Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Baiklah, kita menikah


__ADS_3

“Maafkan aku, Sweety. Aku memang sudah Keterlaluan,” ucap Falcon.


“Apa kau tau, aku takut kau tak bisa memaafkanku karena masalah itu. Aku takut kau akan membenciku selamanya. Kau benar-benar menyiksaku. Bagaimana mungkin ada orang yang merawat pasien tanpa tersenyum sedikitpun? Bagaiman kalau mentalku yang sakit? Kau harus ganti rugi,” cerocos Liana di sela tangisnya.


Falcon mengurai pelukannya dan menangkup kedua pipi gadis itu.


“Kau mau ganti rugi?” tanya Falcon.


Matanya menatap mata gadis itu yang telah penuh dengan lapisan bening. Wajahnya mendekat, dan miring ke kanan. Sebuah kecupan manis mendarat di bibir gadis itu.


Sejenak, namun terasa begitu hangat hingga seluruh tubuh pun merasakan kehangatannya.


“Itu ganti rugi dariku,” ucap Falcon setelahnya.


Namun Liana menggeleng.


“Itu masih belum cukup,” tepisnya.


Gadis itu tiba-tiba melingkarkan kedua lengannya di leher Falcon, dan mendekat ke arah pria itu. Liana pun kembali mencium Falcon. Pria itu kemudian membalas ciuman tersebut dengan meraih pinggang Liana.


Bibir mereka saling memagut, menikmati hangatnya perasaan yang saat ini menggelora di dada. Rasa rindu dan rasa tenang karena berada di sisi orang yang mereka sayangi.


Rasa syukur mereka karena berhasil melewati semua masalah dan bahaya yang menimpa.

__ADS_1


Lidah mereka saling membelit, bertukar saliva, menyesap manisnya rasa kasih sayang yang mereka curahkan satu sama lain.


Ciuman itu semakin dalam. Falcon menekan pinggang gadis itu agar semakin menempel padanya, dengan sebelah tangan yang menahan tengkuk Liana.


Gadis itu merem*as rambut belakang Falcon. Sesekali erangan lirih terdengar dari mulut gadis itu, saat prianya memberikan gigitan kecil di bibirnya.


Semakin lama, Falcon semakin berha*srat, hingga celananya terasa menjadi sesak di pangkal pahanya.


Pria itu pun menyudahi aksinya, karena tahu jika ini adalah batasan bagi mereka. Dia tak mau menyakiti Liana, dan masih bersabar menunggu hingga waktunya tiba.


Nafas keduanya terengah-engah. Kening mereka bersatu dan senyum mengembang di bibir mereka berdua.


“Honey, ayo kita menikah,” ucap Liana.


“Yah, bukankah kau bilang setelah semua berakhir, kau akan menikahiku?” jawab Liana.


Senyum di wajah Falcon pun semakin merekah. Pria itu kembali mendekap erat tubuh sang gadis dan memberinya kehangat, setelah semua sikap dingin yang ia berikan selama sepekan terkahir.


“Baiklah. Ayok kita menikah,” ucap Falcon.


Liana pun membalas pelukan sang pria dengan tak kalah erat. Hari itu, benar-benar menjadi hari terindah, layaknya pelangi yang muncul setelah semua badai yang melanda.


...👑👑👑👑👑...

__ADS_1


Keesokan harinya, Liana yang sudah dijanjikan pulang, merasa tak sabar ingin segera keluar dari tempat berbau antiseptik itu.


Kakek Joseph ingin sekali datang dan ikut menjemput Liana. Namun, gadis itu melarang sang kakek untuk datang.


“Cucu macam apa kau ini? Kakekmu ini sangat senang kau bisa keluar dari sana dan pulang ke rumah, tapi kau malah melarang kakek mu datang menjemputmu. Apa mentang-mentang kau sudah punya Tuan muda kelima Harvey, jadi kau sudah tak butuh kakekmu lagi, begitu,” cecar Kakek Joseph.


Liana sampai harus menutup telinga dan menjauhkan ponsel dari indra pendengarannya, karena kerasnya suara sang kakek berteriak padanya.


“Bukan begitu, Kakekku sayang. Aku hanya ingin memudahkan Kakek saja. Ingat, Kakek sudah hampir setiap hari menjenguk dan menemaniku di sini. Aku takut Kakek akan sakit nanti. Hari ini aku pulang, jadi Kakek tinggal tunggu saja aku di rumah,” ucap Liana.


“Tapi, kau benar-benar akan tinggal di Dream Hill bukan?” tanya Kakek Joseph memastikan.


.


.


.


.


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘

__ADS_1


__ADS_2