
Beberapa jam yang lalu, di jalur tunggal perbukitan di sisi timur negara bagian A, sebuah keanehan terjadi. Sinyal seluler tiba-tiba hilang di area tersebut sehingga membuat komunikasi terhambat.
Liana yang saat itu hendak komplain kepada Falcon mengenai iring-iringan mobil anak buah pria itu, yang terus mengawalnya sedari rumah sang kakek, terkendala karena hilangnya sinyal tersebut.
“Eneh! Tidak biasanya seperti ini,” gumam Liana.
Saat Liana kembali hendak menghubungi Falcon, seorang wanita nampak melambaikan tangannya dari kejauhan.
Sebuah mobil terlihat berhenti di tepi jalan, dan wanita itu maju ke tengah kemudian menghadang mobil Liana yang saat itu hendak melintas, hingga terpaksa membuat gadis itu berhenti di sana.
Nampak sekilas wanita itu terlihat biasa-biasa saja. Dia seakan mencari bantuan kepada orang yang lewat karena suatu hal. Wanita tersebut pun langsung menuju ke sisi kemudi dan mengetuk kaca mobil.
Liana menurunkan kaca mobilnya, dan mencoba bertanya pada si wanita itu.
“Ada apa? Apa kau butuh bantuan?” tanya Liana.
“Mesin mobilku tiba-tiba keluar asap. Aku rasa air karburatornya habis. Tapi aku tidak bawa air sama sekali. Sudah ku coba untuk menghubungi bengkel langganan ku, tapi di sini tidak ada sinyal,” tutur si wanita.
Liana mengerutkan keningnya. Dia kemudian kembali melihat sekilas mobil yang terhenti di depan sana. Namun, saat diperhatikan, keningnya mengerut semakin jelas dan alisnya pun hampir menyatu.
Aneh! Dia bilang mobilnya berasap. Tapi cap mobilnya sama sekali tidak dibuka, batin Liana.
Liana larut dalam pikirannya. Kemudian tiba-tiba, semua kerutan di kening gadis itu pun mengendur, dan hilang seketika seolah dia telah menemukan jawaban dari pertanyaannya tadi.
Tatapan gadis itu berubah dingin. Dia kembali menoleh ke arah wanita di sampingnya dan mencoba membuktikan dugaannya.
“Ehm, yah kebetulan di sini sedang tidak ada sinyal seluler hari ini, padahal biasanya selalu ada. Baiklah, aku ada air minum. Sebentar ku ambilkan,” ucap Liana.
Gadis itu pun berbalik memunggungi wanita tadi, hendak mengambil air minum di kursi samping.
Tangan kirinya sengaja ia letakkan di atas dashboar. Dia meraih sebuah pisau lipat kecil yang selalu ia simpan di sana sambil berpura-pura hendak mengambilkan air minum.
Liana merasa gelagat wanita yang ada di belakangnya sangat aneh, melihat dari kebohongannya tentang kerusakan pada mobil yang dikendarai.
Baru saja Liana hendak berbalik dan menyerahkan air minum, tiba-tiba saja seseorang melingkarkan lengannya di leher Liana, sambil menutup hidung dan mulut gadis itu dengan sebuah sapu tangan.
“Eeehhhhmmmm.... Eeehhhhmmmm...!” Liana meronta.
Gawat! Mereka benar-benar menargetkanku! batin Liana.
__ADS_1
Sambil berpura-pura meronta, gadis itu menyimpan pisau tersebut ke saku celana belakangnya. Liana yang cerdik berusaha menahan nafasnya agar tak menghirup terlalu banyak obat bius.
Baiklah. Aku akan ikuti permainan kalian dan mencari tau maksud dari semua ini, batin Liana.
Setelah berhasil menyembunyikan senjata, Liana kembali berpura-pura melemas dan akhirnya dia tak sadarkan diri.
Saat dia sudah terkulai lemas, seseorang mengangkat tubuh gadis itu dan membawanya keluar dari mobil. Mereka kemudian memindahkannya ke mobil yang berhenti dan berpura-pura mogok tadi.
Wanita yang menghentikan laju mobil Liana, duduk di kursi depan, sedangkan pria yang membius Liana, duduk di kursi kemudi. Mereka berdua tak menyadari jika sandranya tidak benar-benar pingsan dan justru mengawasi mereka berdua.
“Ayo jalan!”seru si wanita itu.
"Baik, Kak Alice," sahut si supir.
Mobil pun melaju dan membawa Liana entah kemana. Saat di tengah jalan, si wanita meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
Liana terkejut karena wanita itu bisa melakukan panggilan keluar sedangkan dirinya tak bisa.
