
Saat jamuan makan malam di istana Sky Castle, Liana yang penasaran dengan sosok yang ia temui di taman, kembali dikejutkan dengan kehadiran Falcon di tempat tersebut. Terlebih saat Tuan Harvey memperkenalkannya sebagai salah satu cucu dari presdir Lunar Grup tersebut.
Namun, satu hal yang membuatnya kecewa, yaitu sikap Falcon padanya. Pria itu begitu tak acuh. Dia sama sekali tak menyapa, bahkan untuk sekedar menatap matanya pun tidak.
Hal itu pun tak luput dari perhatian sang pemilik istana. Pria tua itu secara diam-diam memperhatikan ekspresi Liana, yang seolah memandang penuh tanya ke arah Falcon, sedangkan sang ketua gangster itu justru tak merespon sama sekali.
Bahkan, saat semua anggota keluarga yang ikut di jamuan mencelanya, Falcon seolah tak peduli dan terus sibuk dengan makanannya. Hingga saat makanan di piring habis, dia segera pergi meninggalkan meja makan, bahkan sebelum yang lainnya selesai.
Falcon memilih untuk kembali ke dalam kamar. Dia melangkah ke ruangan yang penuh akan kenangan dengan sang ibu sebelum wafat. Lampu sengaja tak ia nyalakan, karena terlalu membuat kepalanya terasa sakit.
Hatinya terasa hancur saat bersikap tak acuh pada Liana itu. Meski tak menatap langsung ke arah gadis itu, namun Falcon bisa merasakan jika tatapan Liana penuh dengan kekecewaan.
Maafkan aku Lilian. Aku terpaksa melakukannya. Aku tak mau pria tua itu memanfaatkanmu lebih lama lagi, batin Falcon.
Dia mengusap wajahnya kasar, dan kemudian menyandarkan tengkuknya ke sofa. Falcon berusaha memejamkan matanya, namun justru bayangan Liana yang menatapnya tadi, terus mengiang di pikirannya.
Mau tak mau, dia pun kembali membuka matanya dan menikmati kegelapan yang kini menemani.
Falcon bangkit dan berjalan ke arah balkon kamarnya. Namun, dia buru-buru bersembunyi, kala melihat kedatangan Liana ke taman bunga yang berada tepat di bawah sana.
Dari tempatnya berdiri, Falcon bisa melihat jika Liana terus mendongak ke atas, dan melihat ke arah balkon kamarnya. Cukup lama gadis itu berada di sana, kemudian dia pun berbalik dan pergi.
Falcon melihat jika Liana berbelok ke sisi kanan rumah, di mana terdapat sebuah kolam renang. Dia awalnya tak ingin terlihat memberikan perhatian pada gadis itu, namun hatinya yang menuntunnya untuk melakukan sesuatu.
Dia pun turun, dan mendapati jika lantai bawah telah sepi. Tak ada satu pun keluarga Harvey berada di sana. Dia kemudian menuju ke dapur, dan melihat jika Liana tengah bermain dengan air kolam.
Saat itu, seorang pelayan datang hendak kembali ke paviliun belakang. Falcon pun menghentikan pelayan tersebut dan memintanya menghampiri Liana.
Dia memerintahkan pelayan tadi untuk menawarkan sesuatu, yang bisa menghangatkan tubuh gadis tersebut.
Setelah selesai mengerjakan tugasnya, pelayan tadi pun pamit undur diri.
Falcon terus memperhatikan Liana dari jauh. Hatinya semakin terasa sakit. Dia tak bisa lagi menahan keberadaan Liana di sana. Kali ini, bukan karena kekhawatirannya akan keselamatan Liana, melainkan dia tak tega jika harus melihat wajah murung gadis itu, yang disebabkan oleh sikapnya.
Akhirnya, Falcon pun mendatangi sang presdir di lantai lima istana Sky Castle. Terdapat beberapa penjaga yang terus berdiri sepanjang waktu di depan kamar Tuan Harvey dan juga ruang kerjanya.
“Aku ingin bertemu dengan Presdir Harvey,” seru Falcon pada salah satu penjaga di sana.
__ADS_1
“Tuan besar sedang berada di ruang kerja,” sahut si penjaga.
Tanpa menyahut lagi, Falcon pun segera melangkah ke ruangan berikutnya yang ada di lantai tersebut.
“Aku ingin bertemu Tuan Harvey,” seru Falcon lagi.
“Tunggu di sini, Tuan muda,” sahut si penjaga.
Salah satu penjaga nampak mengetuk pintu, dan masuk ke dalam sana. Tak berselang lama, penjaga itu keluar dan mempersilakan Falcon untuk masuk.
Pria itu pun segera menerobos ke dalam ruang kerja sang presdir Lunar grup, dan melihat pak tua itu sedang duduk di belakang meja kerjanya.
“Apa kau sudah putuskan?” tanya Tuan Harvey tanpa melihat ke arah Falcon.
