
Mobil melaju di jalanan kota Golden City. Mereka menuju ke sisi selatan di mana ada sebuah bukit tempat area pemakaman elit kota tersebut.
Liana mengajak Falcon untuk pergi ke sana, untuk mengunjungi makam sang bunda yang sudah dipindahkan oleh Presdir Wang.
Mereka kini telah sampai di area parkir depan pemakaman, yang berada di bawah bukit. Liana dan Falcon berjalan berdampingan, dengan sang gadis yang terus merangkul lengan kekasihnya.
Di tangannya, Falcon membawa sebuket bunga lili putih yang dia beli saat perjalanan kemari, serta peralatan sembahyang yang biasa dibawa ketika berziarah ke makam seseorang.
Tempat makam Lilian berada di puncak tertinggi bukit, di mana hanya ada satu makam dengan dikelilingi bunga-bunga yang indah. Liana pernah kemari sebelumnya bersama sang kakek, dan dia tak sanggup menahan tangis haru saat melihat tempat peristirahatan sang bunda yang begitu indah.
Sangat jauh dari makam baru yang berada di tepi sungai yang begitu dingin dan gelap, di tengah hutan Heaven Forest.
Liana melepas rangkulannya dari sang pria. Dia memberi hormat di depan pusara sang bunda, dan menyalakan sebuah dupa dan bersembahyang di sana.
Begitu pun falcon yang mengikuti apa yang Liana lakukan, sebagai bentuk penghormatan kepada mendiang.
“Ibu, kenalkan. Dia adalah kekasihku. Jangan tanya namanya, karena kau hanya akan kebingungan nanti,” ucap Liana.
Gadis itu menoleh ke arah prianya. Falcon tersenyum menatap wajah gadis itu. Liana pun kemudian kembali menoleh ke arah nisan sang bunda.
“Aku ingin hidup bersama dengan dia. Tolong Ibu berkahi kami dari surga,” ucap Liana.
“Halo, Nyonya. Namaku Alex. Maaf karena sebelumnya saya tidak memberi hormat dengan benar saat pertama kali menemukan makam Anda,” timpal Falcon.
“Ibuku itu wanita yang baik dan lemah lembut. Dia pasti bisa mengerti, Honey,” sahut Liana.
“Kau ini. Biarkan aku selesaikan bicara ku pada ibumu dulu,” bisik Falcon.
__ADS_1
Liana hanya menahan tawanya dan kembali menatap foto mendiang sang bunda yang ada di depan batu nisan.
“Terimakasih sudah melahirkan seorang putri seperti Liana. Dia telah mencuri hatiku dan seluruh kehidupanku. Nasib kami nyaris sama, Sejak kecil mengalami masa sulit hingga beranjak dewasa. Mungkin itu yang membuat kami saling mengerti satu sama lain dan terikat oleh takdir.”
“Di depan makam Anda, saya ingin meminta ijin untuk meminangnya menjadi istri saya,” ucap Falcon.
Liana seketika menoleh menatap wajah kekasihnya. Sedangkan Falcon, pria itu terus menghadap lurus ke arah makam Lilian dengan wajah yang tampak serius.
“Saya berjanji, seumur hidup hanya akan mencintai dia, melindungi dia, selalu menjadi orang yang bisa diandalkan olehnya,” lanjut Falcon.
Pria itu kemudian berbalik dan menghadap ke arah gadisnya. Dia berlutut dengan sebelah lutut tertekuk dan yang lainnya menyentuh tanah.
Tangannya meraih sesuatu dari balik saku jasnya. Sebuah kotak beludru biru kecil muncul dari sana. Falcon membuka benda tersebut tepat di depan Liana.
Tampak sebuah cincin berlian yang berkilau begitu indah di dalam kotak tersebut.
“Liana Wang, hari ini di depan makam ibumu, aku, Alexander Harvey, sedang melamarmu dengan setulus hatiku. Mau kah kau menjadi istriku dan ibu dari anak-anakku?” ucap Falcon.
Matanya berkaca-kaca. Dia tak menyangka jika hari ini akan benar-benar terjadi di hidupnya. Seorang pria memintanya menemani seumur hidup dalam ikatan pernikahan.
Air mata pun bahkan terjun bebas tanpa bisa ia cegah. Melihat hal itu, Falcon merasa semakin cemas, takut jika gadisnya akan menolak ajakannya.
“Sweety, will you marry me?” tanya Falcon.
Pria itu bertanya sekali lagi, dan Liana pun segera mengangguk dengan cepat, tanda setuju.
“I do. Aku mau, Honey. Aku mau,” jawab Liana.
__ADS_1
Senyum merekah di wajah Falcon. Pria itu pun menyematkan cincin tersebut ke jari manis tangan kiri Liana. Dia bangun dari posisinya.
Liana pun seketika melingkarkan lengannya di leher Falcon, dan mengecup bibir pria itu.
Falcon menahan pinggang Liana, dan membalas ciuman sang gadis. Mereka saling memagut, mencurahkan kebahagiaan yang saat ini sedang mereka rasakan.
Di depan makam sang ibu, Liana mendapatkan lamaran dari orang yang sangat ia cintai. Kebahagiaan ini benar-benar tak terbendung, membuat Liana dan Falcon berciuman semaki dalam.
Mereka tak menghiraukan apapun lagi di sekitar mereka. Keduanya saling menyesap dan mereguk manisnya cinta yang diberikan oleh masing-masing.
Hingga beberapa lama, Liana merasakan bibirnya kebas dan mulai kesulitan bernafas karena Falcon semakin berhasrat. Gadis itu pun mendorong pundak sang kekasih untuk menjauh, dan membuat pria itu menyudahi aksinya.
Kening keduanya saling beradu dan nafas mereka pun terengah-engah. Senyum terbit di wajah pasangan tersebut yang terlihat masih saling memeluk.
“Kita akan menikah besok di kantor catatan sipil,” ucap Falcon.
“What? Are you serious!?” pekik Liana terkejut.
.
.
.
.
What?! udah dulu ya bestie 🤭lanjut lagi besok, oke
__ADS_1
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