
Setelah mengetahui kebenarannya, Falcon tak henti-hentinya mengucapkan terimakasih kepada gadisnya, karena sudah menjadi kekuatannya untuk saat ini.
Dia terus memeluk Liana, seolah tak ingin berpisah dengan gadis itu walau sejenak.
Liana sampai dibuat sesak nafas karena Falcon yang begitu posesif memeluknya.
“Mau sampai kapan kau akan memelukku? Aku sudah pegal dan sesak nafas,” keluh Liana.
Falcon pun mengurai pelukannya dan mencubit gemas hidung mancung gadis tersebut.
“Awwww!” pekik Liana kesakitan.
Dia memukul pundak Falcon sambil memegangi hidungnya yang merah dan panas.
“Hehehehe... Kau ini selalu saja merusak momen romantis kita. Apa kau lelah?” tanya Falcon.
“Tentu saja. Lihat ini sudah jam berapa dan kita belum tidur juga,” gerutu Liana.
Falcon kemudian menurunkan badannya dan berbaring di tempat tidur. Sebelah tangannya terentang ke samping dan satunya lagi menepuk-nepuk bantal yang ada di sisinya.
“kemarilah,” seru Falcon.
Pria itu meminta gadisnya untuk berbaring di sampingnya. Namun, Liana mengerutkan kening dengan tatapan yang memicing.
“Kau tidak sedang mencari kesempatan kan?” terka Liana curiga.
__ADS_1
Tangannya sampai menyilang di depan dadanya, sambil menatap curiga ke arah pria itu.
Falcon tak menjawab. Dia kemudian menarik lengan Liana, hingga gadis itu terpaksa jatuh di atas tubuhnya.
“Hei! Lepaskan aku. Aku bisa berbaring sendiri!” seru Liana.
Gadis itu meronta karena Falcon langsung menahan pinggang Liana, agar gadis itu tak bisa kemana-mana. Namun, pria itu pun akhirnya melepaskan Liana, karena gerakan gadis itu sudah memancing sesuatu pada diri Falcon terbangun.
“Harusnya kau menurut sejak awal. Bukankah aku sudah pernah mengatakan kalau aku tidak akan memaksamu, sampai kau sendiri yang menyerahkan dirimu padaku. Kenapa pikiranmu itu selalu mesum?” ejek Falcon.
“Mana ada gadis yang tidak curiga saat seorang pria memintanya untuk tidur di sampingnya,” sanggah Liana.
Falcon mengubah posisinya yang tadi miring menghadap Liana, kini terlentang memandang langit-langit kamar.
“Aku benar-benar merindukan sifatmu yang selalu keras kepala dan tak mau diatur ini. Kau yang selalu bisa menyanggah setiap argumen ku. Kau yang selalu bisa membuatku tergoda untuk menjahili mu. Tapi beberapa hari yang lalu, aku benar-benar sedih saat melihatmu terus murung,” ucap Falcon.
“Maksudmu saat di ruang istirahat karyawan The Palace?” tanya Liana.
Falcon kembali menoleh ke arah Liana dengan tatapan heran. Sedangkan gadis itu, dia terus menatap prianya sedari tadi.
“Apa kau mau tahu kenapa aku mengetahuinya?” tanya Liana.
“Ya, bagaimana kau bisa tahu aku ada di sana? Apa ada temanmu yang melihatku?” terka Falcon.
“Bukan. Aku sendiri yang melihat kau datang ke sana,” sahut Liana
__ADS_1
“Tapi bukankah kau tidur. Lalu, bagaimana kau... Tunggu dulu, apa kau tidak tidur saat itu?” tanya Falcon.
“Aku tidur. Tapi sebelum tidur, aku sempat memperhatikan dirimu yang tiba-tiba duduk di dekat kakiku, menghalau karyawan lain yang akan lewat ke tempat tersebut. Karena sudah aman dan tidak ada yang menggangu, aku pun bisa tidur nyenyak. Yah semacam nostalgia masa lalu saja,” jawab Liana.
“Nostalgia masa lalu? Apa ada yang melakukan hal itu untuk mu selain aku? Kenapa kau tak bangun saja dan bicara padaku? Apa kau malu karena lingkar matamu yang begitu hitam? Kenapa kau sampai menyiksa diri sendiri seperti itu?” cecar Falcon
“Tuan muda ke lima, sepertinya ada banyak yang harus kita luruskan. Pertama, aku tidak menyiksa diri, dan yang ke dua aku tidak begadang karena memikirkanmu,” ucap Liana.
“Lalu, apa alasannya?” tanya Falcon penasaran.
.
.
.
.
Good pagi.... selamat Morning, bestie 🥰🥰🥰🥰🥰
Sarapannya dikit dulu ya, nanti lagi oke😉
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘
__ADS_1