
Beberapa jam berlalu sejak Liana dibawa ke ruang istirahat yang berada di kantor Long, tepatnya di dalam sebuah klub malam milik Falcon dan gengnya.
Nampak Liana yang masih terpejam dan terbaring berselimut tebal di atas kasur yang empuk, sedangkan Falcon merebahkan dirinya di atas sofa yang berada di seberang ranjang.
Dia terus menunggui Liana, dan tak mengijinkan siapa pun masuk ke dalam.
Tiba-tiba, terdengar suara erangan lirih dari arah gadis itu. Falcon yang sedari tadi terus terjaga pun, seketika bangkit dan mendekat ke arah Liana.
Pria itu duduk di tepi kasur, dan menempelkan punggung tangannya ke kening gadis tersebut.
“Tidak demam. Sepertinya dia hanya mengigau,” gumamnya.
Namun, sejurus kemudian, mata Liana mengerjap. Perlahan, gadis itu pun membuka matanya dan sadar dari pingsan.
Saat melihat keberadaan seorang pria di depannya, Liana terkejut dan seketika bangun hingga membuat kepalanya kembali terasa pusing.
Satu tangannya bertumpu ke belakang, dan yang lainnya memegangi kepala yang terasa kembali berdenyut.
Falcon pun membantu gadis itu untuk kembali berbaring, karena kondisi Liana yang masih sangat lemah.
“Sebaiknya kau jangan terlalu banyak gerak dulu. Istirahatlah sementara di sini,” ucap Falcon.
Liana masih memegangi keningnya. Saat itu, dia merasakan sedikit nyeri pada pergelangan tangan. Liana pun mencoba melihatnya, dan mendapati sebuah selang infus sudah terpasang di sana.
Matanya kembali mengedar ke sekeliling, namun tempatnya berada saat ini, tak nampak seperti ruang perawatan di rumah sakit.
“Di mana aku?” tanya Liana lirih.
“Kau ada di tempat ku. Di sini tempat yang aman. Kau tak usah khawatir,” sahut Falcon.
“Biarkan aku bangun,” pinta Liana.
“Menurut lah. Kau masih harus beristirahat untuk saat ini. Kalau sudah membaik, aku sendiri yang akan mengantarmu pulang,” seru Falcon.
Namun, Liana bersikeras untuk bangun, dan meraih selang infus yang masih menempel di lengannya.
Falcon yang melihat itu pun segera menangkap tangan Liana, dan mencegah gadis itu melakukan hal tersebut.
“Mau apa kau?” tanya Falcon.l sedikit meninggikan suara.
“Aku mau pulang,” jawab Liana dengan suara yang masih lemas.
“Sudah ku bilang, tunggu sampai kau sedikit membaik. Aku yang akan mengantarmu nanti,” ucap Falcon.
“Aku bisa pulang sendiri,” sanggah Liana.
__ADS_1
“Benarkah? Apa kau tau kita di mana? Ini Grey Town. Tempo hari saja saat kamu segar bugar, kau bahkan tak bisa lolos dari kejaran orang di luaran sana. Apa lagi dalam kondisi seperti ini? Hei, Nona. Pakai akal sehatmu. Aku tau kamu sedang terpuruk dan kecewa sekarang. Tapi, jangan menyiksa tubuhmu sendiri,” ucap Falcon panjang lebar.
Liana yang awalnya meronta, kini akhirnya diam. Falcon pun perlahan melepaskan tangan gadis itu dari cengkeramannya.
“Pulihkan lah dulu dirimu ini. Apa kamu tak ingin tau kenapa Bibi Caroline mu itu bisa memalsukan hasil tes DNA Jessica dengan mudah?” tanya Falcon.
“Ap karena ini kamu segera memintaku untuk pergi ke Dream Hill? Karena kau sudah tau kalau mereka telah mengambil tempat ku? Ini salah mu, brengs*k! Kamu yang tidak mau membantuku saat itu,” cecar Liana.
Falcon tak menimpali. Dia tak ingin berdebat dengan Liana, yang saat ini masih dalam kondisi hati yang kacau. Dia memilih untuk tetap diam, dan membiarkan gadis itu meluapkan emosinya.
