
“Bagaimana makan malam dengan pria tua bangka itu?” tanya Falcon.
Nampak Liana tengah menyesap sampanye di gelasnya, sebelum menjawab pertanyaan dari lawan bicara di depannya.
“Cukup menyenangkan. Setidaknya, aku tidak rugi menghabiskan waktu untuk berkata baik kepada seseorang. Tidak seperti saat ini,” ucap Liana menyindir Falcon.
“Benarkah? Kalau aku tak berguna, untuk apa waktu itu kau malam-malam pergi ke Grey Town? Bahkan sampai dikejar-kejar oleh orang-orang,” balas Falcon.
“Oh, jadi kau mau mengungkit hal itu? Bukankah waktu itu, kau tidak mau membantuku? Sudah jelas kalau kau tidak berguna,” ucap Liana.
“Bukan hanya saat itu. Kau juga memintaku untuk membawa mu pergi saat di depan rumah sakit. Aku bahkan menyuapimu saat berada di tempatku,” ucap Falcon.
Seketika itu juga, Liana tersedak minumannya karena kata-kata Falcon tadi.
“Pelan-pelan saja. Tidak usah bersemangat begitu mengingatnya,” sindir Falcon.
Liana berusaha menghentikan batuknya. Gadis itu sangat malu karena telah bersikap konyol di hadapan seorang pria.
“Ehem. Sayangnya, aku tidak ingat,” kilah Liana setelah dia sudah kembali tenang.
Nampak senyum tipis di wajah Falcon, saat gadis itu terus saja berkilah di depannya.
Tak berselang lama, seorang pelayan datang dan membawa makanan pesanan mereka. Liana merasa tertolong, karena dia mengira jika Falcon akan berhenti menggodanya.
“Makanlah. Aku yakin di sana kau makan tak cukup kenyang. Aku sangat tau kalau n*fsu makanmu sangat besar,” ucap Falcon yang ternyata lagi-lagi menggoda gadis itu.
“Siapa bilang. Kau pasti mengarang,” sanggah Liana.
“Hei, aku lihat sendiri. Kau bahkan menghabiskan semangkuk penuh bubur. Bahkan setelahnya, kau menghabiskan sepiring puding, pai buah, bahkan black Forest yang di belikan oleh Long,” balas Falcon.
“Itu semua karena.... Karena...,” ucap Liana terbata.
Wajahnya seketika memerah, saat mengingat lagi kejadian di mana Falcon menyuapi nya dengan cara yang aneh, dari mulut ke mulut, hanya karena dia tak mau membuka mulutnya untuk makan.
Falcon pun lagi-lagi berusaha menahan senyumnya, saat melihat gadis itu terlihat salah tingkah.
“Sudahlah. Ayo kita makan. Steak ini tidak akan enak kalau sudah dingin,” seru Falcon berbaik hati kepada gadis itu.
Liana pun segera memakan makanannya, dan tidak lagi berdebat dengan Falcon. Entah kenapa, setiap kali berhadapan dengan pria satu itu, Liana selalu saja kalah berdebat.
Sangat berbeda ketika dia berbicara pada orang lain, bahkan Kakek Joseph pun selalu bisa ia debat.
Seusai makan, kini mereka sedang menunggu pencuci mulut.
“Hutang ku sudah lunas. Jadi, jangan menagih pada ku terus,” ucap Liana ketus.
“Aku tidak yakin,” sahut Falcon.
Liana mencebik kesal, karena pria di hadapannya itu seolah tak mau melepaskannya dan akan selalu menganggu dirinya.
Namun, dia kembali teringat dengan kejadian tempo hari, saat dia dipanggil ke Dream Hill karena masalah Jessica di proyek.
“Ah, benar. Ada yang ingin ku tanyakan padamu,” ucap Liana.
“Apa?” tanya Falcon.
__ADS_1
“Tempo hari, saat kau datang ke proyek, bukankah kau melihat kejadian saat aku menolong pelacur itu?” ucap Liana.
Falcon hanya menganggukkan kepalanya, sambil melipat kedua tangan di depan dada, dengan mata yang terpejam.
“Lalu, apa kau yang mengirimkan foto kejadian itu kepada Paman Jimmy?” tanya Liana.
Falcon nampak diam. Kali ini, dia tak langsung menjawab, melainkan seolah sedang berpikir. Tiba-tiba, matanya terbuka dan menatap ke arah Liana.
“Menurutmu?” yanga Falcon balik.
“Sepertinya benar kalau itu kau. Siapa lagi yang usil dan berbuat seperti itu. Tapi, berkat mu, aku bisa membalikkan posisi,” sahut Liana.
“Jadi, ada ucapan terimakasih lain lagi bukan?” tanya Falcon.
Liana kenbali mencebik kesal.
“Kau ini. Selalu saja mencari kesempatan untuk menggangguku. Apa kau tidak punya pekerjaan lain lagi?” keluh Liana.
