
Liana melihat ke layar ponsel nya. Begitu banyak panggilan tak terjawab dari nomor asing yang tak dia ketahui.
Gadis itu pun mencoba mengingat-ingat suara yang sempat di dengarnya, sebelum pergi dari rumah Kakek Joseph.
Namun tiba-tiba, dering telepon membuyarkan lamunannya. Dia melihat ke layar datar tersebut, dan di sana jelas tertera nomor baru yang sedang dipikirkannya.
Liana mengerutkan kening, hingga alisnya hampir menyatu.
“Dia menelpon lagi? Siapa sih orang ini?” gumam Liana.
Gadis yang selalu merasa penasaran akan hal apapun itu pun, melepas kabel pengisian daya dari ponselnya, dan menggeser tombol hijau ke kanan, untuk menerima panggilan tersebut.
Meski ragu-ragu, Liana menempelkan benda pipih itu ke depan telinganya.
“Halo,” sapa Liana.
Tak terdengar jawaban langsung dari seberang. Gadis itu pun mulai kebingungan, dan hendak berkata lagi.
Namun, baru saja dia membuka mulut, sebuah sahutan terdengar.
“Kemana saja kau?” ucap suara di seberang.
Liana mengerutkan keningnya, dan mencoba mengenali suara tersebut. Dia terus diam sambil berpikir, dan membuat orang di seberang pun kembali bertanya.
“Di mana kamu sekarang? Apa masih terjebak di Metropolis? Sudah menemukan jejak Vivian?” tanyanya lagi.
Liana samar-samar mulai mengenali suara itu. Dia pun kemudian menganalisa, siapa yang kira-kira tau dirinya saat ini berada di Metropolis.
Aku kemari atas perintah Kakek, tapi itu jelas bukan suara Kakek atau Paman Jimmy. Chris? Tida mungkin. Aku bahkan tak pernah memberinya nomorku, dan dia tak ada hubungannya dengan masalah Ibu Vivian. Hanya tersisa satu orang, yang bisa dengan mudah tau aku di mana, dan sedang mencari siapa, batin Liana.
“Apa itu kau, Falcon?” tanya Liana.
“Ya, ini aku. Kenapa kamu sulit sekali di hubungi?” tanya Falcon dengan suara beratnya, berusaha menghilangkan nada marah namun tetap saja terdengar.
“Maaf. Ponselku kehabisan baterai dan di sini ada pemadaman dari semalam. Aku baru bisa men-charge nya sekarang, itu pun di mobil,” jelas Liana.
Tunggu dulu... Brengs*k! Kenapa aku harus menjelaskan ini padanya sih? Siapa dia? Apa urusan ku dengannya? gerutu Liana dalam hati.
“Di mana kamu bermalam semalaman tadi? Badai sangat besar, kamu tidak mungkin tidur dalam mobil, dan menunggu badai reda kan?” tanya Falcon.
“Apa kau pikir aku bodoh? Lagipula, untuk apa kau bertanya begitu? Apa pedulimu?” jawab Liana.
Gadis itu mengelak dari terkaan Falcon, meski sebenarnya dia hendak bermalam di dalam mobil, karena sudah kehabisan kamar hotel.
__ADS_1
Dia enggan menjawab yang sesungguhnya, jika dia bermalam di tempat seorang pemuda. Entah apa yang Liana pikirkan. Antara menjaga image nya atau menutupinya karena ada alasan lain.
“Ada apa kau menelpon?” tanya Liana ketus.
Dia berusaha mengalihkan pembicaraan Falcon, yang seolah menginterogasi nya sedari tadi.
“Ada hal penting yang harus kau tau,” sahut Falcon.
Dari kejauhan, Liana melihat jika para petugas lalu lintas sedang mulai membuka barikadenya. Dia pun bisa bernafas lega karena sudah dapat melintasi jalur tersebut.
“Maaf, tapi aku sibuk. Jika ada hal penting, kita ketemu di Grey Town saja. Aku akan ke sana sekarang,” ucap Liana.
Gadis itu bahkan hendak mematikan telponnya, namun Falcon segera menghentinkan.
“Jangan ke mari!” seru Falcon setengah berteriak.
Hal itu seketika membuat gerakan Liana terhenti, dan kembali mendengarkan pria di seberang sana.
“Jangan kemari! Pergilah ke Dream Hill sebelum terlambat!” ucap Falcon.
Liana tak paham dengan apa yang dimaksud oleh pria itu.
Terlambat? Apa maksudnya? Apa sesuatu terjadi pada Kakek? batin Liana.