Liana menangis dalam diam. Meski air matanya jatuh tak terbendung, namun suara isaknya tak terdengar sama sekali.
Falcon pun memutuskan untuk pergi meninggalkan gadis itu sendiri, agar dia bisa leluasa meluapkan emosinya, dan menangis dengan keras hingga sesak di dadanya hilang.
Benar saja, saat Falcon keluar dan menutup pintu ruangan tersebut, seketika Liana menjerit dan tangisnya pecah.
Pria itu masih berdiri di balik pintu, dan bersandar di sana. Dia tampak menarik nafas berat, saat mendengarkan tangisan Liana yang begitu memilukan.
Tak lama kemudian, dia keluar dan mendapati jika Long dan Nine masih berada di depan kantor.
“Sedang apa kalian di sini?” tanya Falcon.
“Bagaimana kondisi kakak ipar? Apa dia sudah bangun?” tanya Long.
“Jangan bicara sembarangan,” sahut Falcon ketus.
“Apa kau belum menyatakan perasaanmu, Bos? Apa kau di tolak? Apa ini cinta sepihak?” cecar Long.
Falcon pun geram dengan sikap serba ingin tau dari anak buahnya itu. Dia pun menghentikan langkahnya dan seketika berbalik hingga Long pun hampir menabrak Falcon.
“Jika kau punya banyak waktu dan tenaga untuk mengurusi hal konyol semacam itu, lebih baik kau siapkan makanan lunak yang hangat untuk gadis di dalam sana,” seru Falcon.
Pria itu kemudian pergi meninggalkan Long yang akhirnya diam.
...👑👑👑👑👑...
Beberapa jam kemudian, sudah cukup lama. Falcon meninggalan Liana sendirian menangis di dalam ruangan Long.
Kini, dia berniat untuk melihat kodisi gadis itu.
Saat sampai di depan ruang kantor Long, Falcon melihat Nine yang masih duduk berjaga di depan pintu.
“Apa Long sudah membawa makanannya ke dalam?” tanya Falcon.
“Dia belum kembali sejak tadi, Bos,” sahut Nine.
__ADS_1
“Kemana anak itu? Jangan-jangan dia main wanita lagi,” gerutu Falcon.
Dia kemudian meraih gagang pintu dan memutarnya. Falcon kembali berhenti dan menoleh ke arah Nine.
“Suruh dia masuk saat sudah dapat makanannya,” seru Falcon.
“Baik, Bos,” sahut Nine.
Falcon pun masuk ke dalam, dan menutup kembali pintunya.
Saat di dalam, dia tak lagi mendengar suara tangisan Liana. Falcon pun mencoba sedikit membuka pintu ruang istirahat dan mengintip kondisi gadis yang tadi sempat menangis itu.
Dari celah sempit, Falcon bisa melihat jika Liana saat ini tengah duduk bersandar di head board, dengan tatapan kosong ke arah depannya.
Pria itu pun memutuskan untuk masuk dan menemani Liana di dalam sana.
“Apa sudah puas menangisnya?” tanya Falcon.
“Bukan urusanmu!” sahut Liana ketus.
Pria itu duduk di tepi ranjang tepat di hadapan Liana.
Tak lama kemudian, Long masuk dengan membawa semangkuk bubur panas, dan segelas minuman hangat yang berada di atas nampan.
“Kakak ipar, ini makanannya,” seru Long yang bermaksud menggoda Falcon.
Dasar anak si*lan! Awas kau, Long! batin Falcon.
Liana tak menyahuti. Dia tak peduli dengan pria klimis yang terlihat seperti seorang Casanova itu.
Long meletakkan semuanya di atas nakas.
Hampir saja dia kembali membuka mulut, namun Falcon buru-buru menendang kaki rekannya itu, dan membuat Long pun memilih pergi dengan menahan tawanya.
.
.
.
.
Pagi-pagi ngopi enak nih🤭ada yang mau kasih kopi anget kah😁
Mohon dukungan untuk cerita ini ya gais😊🙏
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar yah😘