Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Cemburu


__ADS_3

Falcon memapah Liana menuju ke restoran di seberang jalan, diikuti oleh orang yang telah menolong gadisnya tadi.


Sementara Liana, gadis cantik itu begitu terkejut hingga dia belum bisa berbicara.


Sesampainya di sana, ketiga orang itu pun duduk di kursi depan, dan Falcon segera meminta air putih untuk kekasihnya.


Dia pun segera meminumkan air tersebut kepada Liana, dan berharap gadis itu bisa kembali sadar.


Liana minum dengan rakus dan menghabiskan segelas air dalam sekali teguk.


“Pelan-pelan. Jangan sampai tersedak,” seru Falcon.


Liana menghirup napas dalam-dalam dan menghembuskannya sekaligus. Hal itu ia lakukan berkali-kali hingga perasaannya membaik.


“Aku sudah tak apa-apa. Hanya kaget saja,” ucap Liana.


“Tadi itu berbahaya sekali. Hampir saja kau tertabrak,” sahut si penolong tadi.


Liana menoleh dan baru menyadari jika orang tersebut adalah Christopher, pemuda yang baru saja menghubunginya via telepon.


“Kau? Bagaiman akau bisa ada di sini? Bukannya kau bilang kita akan bertemu nanti malam?” ucap Liana.


“Apa? Jadi kalian berencana bertemu di belakangku?” tanya Falcon emosi.


Pria itu terlihat tak suka saat mengetahui gadisnya, telah membuat janji dengan pria lain secara diam-diam di belakangnya.

__ADS_1


“Maaf sebelumnya. Aku tidak tahu kalau kalian sudah bersama. Aku hanya ingin bicara dengan Liana mengenai hal penting yang hanya bisa ku katakan padanya,” ucap Christopher.


“Apa itu? Kau bisa katakan padaku juga,” seru Falcon.


“Maaf. Tapi kau bukan siapa-siapa Liana. Kau hanya kekasihnya dan belum menjadi suaminya. Ini sangat rahasia dan menyangkut masalah pribadi gadis mu ini, Tuan muda kelima,” sanggah Christopher.


“Kau...,” ucap Falcon menggantung.


Liana segera meraih tangan prianya dan menggenggamnya erat, hingga Falcon menoleh dan menatapnya tajam.


Gadis itu menggeleng pelan seolah meminta agar Falcon berhenti bicara dan berdebat dengan Christopher.


Falcon pun menurut, meski dia sangat kesal hingga melepaskan tangannya dari Liana.


Christopher sedikit ragu. Dia terus menatap ke arah Falcon, sambil menimbang-nimbang apa yang akan diputuskannya. Akhirnya, rasa pedulinya pada Liana, membuat Christopher memilih untuk mengalah. Terlebih lagi, dia melihat si pengemudi mobil yang hampir menabrak Liana, adalah orang yang sama, yang dulu pernah menculik Liana, hanya untuk membuatnya pulang ke rumah.


“Baiklah. Akan ku katakan sekarang. Tapi, bisakah kita tidak bicara di sini?” pinta Christopher.


Liana menoleh ke arah Falcon. Pria itu kemudian menatap Christopher sambil, melipat kedua lengannya dengan punggung yang bersandar di kursi.


“Kita bisa ke perusahaan ku. Di sana ada ruangan yang cukup privat. Kalian bisa memakainya,” ucap Falcon.


Liana tersenyum ke arah prianya itu, meski Falcon masih terlihat sangat kesal.


Ketiganya pun beranjak dari sana dan kembali berjalan menuju ke The Palace yang berada tepat di seberang restoran tersebut.

__ADS_1


Kali ini, semuanya terlihat berhati-hati, bila mana ada kejadian seperti sebelumnya yang hampir membahayakan Liana.


Sesampainya di The Palace dengan selamat, Falcon menuntun kedua orang itu untuk naik ke lantai lima, di mana di sana terdapat hall kecil yang biasa digunakan untuk rapat dengan tamu penting mengenai promosi produk mereka.


“Kalian bisa gunakan tempat ini,” ucap Falcon.


Pria itu berdiri di dekat pintu dan menyalakan saklar lampu. Christopher memilih duduk di salah satu kursi penonton, sedangkan Liana duduk di kursi yang berada tak jauh dari Falcon.


“Katakan padaku! Apa hubunganmu dengan ayahku?” serang Liana langsung.


.


.


.


.


Sepertinya cerita sudah akan masuk ke babak akhir, bestie☺


Aku ada give away lagi untuk yang terakhir kali di novel ini☺tunggu pengumumannya besok ya😘


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏


Jangan lupa like dan komentar yah😘

__ADS_1


__ADS_2