Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Andaikan dia memilih kita


__ADS_3

Di jalanan yang membelah padang rumput yang sangat luas, sebuah mobil melesat cepat menuju ke pusat kota Empire State dari Sky Castle yang berjarak sekitar dua puluh kilometer dari gerbang masuk kota.


Seorang wanita paruh baya terlihat mengemudikan mobilnya, dengan wajah yang sama sekali tak menunjukkan ketenangan.


Berkali-kali dia memukuli stir mobil yang tak berdosa itu dengan kesar, hingga tangannya sendiri merah lebam.


Dia mencoba menghubungi seseorang dengan menggunakan ponsel model jadul, yang memiliki layar monokrom dan tombol timbul.


Berkali-kali dia coba menekan tombol dial, namun sama sekali tak dapat tersambung dengan nomor yang ditujunya.


“Brengs*k! Dia sudah berani mengabaikanku,” makinya.


Dia semakin mempercepat laju supercar nya, dan menuju ke suatu tempat yang terletak di pinggiran timur kota Empire State.


Sebuah bangunan besar bergaya klasik dengan dinding bata yang tampak merah, menyapa orang yang baru memasuki tempat tersebut.


Bangunan yang lebih mirip sebuah sekolah, dengan halaman depan yang luas serta sebuah gedung yang berada di bagian belakang yang sangat besar dan berlantai tiga, yang digunakan sebagai asrama.


Mobil yang dikendarai wanita tadi sudah tiba di sana dan terparkir begitu saja di halaman. Wanita paruh baya itu keluar dari mobil dan berjalan cepat ke arah bangunan utama.


Dia berjalan ke sebuah ruangan, di mana bertuliskan Kepala Yayasan Amal Xing Ping yang tertempel di depan pintu.


Tanpa mengetuk, wanita itu meraih handle dan membukanya begitu saja. Sontak seorang pria muda yang sedang duduk di kursinya, berdiri dan terkejut melihat kedatangan wanita tadi yang tiba-tiba muncul di hadapannya.


Wanita itu menghempaskan b*kongnya di atas kursi kayu yang ada di sana, dengan menyilangkan kakinya serta melipat kedua lengan di depan dada.


“Cepat panggil Moses kemari!” serunya.


“Maaf, Nyonya Callister. Tapi ketua Jung sekarang sudah tidak lagi menangani tempat ini,” sahut pria muda itu.

__ADS_1


“Jangan banyak bicara. Cepat panggilkan saja dia kemari sekarang!” seru wanita itu dengan suara tinggi.


Pria muda itu pun keluar dan segera melakukan panggilan kepada seseorang yang dimaksud.


“Halo, Bos. Ada yang datang mencarimu?” sapanya.


“Bukankah sudah ku katakan, bilang pada mereka kalau aku sudah tidak mengurus yayasan itu. Sejak kapan kau jadi b*doh, Henry?” sahut Moses Jung, sang pemilik Yayasan Xing Ping.


“Tapi, ini donatur terbesar kita yang datang mencarimu, Bos? Aku tidak bisa menolaknya,” jawab pria muda yang ternyata adalah Henry.


“Siapa donatur itu? Apa Jerome Chen lagi?” tanya Moses Jung.


Tapi tidak mungkin. Masalah sepenting apapun, Dia cukup berbicara pada ku lewat telepon saja. Apa mungkin..., batin Moses Jung.


“Nona Amber Callister, Bos. Dia yang datang mencarimu,” ucap Henry.


Seketika, dia menoleh ke arah sebuah foto yang berada di atas meja kerjanya. Foto seorang gadis cantik yang terlihat tersenyum sambil memeluk boneka Teddy Bear raksasa berwarna soft brown.


Helaan nafas berat terdengar dari mulutnya, seolah ada sesak yang mengganjal di hati.


“Baiklah. Aku akan segera ke sana,” ucap Moses Jung.


Sambungan pun terputus. Pria bertato itu segera meraih jas hitamnya dan keluar dari dalam ruangan.


Saat akan membuka pintu depan, sebuah suara menghentikan gerakannya.


“Daddy!” panggil seorang gadis.


Moses menoleh dan terlihat sosok gadis dengan penampilan yang serba glamor, sedang menuruni tangga dan berlari ke arahnya.

__ADS_1


“Apa Daddy akan menemui seseorang? Siapa dia? Sepertinya spesial?” cecar Lusy, putri Moses Jung.


Dengan penuh kasih sayang, pria itu membelai surai coklat terang Lusy.


“Apa kau harus se cerewet ini, hem?” sahut Moses.


“Apa dia kekasih mu, Dad? Bawalah dia kemari. Aku ingin melihat apakah dia bisa menjadi temanku atau tidak,” ucap Lusy.


“Baiklah. Daddy akan mengajaknya kemari jika dia mau. Daddy pergi dulu. Jangan berkeliaran sendirian, oke,” seru Moses.


“Oke, Dad. Bye,” sahut Lusy.


Gadis itu melambaikan tangan ke arah ayahnya.


Andaikan dia mau memilih bersama kita, pasti akan lebih bagus dan akan pernah ada tragedi, batin Moses.


.


.


.


.


hari ini segini dulu ya bestie ☺besok lanjut lagi😘


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘

__ADS_1


__ADS_2