Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Sidang


__ADS_3

Liana dan rombongan masuk ke dalam ruang sidang, dan melihat bahwa Lusy, Alice serta Debora, telah berada di tempat duduk sebelah kiri yang dekat dengan terdakwa.


Liana pun mengambil tempat duduk yang berseberangan dengan Lusy, ditemani oleh sang suami dan semua penjaganya.


Tak lama kemudian, Peter pun ikut hadir bersama Christopher dan juga Kenny Liem, yang selalu menjadi kepanjangan tangan sang keponakan dalam menjaga pamannya.


Falcon berdiri menyambut ayah mertuanya, dan mempersilakan pria itu duduk di samping Liana.


Tak berselang lama, para jaksa, Notulis, terdakwa beserta kuasa hukumnya mulai menghadiri ruangan sidang. Kemudian, disusul oleh majelis hakim pengadilan.


Sidang pun resmi dibuka dengan agenda mendengarkan keterangan saksi. Satu persatu saksi dihadirkan dan mereka menjawab berbagai pertanyaan yang diajukan baik oleh pihak penuntut dan tertuntut.


Saat Peter dan Ella maju, keduanya menjawab dengan singkat dan sopan. Namun, kegaduhan mulai timbul saat Liana yang maju ke depan, terlebih saat harus menjawab pertanyaan dari kuasa hukum tertuntut.


Liana selalu menekan Amber hingga wanita itu berkali-kali berdiri, berteriak dan memaki Liana. Hakim sampai harus berkali-kali mengetuk palu keras-keras agar semua hadirin kembali tenang.


Namun, seolah sudah tahu trik Liana yang selalu memprovokasi lawan, Lusy kali ini tampak berbeda dan terlihat begitu tenang selama jalannya persidangan.


Dengan kacamata hitamnya, tak ada yang tahu bahwa sejak tadi tatapannya selalu tertuju pada sang ayah yang duduk di samping Amber.


Dia merasa sakit saat mengetahui bahwa ayahnya telah banyak berkorban demi wanita jahat yang sama sekali tak pernah melihat hatinya. Bahkan sampai hadir seorang anak di antara mereka pun, dia sama sekali tak peduli.


Daddy yang b*doh. Apa wanita seperti ini yang kau pilih untuk menjadi Mommy ku? batin Lusy.

__ADS_1


Sidang berjalan cukup lama, karena banyaknya pertanyaan serta saksi yang dihadirkan. Bahkan Q sebagai pemilik pulau karang itu pun harus duduk di kursi saksi, untuk menjelaskan bagaimana Peter bisa berakhir di sana.


Setelah sekitar hampir enam jam sidang berlangsung, kini hakim memutuskan bahwa sidang akan ditunda sementara, dan akan dibuka kembali pekan depan, dengan agenda pembelaan dari terdakwa.


Hakim dan seluruh staf administrasi sidang serta terdakwa telah meninggalkan ruangan. Liana melihat Lusy yang berdiri dan hendak pergi.


Wanita itu lalu dengan cepat berjalan ke arah gadis malang tersebut, dan membuat Lusy menghentikan langkahnya.


“Lusy, ada yang ingin ku katakan padamu,” ucap Liana.


Gadis itu membuka kacamata hitamnya, dan menatap ke arah Liana. Meski telah lama berlalu, namun tatapan Liana selalu bisa membuatnya gemetar. Akan tetapi kali ini, Lusy berusaha menahannya dan mencoba tetap tenang.


“Aku rasa, sekarang tak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Ayahku sudah menyerahkan diri dan akan segera menerima hukumannya. Kedepannya, sebaiknya kita tidak perlu bersinggungan lagi dan aku sudah memaafkanmu,” ucap lusy.


Gadis itu sama sekali tak menyinggung perkara Amber. Sepertinya, gadis itu sama sekali tak peduli dengan nasib wanita jahat yang sudah melahirkan dan menelantarkannya.


Liana hendak mengejar Lusy, namun segera ditahan oleh Falcon. Pria itu menggeleng, tanda bahwa Liana jangan lagi mengganggu gadis itu.


Akhirnya, mereka pun kembali ke tempat masing-masing. Falcon, Liana dan Ella kembali ke Dream Hill, sedangkan Peter berencana akan terbang ke Empire State dan tinggal di tempat yang sudah disiapkan oleh keponakannya.


Sebelum berpisah, Peter berkata pada Liana bahwa dia sudah siap bekerja di perusahaan putihnya itu.


“Baguslah. Kebetulan menantu mu sudah menyiapkan tempat untuk kantornya. Selebihnya, ku serahkan pada mu untuk mengurusnya, Ayah,” seru Liana.

__ADS_1


“Baiklah, Nak. Ayah akan berusaha sebaik mungkin untuk bisnis pertama mu,” sahut Peter.


Liana maju mendekat, dan untuk pertama kalinya, dia memeluk ayahnya dengan hangat.


“Terimakasih, karena ayah sudah kembali padaku, walaupun terlambat. Sebelum pergi, kunjungilah makam ibu, dan sering-seringlah datang melihatnya. Dia pasti akan sangat senang melihat kekasihnya masih peduli padanya,” ucap Liana.


Peter mengusap punggung anak perempuannya itu dengan lembut, dan mata yang kembali berkaca-kaca.


Setelah itu, Liana kembali bersama sang suami dan bergegas menuju ke Dream Hill.


.


.


.


.


Besok lanjut lagi bestie 😘


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘

__ADS_1


__ADS_2