
Makan malam keluarga yang pertama kali diadakan di kediaman Wang, setelah bertahun lamanya pak tua itu selalu berada di meja makan seorang diri. Kini, dia bisa merasakan hidup kembali hal sederhana tersebut setelah menemukan cucunya.
Meski proses pengujian DNA baru akan dilakukan besok pagi, namun Presdir Wang begitu meyakini bahwa kali ini dia tidak salah mengenali orang.
Liana lebih banyak diam dan menjadi gadis baik selama makan malam berlangsung. Bahkan saat ini, dia pun menemanin kakeknya untuk duduk di ruang keluarga.
Dengan penuh perhatian, gadis itu menyelimuti kaki kakeknya agar tidak kedinginan, mengingat musim dingin hampir tiba. Sebuah tungku perapian berada di ruangan tersebut, dan selalu berguna di musim yang dingin seperti ini.
Liana dengan cekatan, mengatur kayu bakar yang masuk ke dalam mulut perapian, agar suhunya tidak terlalu panas untuk orang di sekitarnya.
“Ceritakanlah sesuatu tentang mu, Nak. Kakek ingin tahu bagaimana kehidupanmu sebelum bertemu dengan kakek,” seru Joseph.
“Tidak ada hal yang menarik,” sahut Liana.
Tatapan gadis itu masih tertuju pada perapian. Membuat sinar jingga menerpa kulit putihnya, dan membuat kilatan di mata Liana semakin tajam.
“Bagaimana dengan pemuda yang kamu sukai? Bukankah masa remaja itu adalah masa yang menggelora?” tanya kakek lagi.
“Apa Kakek lupa kalau dulu wajahku cacat? Mana ada romansa untuk si gadis yang buruk rupa dan miskin,” sahut Liana datar.
“Dasar anak nakal! Bisa tidak sikapmu sedikit manis pada kakekmu ini?” keluh Joseph, karena nada bicara Liana yang kembali datar dan dingin seperti sebelumnya.
Liana pun menoleh dan menatap sang kakek.
“Ayolah, Kek. Sifatku memang begini sejak dulu. Bukankah Kakek bilang ini diturunkan darimu?” timpal Liana.
“Haish! Dasar anak ini. Tidak pernah tidak mengajak orang berdebat,” ucap Joseph.
Liana hanya mengedikkan kedua bahunya dan kembali menghadap ke arah perapian.
“Jadi, apa benar kalau Jessica yang membuatmu cacat?” tanya Joseph.
Liana hanya menganggukkan kepala beberapa kali.
Hening. Kakek Joseph tak lagi berkata-kata, hingga Liana pun menoleh ke arah pria tua itu. Dia melihat sang kakek tengah menatap api yang membara di depannya, dengan tatapan kosong. Tangannya mengepal kuat seolah tengah menahan emosi.
Liana pun mengulurkan tangan dan meraih genggaman tangan keriput itu. Dengan lembut, Liana mengusap punggung tangan sang kakek, dan membuat Joseph menoleh dan melihat senyum manis yang terukir di wajah cucu satu-satunya.
__ADS_1
“Kek, sebaiknya jangan mengungkit masa lalu, kalau kakek tidak siap mendengarnya. Aku baik-baik saja sekarang, bukankah itu sudah cukup? Mereka yang sudah jahat padaku, telah ku balas tuntas dan sekarang mereka sedang menjalani hukuman di penjara. Meskipun itu terlalu ringan jika dibandingkan dengan apa yang sudah mereka perbuat, namun setidaknya mereka tidak akan pernah muncul lagi dihidup kita. Bukan begitu, Kek?” ucap Liana.
Joseph mengulurkan tangan satunya dan menepuk-nepuk tangan Liana. Pria tua itu tersenyum hangat ke arah cucunya.
“Ternyata, kau tidak hanya mewarisi sifat sombong dan angkuh ku saja. Bahkan sikap penyayang dan baik hati dari ibu mu pun kau miliki. Aku benar-benar seperti melihat bayangan Lilian di dirimu saat ini, Nak,” tutur Joseph.
“Jadi, apa kakek bisa ceritakan seperti apa ibuku?” tanya Liana.
“Sepertinya kau memang benar-benar cucuku. Semua penipu itu sama sekali tak tertarik mengetahui Lilian ku sama sekali. Tapi kamu memang berbeda,” sahut Joseph.
“Jadi, apa Kakek mau bercerita sekarang?” tanya Liana lagi.