“Kirim mereka pulang ke Golden City! Aku terima syarat yang Anda ajukan padaku tadi siang,” jawab Falcon.
Tuan Harvey pun menoleh ke arah Falcon, dan senyum tipis muncul di bibir keriputnya.
“Lalu sabagai permulaan, mulai sekarang panggil aku kakek!” seru Tuan Harvey.
Falcon nampak tersenyum kecut mendengar perkataan sang tuan besar.
Ada rasa sakit hati yang masih melekat kuat di hatinya. Meski sudah lewat puluhan tahun, namun bukannya hilang, justru semakin membesar dan membuat kebencian di hatinya pada keluarga tersebut semakin buruk.
“Posisimu saat ini bukanlah untuk bisa tawar menawar dengan ku. Terima perintah ku, atau relakan gadis itu menghilang selamanya,” ancam Tuan Harvey.
Falcon geram. Rahangnya mengeras dan kepalan tangannya semakin kuat, hingga urat dipunggung tangannya terlihat. Dia maju mendekat dan menggebrak meja kerja pria tua itu.
Pria itu menatap nyalang ke arah sang tuan besar. Namun, hal tersebut tak lantas membuat Tuan Harvey takut atau gentar. Pria tua itu justru menatap balik Falcon tak kalah tajam.
“Apa tidak cukup Anda membuang ku dan membuat ibuku meninggal? Apa tidak cukup Anda menyiksa kami dulu? Kenapa kau harus mengancamku lagi sekarang? Kenapa tidak membuang ku hingga akhir? Kenapa harus membawaku kembali ke neraka ini?” cecar Falcon.
Suaranya menggelegar penuh emosi. Matanya merah dan bahkan mulai berair. Hatinya semakin sakit karena mengingat hal-hal buruk yang sudah dilakukan oleh Tuan Harvey padanya dan sang ibu.
“Jika kau ingin tahu jawaban dari semua pertanyaanmu itu, maka carilah sendiri di sini. Suatu hari kau pasti akan menemukannya sendiri,” sahut Tuan Harvey.
Dia meletakkan berkas yang ada di tangannya dan juga melepas kacamata yang dikenakan. Kedua tangannya bertumpu di meja, dengan jemarinya yang saling bertaut. Dagu keriputnya berada di atas tangan dan dengan tatapan tajam memandang ke arah Falcon.
__ADS_1
“Jadi, ku tanya sekali lagi. Kau akan tinggal atau tidak?” tanya Tuan Harvey.
Falcon benar-benar tak habis pikir jika semudah ini langkahnya terhenti. Sejak dulu, dia selalu berhasil bebas karena tak memiliki kelemahan sama sekali. Namun kali ini, hanya karena seorang gadis, dia bisa dengan mudah dikendalikan oleh orang yang sangat dibencinya.
Dengan tangan yang masih mengepal kuat, dan mata yang terpejam. Akhirnya, Falcon memutuskan untuk tetap tinggal di sana, dan memastikan gadisnya benar-benar aman.
Keesokan harinya, Nona Shu dan Liana pamit pulang. Ingin rasanya Falcon muncul dan memeluk gadis itu untuk terakhir kalinya, sebelum mereka tak bisa bertemu sebebas dulu.
Namun, sang tuan besar seolah tak membiarkan kedua tamunya itu sendirian. Dia terus mengikuti kemana pun mereka berada, hingga keduanya benar-benar pergi dari sana.
Dari dalam sebuah mobil mewah yang terparkir di garasi, Falcon bahkan tak berhenti memandang wajah Liana, yang terus melihat ke atas. Dia tahu jika gadis itu pasti sedang mencari keberadaannya.
Dia hanya mampu menatap dalam diam. Gemuruh di dadanya semakin kuat, hingga membuat sesak dan sulit bernafas. Namun, kepergian Liana membuatnya sedikit bisa tenang, karena setidaknya mereka telah keluar dari jerat sang tuan besar.
.
.
.
Nah, othor mau umumin aturan give away kali ini😁
Jadi kali ini, othor mau ngadain doble give away. Pemenangnya ditentukan dari tiga besar top fans mingguan.
perhatikan gambar di di bawah 👇
Bestie semua juga bisa lihat sendiri kok peringkatnya 😊dan peringkat ini akan reset setiap hari minggu pukul 23.00, jadi pengumuman pemenangnya akan di beritahukan pada hari seninnya.
Daaaaaaannnnn..... give away ini akan berlangsung dalam 2 minggu. so, yang masuk tiga besar berturut-turut dalam dua minggu ini, makan akan mendapatkan doble hadiah👏👏👏👏👏👏👏
Hadiahnya seperti biasa ya, pulsa receh 25k tiap yang beruntung 😊✌
Caranya gimana supaya bisa dapet poin? gampang banget🥰cukup like dan komentar, vote, gift berupa bunga atau kopi banyak-banyak😁
__ADS_1
itung-itung othor kasih THR lebaran lah ya🤭
Even give away ini berlangsung mulai hari ini ya besties 🥰🥰🥰🥰