Falcon tertawa melihat wajah kesal gadis di hadapannya. Entah kenapa, Falcon yang terkenal begitu garang dan kejam dimata anak buah dan juga lawan-lawannya, sangat berbeda ketika berhadapan dengan Liana.
Sisi jahil serta lembutnya keluar dengan sendirinya. Bahkan, dia seolah ingin terus untuk menggoda Liana di setiap kesempatan.
Seusai makan malam, Falcon menawarkan diri untuk mengantarkan Liana pulang. Hari sudah begitu malam dan sangat berbahaya jika seorang gadis sendirian di luaran.
Awalnya, Liana menolak. Namun, Falcon selalu memiliki cara untuk memaksa gadis itu agar mau menerima semua ucapannya.
Akhirnya, Liana pun menyerah dan membiarkan pria itu untuk mengantarkannya pulang.
“Memangnya tadi kau kemari naik apa?” tanya Liana.
“Ah, b*dohnya aku menanyakan hal itu,” ucap Liana merasa sudah salah bertanya seperti tadi.
Falcon hanya tersenyum mendengarkan perkataan Liana barusan. Pandangannya terus tertuju ke depan, namun telinganya seolah siap siaga untuk mendengar setiap perkataan dari Liana.
“Lalu, di mana kendaraanmu sekarang?” tanya Liana lagi.
“Dibawa Nine pulang,” jawab Falcon dengan entengnya.
Sedangkan Liana, gadis itu nampak terkejut dan seketika menegakkan duduknya, kemudian menoleh lurus ke arah pria yang kini sedang memegang kemudi.
“Apa?” tanya Liana.
Falcon menoleh sekilas, dan kemudian kembali fokus ke depan.
“Kenapa memangnya?” tanya Falcon balik.
“Lalu, bagaimana kau akan pulang setelah mengantar ku?” tanya Liana kemudian.
“Siapa bilang aku akan pulang? Kau kan sudah pernah menginap di tempat ku. Bahkan sudah pernah melihat tempat rahasiaku. Jadi, sekarang giliran kau menampung ku selama semalaman,” jawab Falcon dengan entengnya.
“Kau gila! Tidak bisa. Aku tidak mengijinkan mu masuk ke apartemenku,” seru Liana cepat.
“Baiklah. Kalau begitu aku akan tidur di depan pintu apartemen mu saja,” sahut Falcon.
“Yang benar saja. Para tetangga pasti akan mengira aku ini kejam, kalau melihatmu tidur di depan apartemen ku,” sanggah Liana.
__ADS_1
“Ya sudah. Makanya ijinkan aku masuk,” sahut Falcon.
“Kau ini licik sekali, Tuan,” keluh Liana.
Liana pun diam. Percuma dia berdebat, jika selalu saja kalah dari pria itu.
Di tengah jalan, sebuah panggilan terdengar masuk ke dalam ponselnya. Liana pun mengambilnya dari dalam tas, dan melihat nama Kakek Joseph tertera di layarnya.
Falcon nampak melirik sekilas, namun kemudian dia kembali tak acuh dan fokus ke depan.
Liana pun menerimanya dan menempelkan benda pipih itu ke depan telinga.
“Halo, Kek,” sapa Liana.
“Lilian, apa Jessica bersama mu?” tanya kakek Joseph.
“Tidak, Kek. Dia bahkan tidak ikut makan malamnya,” tutur Liana.
“Kenapa? Lalu, di mana dia sekarang?” tanya Joseph.
“Aku tak tau di mana dia, Kek. Tapi untuk makan malam tadi, besok aku akan jelaskan secara langsung pada Kakek di rumah,” Jawab Liana.
“Baiklah. Kalau begitu, aku akan meminta Jimmy untuk mencarinya. Apa kau sudah sampai apartemen?” tanya Joseph.
“Aku masih di jalan. Tadi ada urusan di tempat lain,” jawab Liana.
“Berhati-hatilah. Ini sudah sangat larut,” seru Kakek Joseph.
“Baik, Kek,” sahut Liana.
“Aku masih harus mencari Jessica. Kau cepatlah pulang,” ucap Joseph.
“Iya, Kek. Kalau begitu, aku tutup dulu,” sahut Liana.
Setelah panggilan terputus, raut wajah Liana yang tadi terlihat ceria, seketika berubah sendu. Falcon yang berada di sampingnya pun bisa merasakan hal itu.
Tanpa sadar, tangannya terulur dan mengusap lembut puncak kepala Liana. Seketika itu, dada Liana menghangat, dan degupan jantungnya berubah cepat.
Dia menoleh ke arah pria di sampingnya, dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
.
.
.
.
Sudah 3 bab hari ini ya😁jangan minta lagi🤭tunggu besok, oke😄
Kasih kopi apa kembang napa guys, biar othor semangat gitu🤭
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘
__ADS_1