
Chevrolet sport itu terlihat tengah memasuki pekarangan mansion Dream Hill. Kedatangan Liana ke tempat itu terasa berbeda dari biasanya. Jika sebelumnya dia merasa pulang ke rumah, setiap kali datang berkunjung ke mansion keluarga Wang, namun kini rasanya begitu canggung dan tempat itu seakan begitu asing untuknya.
Dia masih duduk di balik kemudi dengan perasaan yang belum bisa tenang. Ragu menyelimuti hatinya untuk turun dan menemui satu-satunya keluarga yang masih tersisa.
Apa yang akan ku katakan pada Kakek saat melihatnya? Kenapa rasanya sulit sekali ketimbang menemui musuh bebuyutan, batin Liana.
Dia menyandarkan kepalanya di atas setang bundar, sambil memejamkan matanya untuk meredam emosi yang masih berkecamuk di dalam dadanya.
Berkali-kali gadis itu menghela nafas berat setiap kali dia hendak turun, dan lagi-lagi dia pun kembali pada posisi semula.
Hingga sebuah dering ponsel membuyarkan pikirannya. Liana pun menoleh ke arah tas punggung yang ada di kursi depan. Dia mengambil ponsel dari dalam sana, dan melihat nama yang begitu akrab tertera di layarnya.
Liana pun segera menggeser tombol hijau ke kanan, dan memasang earphone ke telinga kirinya.
“Halo,” sapa Liana.
Gadis itu kembali menyadarkan keningnya di setang kemudi, sambil berbicara dengan orang yang melakukan panggilan dengannnya
“Kenapa kau tidak masuk ke dalam?” tanya si penelepon.
“Apa kau terus memata-mataiku? Jangan bilang ketika aku mandi pun kamu tetap mengawasiku,” sindir Liana.
“Hei! Hei! Aku tidak semesum itu, Nona. Tapi kalau kau mau, aku bisa melakukannya dengan senang hati,” goda si penelepon.
“Dasar mesum! Aku yang keberatan. Enak saja,” gerutu Liana.
Penelepon itu pun terbahak mendengar jawaban dari Liana. Mereka berdua terlihat begitu akrab dari cara mereka berbicara di telepon.
“Hei, Tuan muda ke lima. Apa yang harus aku katakan saat bertemu dengan Kakek?” tanya Liana.
Pertanyaan gadis itu membuat si penelepon yang adalah Tuan muda ke lima alias Alex atau Falcon, menghentikan tawanya seketika.
“Aku yakin, ada banyak hal yang ingin kalian sampaikan masing-masing. Hanya saja, ego kalian terlalu tinggi. Bukankah dirimu itu cerminan dari Pak tua Wang saat masih muda. Sombong dan selalu semaunya sendiri,” sindir Falcon.
“Hei, aku tidak seburuk itu ya. Aku lebih baik hati dari pada Kakek,” sanggah Liana.
__ADS_1
“Terserah kau saja. Yang jelas, kamu masuk dulu temui kakekmu. Masalah kata-kata, nanti juga akan keluar sendiri. Percaya lah padaku,” ucap Falcon.
Pria itu berusaha memberikan pengertian kepada gadis, yang sudah mulai menempati ruang di hatinya itu, agar mau berbaikan dengan Kakek Joseph.
Dia tak ingin jika Liana menyesali sikap keras kepalanya, mengingat umur Kakek Joseph yang sudah sangat renta. Jika dikatakan secara kasar, usia kakek tua itu hanya tinggal menghitung hari saja, dan Falcon ingin Liana merasakan hangatnya cinta sebuah keluarga.
Falcon sangat tahu bagaimana rasanya seorang diri di dunia, serta harus bersama orang asing selama hidupnya, seperti yang pernah dirasakam Liana dulu sebelum bertemu dengan Jimmy dan juga Kakek Joseph dalam kecelakaan waktu itu.
“Jangan terlalu banyak berpikir! Kalian bukan anak kecil lagi kan? Pasti kalian bisa menyelesaikan ini dengan baik-baik. Masuklah, dan temui kakek mu,” seru Falcon.
“Cerewet! Sejak kapan sifatmu sama seperti Long? Iya. Iya. Aku masuk sekarang. Apa kau puas?” sungut Liana.
“Itu baru gadis ku,” sahut Falcon.
