
Gadis itu kembali pergi dari tempat itu. Tujuannya kali ini adalah toko. Pegadaian tempat bibinya menggadaikan benda milik ibunya.
Meski dirinya ingin menggeledah rumah lamanya, namun dia tak bisa masuk begitu saja ke rumah yang telah menjadi milik orang lain tanpa ijin.
Akan tetapi, Liana yakin jika benda itu masih berada di Pegadaian, melihat dari situasi sang bibi yang pergi bahkan dengan diseret oleh anak buah Paulo dan tak sempat membawa benda berharga mereka karena kehabisan uang.
Gadis itu kembali berlarian dengan kaki telanj*ngnya di atas aspal panas di tengah hari yang cukup terik, dan masuk ke dalam mobil.
“Hati-hati, Liana! Malam ini akan ada badai,” teriak Bibi Dora saat gadis itu berlarian menuju mobilnya.
Dari tempat yang tak jauh dari sana, seorang pemuda nampak memperhatikan kedua wanita itu, dengan wajah yang begitu terkejut.
Saat mobil Liana melaju meninggalkan wilayah rumah lamanya, pemuda itu pun mengikuti dengan taksi yang baru saja ia tumpangi, dan kebetulan belum pergi dari sana.
“Jadi benar itu kau, Liana. Jadi kau memang sembunyi di sana selama ini?” gumamnya.
Liana berkendara cukup cepat menuju ke toko pegadaian, yang berjarak tiga blok dari rumah lamanya.
Sesampainya di depan toko tersebut, Liana segera memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu, membuat bagian depan toko tak terlihat dari jalan.
Gadis itu pun segera masuk ke dalam, dan mengagetkan penjaga toko tersebut.
“Paman Luo! Paman Luo!” panggilnya begitu masuk.
Nampak di balik meja toko, hanya ada seorang gadis kecil terlihat kebingungan, melihat seseorang yang tiba-tiba masuk dan berteriak memanggil ayahnya.
“Maaf, Anda siapa, Nona. Tolong sopan sedikit saat di tempat orang!” seru gadis kecil itu.
Liana menghampiri si gadis kecil yang sangat ia kenali.
“Nina, dimana ayahmu? Aku ada keperluan yang sangat mendesak dengannya,” tanya Liana.
Gadis bernama Nina itu pun terkejut, karena orang asing itu tau ternyata tahu namanya. Dia menang mengenal Liana, tapi tak kenal dengan wahahnya yang sekarang.
“Anda siapa? Kenapa tau namanku?” tanya gadis bernama Nina itu.
“Ini aku, Liana. Jangan tanya kenapa aku seperti ini, ceritanya sangat panjang. Aku harus bertemu dengan ayahmu segera. Apa dia ada?” tanya Liana terlihat terburu-buru.
“Sebentar, akan ku panggilkan. Dia sedang ada di kebun belakang bersama ibu,” jawab Nina.
“Cepatlah!” seru Liana.
Gadis bernama Nina itu pun segera masuk ke dalam, dan membiarkan Nina untuk menunggu di tokonya.
__ADS_1
Tak berselang lama, Nina pun kembali dengan membawa kedua orang tuanya yang juga terkejut, dengan kedatangan Liana yang tiba-tiba.
“Di mana dia? Di mana Liana?” tanya pria bermarga Luo itu Saat sampai di tokonya.
“Paman Luo. Ini aku, Liana,” ucap Liana menghampiri pria paruh baya tersebut.
Semuanya terkejut kecuali gadis bernama Nina, yang terlebih dulu menemui Liana dan melihat wajah barunya.
Mereka semua keluar dari balik meja toko, dan menghambur menghampiri Liana yang berdiri di depan mereka.
Paman Luo meraih pundak Liana, dan menggoncangnya beberapa kali. Dia menelisik, melihat dari ujung rambut hingga kaki gadis di hadapannya itu.
Dia bahkan meletakkan telapak tangannya menyilang di depan wajah Liana, untuk menutupi area dagu hingga hidungnya.
“Benar, ini memang mata Liana. Jadi, kau benar-benar Liana?” tanya paman Luo.
Sang istri pun turut mendekat, dan menyentuh pipi gadis itu. Namun, dia kembali menarik tangannya dan membekap mulutnya sendiri.
Matanya berkaca-kaca, melihat sosok gadis yang sudah hampir tiga tahun ini menghilang entah kemana.
“Akhirnya kamu pulang, Nak. Kami di sini sangat cemas saat mendengar kalau kamu menghilang,” ucap paman Luo.
“Maaf kan aku, Paman. Aku terpaksa pergi karena alasan mendesak,” sahut Liana.