“Baiklah. Sudah saatnya kau kenal siapa ibumu itu,” jawab Joseph.
Pria tua itu pun menceritakan kepada Liana tentang semua hal mengenai Lilian. Liana begitu antusias mendengarkan semua cerita dari kakeknya.
Terlihat kerinduan yang mendalam di mata gadis itu kala mendengar semua kata-kata yang diucapkan oleh Joseph, untuk menggambarkan bagaimana ibunya dulu semasa hidupnya.
Bahkan, sesekali air mata lolos dari pelupuk matanya karena merasa sesak menyerang dada, kala menyadari dirinya tak mampu lagi bertemu dengan ibu yang sama sekali tak pernah dikenalnya.
Di tengah-tengah ceritanya, Liana merebahkan kepalanya di pangkuan sang kakek. Joseph mengusap lembut surai hitam cucunya, dan membiarkan Liana mendengar semua hal tentang ibu kandungnya.
Joseph bercerita hingga larut malam. Liana menghentikan kakeknya untuk terus bercerita karena pria itu harus beristirahat.
“Tapi ceritanya belum selesai,” keluh Joseph yang seolah tak mau berhenti.
“Tapi Kakek harus istirahat! Ini sudah sangat larut, Kek,” seru Liana.
“Kakek tidak lelah. Kakek bahkan tidak keberatan jika harus begadang sampai pagi untuk bercerita,” sahut Kakek Joseph.
“Kakek tidak lelah tapi aku yang lelah. Meskipun aku sangat ingin tahu cerita tentang ibuku, tapi aku sudah sangat mengantuk. Kalau Kakek tidak mau tidur, silakan saja. Aku mau kembali ke kamar dan tidur,” seru Liana.
“Haish! Dasar anak tidak berperasaan. Baiklah! Baiklah! Antar kakek ke kamar kalau begitu,” sahut Kakek Joseph.
Liana tak menyahut. Namun garis tipis tertarik ke atas di bibir gadis itu. Dia pun membantu sang kakek berdiri, dan dengan lembut merangkul lengan kakeknya untuk menuntun ke atas menuju ruangan pribadinya.
...👑👑👑👑👑...
__ADS_1
Keesokan harinya Jimmy tiba di kediaman keluarga Wang dengan membawa serta beberapa orang berjas putih, sambil membawa koper di tangan mereka.
Semua orang-orang itu nampak masuk ke dalam mansion dan bersiap di ruang tamu rumah tersebut. Ketika koper dibuka, terlihat beberapa peralatan medis seperti jarum suntik, glass tube, selang infus, serta beberapa alat lainnya.
Hari ini, sesuai yang disepakati oleh Kakek Joseph dan juga Liana, bahwa mereka akan melakukan tes DNA untuk memastikan hubungan darah di antara keduanya.
Liana nampak berjalan menuruni anak tangga bersama sang kakek, kemudian duduk di kursi yang telah disiapkan.
“Apa semuanya sudah siap?” tanya Kakek Joseph.
“Siap, Tuan,” sahut Jimmy.
Joseph kemudian menoleh ke arah sang cucu. Dengan lembut, dia menggenggam tangan Liana.
“Apa kau siap, Nak?” tanya Joseph.
“Aku siap, Kek,” sahut Liana dengan seulas senyum manisnya.
“Baiklah kalau begitu. Mari kita mulai,” seru Kakek Joseph.
Para orang dengan jas putih itu pun kemudian mulai mengambil tindakan. Pertama, mereka mengambil sampel rambut, kuku, dan juga lidah dari kedua orang tersebut. Yang terakhir adalah mereka mengambil sampel darah dari keduanya dan dimasukkan ke dalam beberapa tabung kecil dengan volume 5ml untuk setiap tabungnya.
Semuanya dimasukkan secara terpisah menjadi sepuluh paket, yang kemudian akan dikirimkan ke sepuluh rumah sakit atau lembaga pengujian DNA terbaik yang ada di seluruh negeri.
Satu jam kemudian, semua proses itu selesai dilakukan. Jimmy dan semua orang itu pun pamit undur diri untuk segera mengantarkan sampel-sampel tersebut.
.
.
.
.
Maaf bestie, othor kesiangan 😅🙏lagi repot banget kalo musim lulusan gini😁 pokoknya mah tiap hari diusahakan update ya bestie, jam nggak pasti 😅
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar yah😘