemudian naik ke atas kapal dan menyalakan mesinnya. Dia membawa Liana ke tengah laut, tepatnya ke rumah panggung milik Q.
“Apa yang kau bawa ini?” tanya Liana.
Gadis itu melihat dua kantong plastik besar di depannya, dan mengintip sedikit ke dalam.
“Itu pakaian ayahmu dan pelayan wanita itu. Ada juga bahan makanan dan obat,” jawab Paulo.
Liana diam. Dia menatap punggung kecil itu yang sedari tadi terus membelakanginya. Meski sikap Paulo selalu saja kasar padanya, dan sering bersikap seenaknya saja, namun tak dipungkiri jika peran anak ini sangat penting dalam upaya menyembunyikan ayahnya selama ini.
“Hei, bocah. Aku sebentar lagi akan pergi jauh. Kau baik-baik saja di sini. Jaga ayahku dan kakak ku itu,” ucap Liana.
__ADS_1
“Berisik!” sahut Paulo ketus.
“Apa?! Hei, aku cuma sedang berpamitan denganmu. Bisa tidak sikapmu tidak terus-terusan menyebalkan seperti ini,” keluh Liana kesal.
“Bukankah dia adalah ayah mu? Kenapa tidak kau saja yang menjaganya? Kenapa harus aku? Kenapa orang dewasa selalu saja bersikap egois? Kenapa mereka suka sekali meninggalkan keluarganya?” cecar Paulo.
Liana mengerutkan keningnya mendengar anak itu seperti sedang merengek, karena sebentar lagi akan ditinggal pergi.
“Hei, bocah. Kau akan mengerti nanti saat kau sudah beranjak dewasa,” ucap Liana
“Aku tidak mau jadi dewasa. Orang dewasa itu menyebalkan! Egois!” sahut Paulo ketus.
“Mana mungkin. Mau tak mau pasti kau akan tumbuh dewasa juga,” balas Liana.
“AKU TAK MAU JADI DEWASA. APA KAU DENGAR, B*DOH?” pekik Paulo.
“Dasar anak yang aneh. Tidak mau ya sudah. Jangan selalu memanggilku dengan sebutan b*doh juga. Aku tidak b*doh! Menyebalkan!” gumam Liana.
Paulo tak lagi menanggapi ocehan Liana dan hanya fokus mengemudikan kapalnya. Perjalanan pun dilalui dengan keheningan. Hingga beberapa saat kemudian, mereka telah tiba di tepi pantai.
Paulo turun lebih dulu membawa semua barang bawaannya, dan membiarkan Liana kesulitan turun dari atas kapal. Gadis keras kepala dan sombong itu tak mau meminta bantuan kepada anak tersebut, meski dia sangat kesulitan menuruni kendaraan air itu.
Dari kejauhan, Ella melihat kedatangan Paulo dan juga Liana, lalu kemudian berjalan menghampiri ke arah pantai. Paulo melewatinya begitu saja dengan wajah yang masih kesal dengan perkataan Liana.
“Ada apa dengan anak itu? Apa mungkin mereka berdua bertengkar lagi? Ya ampun!” gumam Ella yang sudah tahu akan kebiasaan mereka berdua itu.
Dia pun berjalan mendekat ke arah perahu dan membantu nonanya untuk turun.
__ADS_1
“Hah... Trimakasih, Kak. Anak si*lan itu benar-benar kurang ajar! Awas kalau kau sudah dewasa, akan ku hajar kau!” oceh Liana.
Ella hanya bisa tersenyum melihat kelakuan Liana yang seperti anak kecil, saat harus berhadapan dengan Paulo.
Tiba-tiba, Liana mendekat dan memeluk Ella.
“Aku merindukan mu, Kak,” ucap Liana.
“Aku juga. Bagaimana kabar mu, Nona?” tanya Ella.
Liana mengurai pelukannya.
“Aku baik. Apa Kakak bosan di sini?” tanya Liana kemudian.
“Tidak sama sekali. Ayo masuk! Kau pasti ingin melihatayahmu, bukan,” ajak Ella.
Liana menganggu pelan. Pelayan itu pun kemudian menggandeng Liana, dan berjalan melewati jalan kayu yang mengapung di atas air, menuju ke rumah panggung itu.
.
.
.
.
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar yah😘