“Jalan sudah terbuka. Pergilah ke dream hill sekarang,” seru Falcon sekali lagi.
Sambungan itu kemudian terputus. Liana tak bisa menebak apa maksud dari kata-kata Falcon barusan. Yang dia tangkap adalah mungkin saja sesuatu telah terjadi pada kakeknya.
Gadis itu pun segera melajukan mobil keluar dari Metropolis, dengan membawa semua harta karun miliknya, serta kotak kayu yang ditinggalkan oleh Lilian saat sebelum dia meninggal.
...👑👑👑👑👑...
Grey town, Falcon saat ini telah kembali ke markas. Di sana, dia disambut oleh teman-tamannya dengan berbagai macam pertanyaan.
“Dari mana saja kau, Bos? Pergi sendirian tak bilang-bilang. Bagaimana kalau ada geng lain yang mengetahui kamu pergi tanpa penjagaan?” cecar Long yang memang selalu cerewet.
Mungkin sifatnya ini karena dia sering berurusan dengan para wanita malam, sehingga dia bersikap selayaknya seorang mucikari yang banyak bicara.
Mereka semua panik, saat harus terbangun dari mabuknya dan justru mendengar jika ketua mereka pergi seorang diri tanpa pengawalan.
Mereka masih harus berhati-hati, karena banyak kelompok yang mengincar posisi mereka di grey town, dan mencari saat di mana mereka lengah dan menyerang langsung ketua mereka hingga sekarat.
Namun, keputusan Falcon yang gegabah itu, membuat semuanya cemas dan kalang kabut mencari kesana-kemari keberadaan ketua mereka sedari pagi. Hingga akhirnya, mereka mendengar jika mobil yang ditumpangi oleh Falcon, tengah melaju menuju ke arah kota Metropolis.
__ADS_1
“Apa kau bermaksud menyusul gadis itu, Bos?” tanya Nine.
“Long, aku butuh bantuanmu,” seru Falcon.
...👑👑👑👑👑...
Sementara di tempat lain, nampak mobil Chevrolet milk Liana, tengah melesat di jalan menuju ke arah dream hill, karena mendengar kata-kata Falcon yang sepertinya terdengar begitu serius.
Dia bahkan mengesampingkan tujuannya pulang ke negara bagian A untuk menemui bibinya, karana merasa khawatir dengan kondisi Kakek Joseph yang ternyata adalah kakeknya sendiri.
Dia ingin menghubungi seseorang di rumah besar itu, namun di sana tak ada seorang pun yang diperbolehkan untuk menggunakan alat komunikasi apapun, dan secara praktis terputus dari dunia luar.
Tak ada cara lain bagi Liana, untuk mengetahui kabar kakek tua itu, selain bergegas menuju ke tempat tinggalnya di dream hill.
Selama perjalanan yang cukup melelahkan, Liana bahkan belum sempat mengisi perutnya yang kosong sedari kemarin. Dia pun harus menggunakan sepatu milik Christopher, yang ukurannya sedikit kebesaran di kakinya, karena dia lupa membawa miliknya yang masih berada di tempat Kakek Joseph.
Empat jam lebih Liana berkendara dari Metropolis ke dream hill, akhirnya gerbang besi hitam kediaman kakek tua itu terlihat.
Liana segera membukanya dengan remote yang ia miliki, dan segera menuju ke depan pintu masuk. Dia bahkan tak memarkirkan mobilnya di tempat yang seharusnya.
Dia bergegas berlarian masuk begitu saja ke dalam rumah besar itu, tanpa mengetuk pintu terlebih dulu, dan mengagetkan pelayan yang tengah berada tak jauh dari ruang tamu.
“Lilian!” seru Debora yang kesal melihat tingkah seenaknya dari gadis itu.
“Maaf, Nyonya. Tapi, aku ingin segera bertemu dengan kakek. Di mana dia?” tanya Liana terburu-buru dan begitu bersemangat.
Belum sempat Debora menjawab, terdengar suara tawa yang berasal dari tangga. Liana pun seketika menoleh dan hendak berlari menghampiri kakeknya. Dia begitu tak sabar ingin mengungkapkan siapa dirinya sebenarnya pada pria tua itu.
Namun, langkahnya tiba-tiba terhenti, dan senyumnya seketika menghilang, saat dia melihat seorang gadis muda tengah merangkul lengan kakek Joseph dan tertawa begitu akrab.
.
.
.
.
Maaf, malem banget baru bisa up🙏tapi tetep ku usahakan sehari 3 bab ya😁masih kurang se bab segera meluncur😘
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘
__ADS_1