“Apa?!” pekik Liana saat mendengar perkataan Falcon yang diluar perkiraannya.
“Apa? Memangnya aku bilang apa? Sudah sana masuk. Aku tau ya kalau kamu berbohong,” jawab Falcon mengalihkan pembicaraan.
“Hish! Menyebalkan. Sudahlah. Ku tutup dulu,” ucap Liana ketus.
Bagai kucing dan anjing, itulah yang selalu terjadi saat mereka berdua berhadapan. Meski setiap kali berpisah pasti akan saling merasa kehilangan.
Dia diam sejenak dan kembali mengambil nafas dalam dan mengembuskannya sekaligus. Setelah merasa lebih siap, Liana menarik tuas pintu mobilnya dan mendorongnya ke arah luar.
Liana keluar dan memandangi sekelilingnya. Ingatannya kembali saat pertama kali dia tiba di mansion besar itu, sebagai gadis asing dari antah berantah dan kehilangan identitasnya. Seorang gadis yang tak jelas dibawa pulang dan diberikan tempat tinggal serta pekerjaan oleh seorang pria tua.
Seulas senyum dengan mata berlapis bening menghias wajah Liana saat ini. Dia tak menyangka jika arus hidupnya telah berubah sejak saat itu. Dan secara tak langsung, Tuhan memberikannya pertolongan dengan mempertemukan gadis itu kepada keluarganya yang sesungguhnya.
Belum sempat Liana mendekat ke teras depan, terdengar derit pintu bergerak. Liana menoleh dan menadapati sesosok wanita paruh baya dengan kacamata ber frame bulat yang bertengger di atas hidungnya, tengah berdiri di ambang pintu.
“Kalau sudah sampai, kenapa tidak masuk?” tanyanya dengan nada yang seperti biasa, ketus dan dingin.
Bukannya marah, Liana justru tersenyum melihat wanita judes itu. Dia pun berjalan menghampiri si kepala pelayan rumah keluarga Wang yang masih berdiri di ambang pintu.
Liana sedikit membungkuk memberi hormat kepada mantan atasannya.
__ADS_1
“Apa kabar, Nyonya?” sapa Liana.
Debora diam. Dia tak menyahut sama sekali sapaan dari Liana. Tiba-tiba, dia melangkah maju dan memeluk gadis cantik itu dengan erat.
Isak seketika terdengar dari arah wanita itu. Bahkan pundaknya pun berguncang hebat dalam pelukan Liana.
“Nyonya? Anda tidak apa-apa?” tanya Liana bingung.
“Akhirnya Anda kembali, Nona. Akhirnya, Anda pulang ke rumah ini,” ucapnya lirih.
Liana seketika menyadari, jika Debora sudah mengetahui jati dirinya yang sebenarnya. Dia pun tak bisa menyangkal lagi, karena wanita ini bisa dianggap sebagai tangan kiri kakeknya.
Mata Liana kembali berkaca-kaca dengan sikap si kepala pelayan, yang dengan terharunya menyambut kedatangannya kali ini.
Di balik pintu, terlihat beberapa pelayan yang turut menitikkan air mata dengan kedatangannya ke rumah itu. Pasti mereka pun telah mengetahui yang sebenarnya, entah itu dari Debora, Jimmy maupun dari Kakek Joseph langsung.
Liana benar-benar tak menyangka, jika semua orang begitu bahagia atas terungkapnya jati dirinya yang selama ini dia sembunyikan, dan bahkan sempat diambil oleh orang yang salah.
Cukup lama mereka berpelukan, kini Debora mengurai lengan yang sedari tadi melingkar di badan Liana. Tangannya merengkuh lengan kurus itu dan memandang lekat wajah cantik di depannya.
“Masuklah! Kakekmu berada di tempat favoritmu. Beliau selalu menunggumu di sana,” ucap Debora.
Liana tersenyum begitu manis meski linangan air mata masih turun mendera pipinya. Anggukan kecil mewakili bibir untuk menjawab kata-kata sang kepala pelayan.
Liana pun pergi dari hadapan Debora dan melangkah masuk ke dalam, dan hendak menemui kakeknya.
.
.
.
.
Udah dulu hari ini, ketemu ma kakeknya besok aja yah 😁🤭met bobo bestie 😘
__ADS_1
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