“Aku sudah bawa sandranya dan akan segera menuju ke arahmu. Aku juga sudah memberi petunjuk di kamera depan mobil itu sesuai dengan apa yang kau perintahkan,” ucap si wanita bernama Alice.
Dia nampak sedang berbicara kepada rekannya di tempat yang akan mereka tuju setelah ini.
“Dia sangat penurut. Mudah seklai menangkap gadis manis seperti dia. Tapi, Alat pengacau sinyal yang terpasang di mobil gadis itu tidak ku ambil. Biarkan saja untuk cindera mata. Mungkin kenang-kenangan untuk kakeknya agar selalu ingat akan hari ini, saat cucunya kembali menghilang. Hahahahha... Lagi pula, siapa yang bisa memastikan dia akan kembali pulang. Setidaknya, kita harus beri Pak tua Wang itu sedikit petunjuk ketika cucunya tak bisa dihubungi bukan,” ucap Alice.
“Terserah kau saja. Tapi yang jelas, aku tidak mau perbuatan mu itu mengacaukan semuanya,” seru Henry.
“Tenang saja. Lagi pula, urusan kita bukan dengan gadis ini atau pun Presdir Wang. Kau pastikan saja tuan muda itu akan datang dan melihat kekasihnya ini menderita. Dengan begitu, dia pasti akan mau ikut pulang bersama kita,” ucap Alice.
“Baiklah. Aku akan menghubunginya. Pastikan kau membawanya kemari secepatnya,” seru Henry.
“Menghubungi? Lalu, untuk apa kau memintaku meninggalkan petunjuk di kamera depannya? Kau sengaja mau membuatku bertindak konyol hah?” keluh Alice
“Tidak perlu bayak bertanya. Kau cukup bawa sandranya kemari,” seru Henry.
Sambungan terputus dan membuat Alice kesal.
“Kurang ajar! Kalau dia mau mengubungi tuan muda itu, kenapa dia memintaku meninggalkan petunjuk di sana tadi? Menyebalkan!” keluh Alice.
“Ada apa, Kak?” tanya sang pengemudi.
__ADS_1
“Bukan urusanmu! Nyetir saja yang betul!” seru Alice ketus.
Si pengmudi pun tak lagi bertanya dan hanya fokus pada setang bundarnya.
Sedangkan di kursi belakang, Liana mulai mencerna situasi yang saat ini terjadi di dalam otak cerdasnya. Meskipun dia tak bisa mendengarkan perkataan Henry dari seberang sambungan, tapi dari jawaban-jawaban Alice, Liana mencoba menemukan kaitan atas tindak penculikan yang dia alami saat ini.
Tuan muda? Siapa tuan muda yang mereka maksud? Apa Falcon? Bukankah dia juga tuan muda? Apa mereka mau membawa dia pulang ke keluarganya? Apa mereka ingin menggunakanku sebagai alat untuk mengancamnya? batin Liana penuh tanya.
Mobil melaju cukup lama, perntanda jika jarak meraka sudah sangat jauh dari titik terakhir. Lianan membuka sedikit matanya, dan mendapati jika di luar sudah gelap.
Tak berapa lama, dia merasakan jika mobil berhenti. Gadis itu pun kembali berpura-pura tak sadarkan diri dan terus siaga.
Lama mobil terdiam, namun tak ada pergerakan dari orang-orang tersebut. Liana kembali membuka matanya dan mendapati jika mobil telah kosong.
Dia pun akhirnya mencoba bangun dan mencuri lihat ke luar. Nampak begitu banyak orang di luar sana dan semuanya berpakaian serab hitam.
Wah ... Sepertinya akan ada kejadian besar, batin Liana.
Dia melihat wanita yang tadi menjebaknya sedang berbicara dengan seorang pria yang berusia hampir sama dengan Falcon dan penampilan mereka bedua pun bahkan tak jauh berbeda.
Tiba-tiba, saat dia memperhatikan kedua orang di luar, seolah memiliki insting yang tajam, si pria menoleh dan menatap lurus ke arah Liana.
Gadis itu pun seketika menundukkan kepala, dan kembali bersembunyi.
Gawat! Sepertinya aku akan mendapat kesulitan besar kali ini, batin Liana.
.
.
.
.
maaf baru bisa up bestie 🙏 2 bab lagi malam aja yah ✌ 3 bab hari ini cuma mau jelasin kenapa Liana nggak ada pas besi pengait nya jatuh😁
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘
__ADS_1