“Duduklah, kita bicara sambil duduk saja. Ayo,” ucap Bibi Luo.
Paman Luo pun menuntun Liana agar duduk, sementara Bibi Luo, dia meminta putrinya untuk pergi mengambilkan air minum untuk tamu mereka.
“Aku pergi ke negara bagian A, Paman. Nanti akan ku ceritakan semuanya kepada kalian. Aku kemari ingin meminta sesuatu pada kalian berdua. Ini sangat penting!” ucap Liana saat dia sudah duduk di kursi tamu.
“Ada apa? Katakanlah!” sahut Paman Luo cepat.
“Barang yang digadaikan oleh bibiku, apa itu masih ada?” tanya Liana.
Paman Luo diam. Dia malah saling pandang dengan sang istri. Bibi Luo bahkan menggeleng pelan ke arah suaminya.
Pria paruh baya itu kemudian kembali menatap Liana, dengan perasaan gamang dia pun berkata.
“Boleh paman tau, untuk apa kamu mencari benda itu?” tanya Paman Luo.
“Aku hanya ingin tau, apa yang ibu tinggalkan untukku. Selama ini, bibi tidak pernah membiarkanku melihatnya. Kalau saja saat itu aku tak mendengar perkataan paman, mungkin aku tak akan pernah tau jika benda itu ada di sini,” jawab Liana.
Pria itu menatap Liana dengan ekspresi yang sulit untuk diartikan. Garis wajahnya seolah menyiratkan perasaan sendu.
__ADS_1
Dia meraih tangan Liana, dan menepuk punggung tangan gadis itu perlahan.
“Kamu terlambat. Bibimu sudah mengambilnya dua hari yang lalu,” tutur Paman Luo.
“Apa?! Tapi ... Tapi kenapa? Bukankah bibi dibawa oleh si tua Paulo?” tanya Liana kebingungan.
“Kami pun mendengar hal itu. Tapi, saat dia datang kemari, dia bahkan berpakaian dengan sangat bagus. Gayanya begitu modern dan mewah,” ucap Paman Luo.
“Dia bahkan memiliki supir pribadi,” timpal Bibi Luo.
“Bagaimana bisa? Lalu, di mana dia sekarang? Apa Paman dan Bibi sempat bertanya?” cecar Liana.
“Mereka bilang, mereka sekarang ada di negara bagian A. Tapi, kami tak tau mereka ada di kota mana,” jawab Paman Luo.
Negara bagian A? Apa jangan-jangan, Grey Town. Kalau begitu, tepat seperti apa yang dikatakan oleh Paman Jimmy waktu itu, batin Liana.
Melihat Liana diam saja, Bibi Luo tiba-tiba masuk ke dalam meninggalkan suaminya serta Liana berdua.
“Maafkan kami. Benda itu datang atas nama Caroline. Jadi, saat dia datang dan menebusnya kembali, paman tidak punya pilihan lain selain memberikan padanya. Ditambah, kami tak tau bagaimana kabar mu selama ini. Apa ada yang kau ketahui tentang benda itu?” tanya Paman Luo.
“A... Aku... Aku hanya ingin mencari tau sesuatu tentang diriku, Paman. Sejak kecil, ibu selalu merahasiakan siapa ayahku. Baru-baru ini, aku malah melihat seseorang yang mirip dengan ku, dan dia begitu dekat dengan ibu. Menurut orang-orang, dia kabur dan sempat melahirkan seorang putri. Ibuku bahkan saat itu membantunya lari, tapi orang itu meninggal dan entah anaknya ada di mana. Aku hanya ingin tau, kenapa wajahku begitu mirip dengannya? Apakah aku adalah anak yang dibawa pergi oleh ibu? Aku hanya ingin tau saja kebenarannya, Paman,” ungkap Liana dengan kegalauan yang teramat.
Awalnya, Liana kira bisa mendapatkan apa yang dia cari di kota ini. Namun rupanya, dia justru kalah cepat dengan bibinya, yang lebih dulu datang dan merampas kembali miliknya.
“Aku harus mencari bibi ku, Paman. Sepertinya, aku tau di mana dia sekarang. Terimakasih atas waktunya, lain kali aku akan datang kembali,” ucap Liana yang terlihat terburu-buru hendak pergi dari toko pegadaian itu.
Gadis itu bergegas hendak keluar, namun saat tangannya baru meraih gagang pintu, Bibi Luo kembali memanggilnya.
“Liana, tunggu!”
.
.
.
.
Yey, ketemu lagi hari senen😁votenya masih??? kasih ke aku dong🤭
Hari ini mulai minum obat lagi ya😘
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar yah😘