
Sebulan sudah berlalu, dan suasana kini begitu terasa tenang. Damian akhirnya divonis hukuman dua puluh lima tahun penjara, atas tindak penipuan dan penggelapan yang dilakukannya kepada beberapa perusahaan termasuk Wang Construction.
Liana dan Christopher berusaha begitu keras untuk memunculkan bukti-bukti baru, yang bisa memberatkan dan mempercepat sidang pengadilan Damian.
“Akhirnya, kita bisa menjebloskan dia untuk waktu yang lumayan lama,” ucap Christopher.
Saat ini, mereka berdua tengah duduk berhadapan di salah satu meja caffe, yang berada di dekat area proyek apartemen warga yang telah memasuki tahap finishing.
Liana sekarang bahkan lebih sering mengawasi jalannya proyek Golden Hospital, yang akan segera dimulai beberapa hari lagi.
“Tapi, aku merasa kalau hukumannya kurang berat. Aku ingin dia dikurung seumur hidup, kalau perlu tembak mati sekalian,” sahut Liana sambil menyedot es kopi miliknya.
“Wah! Kejam sekali kau, Nona. Dua puluh lima tahun itu sudah sangat lama. Mungkin saja dia akan jatuh sakit dan bahkan mati dengan sendirinya di penjara. Aku rasa itu sudah sangat berat untuknya,” sanggah Christopher.
“Entahlah. Tapi aku merasa kurang puas dengan hasilnya,” sahut Liana.
Dia kembali menyedot es kopi, sambil melempar pandangan keluar jendela.
“Lilian,” panggil Christopher.
Liana pun seketika menoleh, dengan sedotan yang masih menempel di bibirnya.
“Hem?” gumamnya.
“Apa malam ini kau senggang?” tanya Christopher.
Liana melepas sedotan di mulutnya, dan memicingkan matanya ke arah pemuda itu
“Jangan coba-coba untuk mengajakku berkencan!” seru Liana.
“Hah? Hahahhaha... Rasa percaya diri macam apa ini? Hei, Nona. Aku hanya ingin minta traktiran darimu, karena sudah membantumu selama sebulan terakhir ini. Hah, kencan? Yang benar saja!” ucap Christopher.
Liana kembali menyandarkan punggungnya di kursi, dengan melipat kedua lengannya di atas dada.
“Bisa saja kan saat ini kau hanya mengelak, karena tertangkap oleh ku lebih dulu, hah?!” ejek Liana.
“Memangnya kalau aku bilang begitu, kau akan mau menerima nya?” tanya Christopher.
“Big No!” sahut Liana ketus.
“Lihatkan?!Aku sudah tau hal itu. Jadi, mana mungkin aku mendekati gadis freezer sepertimu. Bisa-bisa aku mati beku nanti,” sindir Christopher.
__ADS_1
“Baguslah kalau kau tahu,” sahut Liana tak acuh.
Liana tersenyum tipis dan kembali melempar pandangan ke luar jendela. Dia tak tahu jika pemuda di hadapannya itu tengah memandangnya dengan tatapan sendu.
Sebelumnya, dia merasa ada sedikit harapan saat bisa selangkah lebih dekat dengan Liana, gadis yang selama beberapa tahun ini terus muncul di pikirannya. Namun, melihat sikapnya yang selalu tak acuh dan dingin, harapan itu mengikis sedikit demi sedikit.
Bahkan kau menolak ku sebelum aku mulai maju, batin Christopher.
Pemuda itu terlihat terseyum. Namun terasa begitu getir dan menyakitkan.
...👑👑👑👑👑...
Sementara itu, dalam kurun waktu sebulan, Jessica yang telah dihukum oleh Kakek Joseph, kini telah kembali bisa pergi ke perusahaan.
Gadis itu tiba-tiba saja berubah menjadi penurut dan pendiam. Bahkan pakaiannya pun terlihat lebih tertutup dan sopan dari sebelumnya.
Kakek Joseph merasa senang dengan perubahan sikap Jessica saat ini. Dia bahkan melupakan rencananya dengan Liana sebulan yang lalu, untuk mengungkapkan kebenaran atas siapa Jessica sebenarnya.
Hari ini, setelah Liana selesai meninjau proyek apartemennya, dia kembali ke kantor untuk mengadakan rapat dengan seluruh tim produksi dan tim konstruksi, dan membahas tentang proyek Golden Hospital yang akan segera dimulai.
