Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Mempermalukan


__ADS_3

“Kau apa? Kau b*doh? Kau t*lol? Kau apa?” maki Liana dengan sangat keras.


Bahkan, setiap pekerja yang berada di dekat mereka pun menghentikan kegiatan, dan menyaksikan kejadian tersebut.


“Jaga bicaramu, Lilian. Aku hanya ingin ...,” sahut Jessica.


“Ingin apa? Mendisiplinkan ku? Memangnya siapa kau? Bagian personalia? Atau mungkin, kau mau membalas ku atas kejadian tempo hari? Apa kau belum sadar di mana salahmu, hah?” bentak Liana.


Dia lagi-lagi menyela omongan Jessica, dan membuat gadis itu hanya bisa diam dan seketika nyalinya menciut di hadapan Liana.


“Lihat dirimu! Kedatanganmu kesini saja sudah salah. Apa urusanmu di tempat seperti ini? Ditambah penampilanmu ini? Rok mini, atasan berkerah lebar, dada terbuka, warna mencolok, sepatu high heels, apa kau mau menggoda para pekerja kami?” lanjut Liana.



Dia maju selangkah. Tangannya naik dan dengan telunjuknya, dia mendorong-dorong pelipis Jessica. Liana benar-benar merendahkan gadis itu di depan semua orang.


“Kau tau, dari semua itu, yang paling b*doh adalah kau sama sekali tak mendengarkan penjaga, saat dia memintamu mengenakan peralatan keselamatan. Apa kau takut helm ini menggangu penampilanmu? Apa kau takut sepatu boot membuatmu terlihat tidak modis? Otak mu di taruh dimana sih? Coba kau pikir, kalau aku tidak menolong mu tadi, kepala mu sudah pasti pecah karena tertimpa batu ata yang jatuh itu,” ucap Liana.


Jessica benar-benar tak bisa berkutik. Dia hanya bisa diam saat dipermalukan seperti itu oleh Liana. Dia pun bisa melihat para pekerja menyaksikan dirinya diperlakukan seperti itu.


“Pulanglah! Kau tidak seharusnya berada di sini!” Pungkas Liana.


Jessica menunduk. Pandangannya kabur karena dia hampir menangis. Dia pun berlari menyingkirkan Liana dari hadapannya, dan menuju ke mobil barunya, yang baru beberapa hari dibelikan oleh Kakek Joseph.


Nampak beberapa pekerja masih melihat ke arahnya.


“Apa kau lihat-lihat! Jangan coba-coba mengejekku. Aku ini cucu Tuan Wang. Kau tau! Aku cucu bos kalian!” ucap Jessica masih berusaha meninggikan gengsinya.


Dengan kasar, dia menyeka air matanya yang jatuh dan masuk ke dalam mobil.


...👑👑👑👑👑...


Di dalam area konstruksi, nampak Liana yang masih berdiri di tempat, sambil melihat mobil Jessica pergi meninggalkan wilayah tersebut.


Dia hanya bisa menghela nafas berat, saat gadis yang telah merebut posisinya pergi, dan menyisakan perasaan getir di dalam dada Liana.


Meski awalnya dia terlihat begitu garang dan berani di depan Jessica, namun tak dipungkiri jika hati Liana selalu sakit, terlebih saat dia harus terus berpura-pura menjadi orang lain.


Keinginannya untuk menyingkirkan kedua wanita itu secara permanen begitu kuat. Dia tak ingin jika bertindak gegabah, dan asal mengungkapkan kebenaran. Liana ragu jika hasilnya akan benar-benar sesuai yang diharapkannya.


Gadis itu pun berusaha untuk tetap menjadi Lilian Wu sementara ini, dan menyembunyikan identitas aslinya sebagai Liana.

__ADS_1


Hanya Falcon dan Christopher saja yang sudah mengetahui siapa dia. Bahkan, Liana belum tau jika sang senior telah menyadari hal tersebut.


Sirine jam istirahat berbunyi, menandakan jika tiba waktu makan siang untuk para pekerja proyek.


Liana pun berbalik hendak menghampiri para pekerja, dan seperti biasa, dia selalu ikut berbaur dan berbincang dengan mereka di sela-sela makan siang


Namun, saat dia mengangkat tangannya hendak melepaskan helm keamanan, lengan kanannya terasa nyeri dan pedih.


Dia pun mencoba melihatnya. Rupanya, lengan bajunya koyak dan terlihat jika ada luka di sana.


Ternyata, saat dia jatuh ketika menolong Jessica tadi, dia terluka hingga bajunya robek. Liana pun urung untuk menghampiri para pekerja, dan memilih untuk kembali ke dalam mobil.


