
Sesampainya di depan pintu ruang kerja Presdir Wang, Falcon melihat jika Debora mengetuk pintu tersebut tiga kali, sesuai yang pernah dikatakan oleh Liana tentang peraturan di rumah kakeknya.
“Masuk!” terdengar sahutan dari dalam.
Kepala pelayan itu pun membuka pintu dan mempersilahkan Falcon untuk masuk ke dalam ruangan tersebut. Nampak pria tua itu duduk di kursi kayu yang berada di dalam ruangan.
setelah Falcon masuk, Debora menutup pintu dan meninggalkan kedua pria beda generasi itu. Falcon masih melirik ke arah Debora sesaat, kemudian dia kembali melihat ke depan di mana kakek kekasihnya berada.
“Duduklah,” seru Presdir Wang.
“Terimakasih, Tuan. Tapi ini sudah malam. Sebaiknya Anda juga segera beristirahat,” ucap Falcon.
“Kalau begitu langsung saja katakan, apa yang kalian lakukan sepanjang hari sampai anak itu pulang ketiduran seperti itu?” tanya Kakek Joseph.
“Liana terlalu banyak menangis hingga dia kelelahan,” jawab Falcon.
“Apa? Menangis? B*jingan! Apa yang sudah kau lakukan pada cucu ku?” cecar Tuan Wang.
Pria tua itu bahkan sampai berdiri dari duduknya dan menggebrak meja yang ada di depannya.
“Kami baru saja menemukan tempat pelarian dan juga makam ibunya,” jawab Falcon cepat.
“A... Apa? Jadi... Kalian...,” tanya Kakek Joseph terbata.
“Benar, Tuan. Liana dan aku baru saja pergi ke sana. Dia kelelahan karena selama di tempat itu terus menerus menangis,” jawab Falcon.
Kakek Joseph lemas mendengar hal itu. Dia pun terpaksa kembali duduk dan berpegangan pada sandaran kursi.
“Di mana... di mana tempatnya?” tanya pria tua itu.
“Heaven Forest,” jawab Falcon.
__ADS_1
“Hutan yang lebat dan gelap itu?” tanya Kakek Joseph memastikan.
“Benar, Tuan,” sahut Falcon.
Pria itu pun diam sambil memegangi dadanya. Kali ini yang dirasakan bukanlah nyeri karena penyakit jantung yang dideritanya, melainkan sesak di dada yang membuat buliran bening mulai muncul di pelupuk mata.
Setelah mendengar perkataan dari Falcon, pria tua itu terus diam. Cukup lama Falcon berdiri di sana, hingga akhirnya dia pun pamit undur diri.
Sepanjang malam, Kakek Joseph berada di dalam ruang kerjanya, meratapi nasib sang putri yang menghabiskan masa-masa terkahirnya seorang diri di hutan yang begitu gelap, jauh dari keberadaan manusia.
Kenapa nasibmu bisa semenyedihkan ini, Nak? rintih sang kakek dalam hati.
Hingga pagi menjelang, pria tua itu masih saja terjaga di dalam ruang pribadinya. Dia kemudian keluar dari ruang tersebut menuju ke sisi lain dari rumahnya.
Dia ingin melihat kondisi sang cucu yang pasti juga merasakan kesedihan saat melihat kehidupan sang ibu di akhir hidupnya yang begitu menyedihkan di hutan sana.
Kakek Joseph pun membuka pintu kamar sang gadis, dan melihat jika Liana masih tertidur di atas ranjangnya. Dia hanya berdiri di depan pintu dan tak mau menganggu istirahat cucunya itu.
“Selamat pagi, Tuan,” sapa Jimmy.
Kakek Joseph menoleh. Melihat kehadiran sang asisten di sana, dia pun kembali menutup pintu kamar cucunya.
“Ikut aku ke ruangan ku, Jim,” seru Kakek Joseph.
Sang asisten pun menunduk mempersilakan sang bos untuk berjalan terlebih dulu di depan.
Sesampainya di ruang kerja, Jimmy menutup rapat pintu ruangan tersebut, dan melihat tuannya berdiri di depan jendela.
“Ada apa, Tuan? Sepertinya Anda semalam tidak tidur? Tolong jaga kesehatan Anda dengan baik, Tuan,” seru Jimmy.
“Aku menemukan Lilian, Jim,” ucap Kakek Joseph.
__ADS_1
“Benarkah, Tuan? Tapi bagaimana bisa? Saya sudah mencoba untuk mencarinya kemana-mana, tapi tidak pernah menemukan jejaknya,” sahut Jimmy.
Dia tak menyangka jika nonanya akan ditemukan setelah sekian lama.
“Preman itu yang mengatakannya padaku,” jawab Presdir Wang.
“Maksud Anda adalah Falcon... Ehm... Maaf, Tuan muda Harvey kah yang memberitahu Anda, Tuan?” tanya Jimmy.
“Benar,” sahut pria tua itu.
“Kelompok mereka benar-benar cepat dalam mencari sebuah informasi,” ucap Jimmy.
“Kau benar. Mulai sekarang, sepertinya kau harus meminta bantuan anak-anak berandalan itu, Jim. Selama ini kau terus saja lelet dalam mencari informasi penting,” seru Kakek Joseph.
“Sepertinya memang harus begitu, Tuan. Lalu, apa yang akan Anda lakukan selanjutnya mengenai Nona Lilian?” tanya Jimmy.
“Ayo kita jemput putriku pulang!" seru Kakek Joseph.
.
.
.
.
Sampai sini dulu ya bestie 🥰besok lanjut lagi yes😁
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘
__ADS_1