Ketika dia sedang menunggu lift di basement, Jessica tiba-tiba datang dan berdiri di sampingnya. Gadis itu terlihat diam dan tak memedulikan keberadaan Liana di sana, dan begitu pun sebaliknya.
Keduanya bahkan masuk ke dalam lift secara bersama-sama, dengan Liana berdiri di belakang dan Jessica yang memilih untuk lebih dekat dengan pintu.
Saat sampai di lantai kantornya, Jessica keluar dan meninggalkan Liana seorang diri di dalam lift.
Apa yang sedang kau rencanakan, Jessica? Aku sangat penasaran. Apakah kau sudah lebih pintar atau masih b*doh seperti biasanya? batin Liana.
Dia kembali ke kantornya setelah lift berhenti di lantai atas. Liana segera menuju ke ruang rapat, di mana sudah banyak orang yang menunggu kedatangannya.
Liana selalu datang selepas makan siang, sehingga anggota timnya bisa menyiapkan materi rapat dengan lebih baik karena jeda waktu yang cukup banyak.
Pemaparan demi pemaparan daru setiap bagian telah selesai dipresentasikan. Kini, giliran Liana yang memberikan tanggapan atas semua yang telah disajikan di hadapannya.
“Baiklah. Rapat kita sudahi sampai di sini. Untuk selanjutnya, kita bahas setelah saya selesai memeriksa semua hasil kerja kalian semua. Terimakasih,” ucap Liana mengakhiri rapat hari ini.
Seluruh peserta rapat pun berbenah dan satu persatu meninggalkan ruangan. Hari sudah gelap di luar sana, karena ini sudah lewat jam pulang kerja, tepatnya pukul tujuh malam.
Liana pun memutuskan untuk segera pulang ke apartemen untuk beristirahat sejenak, dan bersiap-siap pergi makan malam bersama dengan Christopher.
Ketika dia baru saja masuk ke dalam mobil, Liana terlonjak kaget dengan kehadiran seseorang, yang sudah berada di dalam mobilnya.
__ADS_1
...👑👑👑👑👑...
Di jalanan yang panjang, dengan salah satu tepinya yang berbatasan langsung dengan laut dan tebing karang, sebuah mobil sport dengan warna merah menyala nampak melintas dan menuju ke sebuah kota yang berada di ujung jalan tersebut.
Sebutan kota malam atau kota vampir tersemat untuk tempat tersebut, karena kota itu selalu nampak hidup di malam hari, dan bak kota mati di siang harinya.
Ini lah Grey Town, ibu kota negara bagian A yang seolah terabaikan. Penuh dengan gangster yang saling berebut kekuasaan, dan berbagai macam tempat terlarang berderet di sepanjang jalan utama.
Pemukiman yang telah kosong dan ditinggalkan penghuninya, berubah menjadi tempat berkumpulnya para kelompok-kelompok kecil untuk melakukan kejahatan.
Banyak kriminal dari mulai kelas teri sampai Kelas kakap, mengunjungi tempat tersebut untuk sekedar bertransaksi.
Tingkat keamanan di Grey Town begitu minim, sehingga sangat berbahaya untuk seorang yang asing dan masuk ke sana tanpa pendampingan, seperti yang di alami oleh Liana dulu.
Namun, gadis dengan mobil berwarna merah menyala itu, datang ke tempat tersebut seorang diri dan terlihat begitu kenal seluk belum kota tersebut.
Dia berhenti tepat di depan sebuah tempat hiburan malam yang terbesar di kota itu.
Beberapa gadis penghibur yang berjejer di depan pintu masuk, nampak memerhatikan mobil mewah tersebut seolah tengah menunggu pengemudinya keluar.
Saat pintu terbuka, nampak seorang wanita dengan pakaian semi formal, keluar dari dalam mobil. Gadis-gadis penghibur itu nampak familiar dengannya dan maju mendekati wanita tersebut.
“Hei, apa kau Jessica?” tanya salah satu gadis penghibur.
Wanita itu menoleh dan melepaskan kaca mata hitamnya.
“Halo, Yan Yan, lama tidak bertemu,” sahutnya.
.
.
.
.
Udah 3 bab hari ini😁lunas yah😄next eps tunggu besok, oke bestie😘
Kopinya boleh sini biar ntar malam othornya kuat melek buat lanjutin nulisnya🤭
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar yah😘