Liana melepas kemeja luarnya, dan menyisakan sebuah tanktop putih polos. Dia mengambil kotak P3K, lalu kemudian mencoba mengobati luka yang terlihat cukup besar itu.


“Ssshhh! Si*l! Tau begini, aku tak akan menolongnya tadi,” keluh Liana kesal karena sudah menolong Jessica.


Saat dia tengah membersihkan lukanya dengan alkohol, tiba-tiba seseorang mengetuk kaca mobilnya dari luar. Seketika itu, Liana pun menoleh dan begitu terkejut dengan sosok yang tengah berdiri di depannya.


Dengan suara yang bahkan tak terdengar, Liana bisa dengan jelas membaca gerak bibir orang itu.


Liana lagi-lagi menghela nafas berat, dan kembali mengurus lukanya tanpa menggubris orang tersebut.


Namun, pintu mobil dibuka dan orang itu justru masuk begitu saja ke dalam.


Liana masih sibuk dengan lukanya dan enggan untuk melihat ke arah orang itu.


“Untuk apa kau di sini? Apa Grey Town baik-baik saja tanpa mu? Oh ... Aku lupa. Disana selalu aman setiap siang hari,” sahut Liana pada orang yang tak lain adalah ketua gangster terbesar di Grey Town.


“Aku hanya ingin menagih bayaran ku tempo hari,” ucap Falcon.


Liana mengernyitkan keningnya, seolah mencoba mengingat hal yang dimaksud oleh pria di sampingnya.


Gadis itu pun mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Falcon.


“Bayaran apa?” tanya Liana.


“Ayolah. Kau sendiri yang menyetujuinya. Kau ingat, saat aku bersedia menjadi supir mu, bukankah ku bilang itu tidak gratis,” gerutu Falcon.


“Oh... Waktu itu ...,” sahut Liana.


Namun, Kata-katanya terhenti, saat pandangannya tiba-tiba menatap lurus ke arah bibir tebal pria itu. Seketika, kejadian ketika Falcon menyuapi nya dengan mulut, kembali teringat.

__ADS_1


Liana tanpa sadar mengul*m bibir bawahnya, seakan sentuhan itu masih tersisa di sana.


Wajah Liana seketika memerah dan terasa hangat. Gadis itu pun segere menggelengkan kepalanya cepat, dan kembali mengalihkan perhatiannya pada luka di sikunya.


Saat alkohol kembali menyentuh lukanya, Liana mendesis karena merasakan perih.


Falcon pun akhirnya meraih kapas yang sedari tadi dipegang oleh Liana.


“Kemari! Biar ku bantu,” seru Falcon.


Liana mencoba menolak, namun Falcon seketika menarik lengan Liana, dan membuat gadis itu semakin mengaduh.


Kemudian dengan lembut, Falcon mengobati luka Liana. Berkali-kali suara desisan Liana terdengar, menandakan jika gadis itu tengah kesakitan.


“Harusnya, kau biarkan saja dia celaka tadi. Kenapa malah bertindak sok pahlawan?” sindir Falcon.


“Kau mau aku dituduh sengaja mencelakai nya? Dia itu licik. Kalau aku membiarkannya, sekalipun itu kecelakaan, pelacur itu pasti akan melemparkan kesalahan padaku, dan membuatku ditendang keluar dari mansion Wang. Aaaarggggghhhh!” ujar Liana yang berakhir pekikan keras.


Falcon seolah sengaja menekan luka Liana sedikit keras, agar gadis itu berhenti mengoceh. Tampak senyum tipis muncul di wajah pria itu, namun dia buru-buru menghilangkannya.


Saat semua luka sudah terlumuri cairan obat, Falcon pun menutupnya dengan perban agar lukanya tidak terkena debu, mengingat kegiatan Liana yang selalu berada di area pembangunan, yang sudah pasti banyak partikel halus dari semen dan pasir, yang beterbangan tetiup angin.


Namun, dia tak menemukan plester di sana. Hal ini mengingatkan mereka dengan kejadian saat Liana mengobati Falcon di Hotel Emerald, tempo hari.


Falcon meraih sesuatu dari saku celananya, dan mengikatkan benda tersebut ke atas perban yang menutup luka di atas lengan kanan Liana


“Ku kembalikan syal kesayangan mu ini. Rupanya, dia lebih beguna menjadi pembalut luka,” sindir Liana.


Gadis itu tak merespon. Entah kenapa, hatinya meras aneh saya mendapat perlakuan seperti itu dari seseorang.


.


.


.


.


Maaf menunggu lama🤭hari ini up 3x seperti biasa ya guys😁berrti kurang 2 lagi😊


Ada yang mau kasih kopi? biar mata othor melek nih😄

__ADS_1


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2