
Beberapa waktu yang lalu, Q yang mengikuti mobil Alice dari belakang, terus mengintai menara tempat Liana disekap.
Dokter itu mengamati letak para anak buah Henry yang berjaga di sana, dan mencoba mempelajari rute untuk bisa menyusup masuk.
Dia melihat menara itu sangat tinggi, dan pasti Liana saat ini sedang berada di salah satu tempat yang sedikit sulit dijangkau. Pandangannya mengarah ke bagian atas menara, di mana sebuah lampu sorot yang telah mati berada.
Setelah menghubungi Falcon, dan mendengar sendiri jika sang ketua gangster lebih memilih tak mempercayainya, akhirnya Q pun memutuskan untuk maju terlebih dahulu dan mengamankan lokasi.
Dia melepas mantelnya, dan hanya menyisakan sweeter hitam dengan kerah tinggi hingga menutup lehernya. Kebiasaan hidup di dunia bawah sejak kecil karena mengikuti sang kakak, sedikit banyak membuatnya selalu memilih baju lapis dalam berwarna gelap.
Hal ini sangat berguna di saat darurat seperti saat ini, karena bisa menyamarkan diri di dalam kegelapan. Dia kemudian mengambil sebuah sapu tangan berwarna gelap, dan menutup wajahnya dengan kain tersebut.
Kini, dia sudah mirip dengan anak buah Henry yang bertebaran di sekiat menara.
Q mencoba mendekat, dan mengawasi pergerakan masing-masing orang. Dia yakin, jika manusia tetaplah manusia. Ada kalanya mereka waspada, ada juga yang lengah.
Dia melihat seseorang yang berjalan ke dalam pepohonan. Rupanya dia hendak buang air kecil di bawah sebuah pohon. Hal ini benar-benar kebetulan yang sudah bisa di tebak seorang dokter seperti Q.
Manusia tetaplah manusia, batin Q.
__ADS_1
Seringai muncul di wajah datang sang dokter, dan dia pun bergerak perlahan mendekat ke arah penjaga itu, dan dengan cepat, dia memukul tengkuk orang tersebut hingga jatuh pingsan.
Q kemudian melepas ikat pinggang orang tersebut dan mengikatkan tangannya ke pohon, serta menyumpal mulutnya dengan kain yang sejak awal menutup wajahnya.
Sang dokter melucuti senjata penjaga tersebut dan dia siap menggantikan posisinya. Q merasa sedikit gugup, karena bagaimanapun, dia sudah jarang berperan dalam pertikaian antar gangster sejak memutuskan masuk ke dunia legal sebagai seorang dokter.
Satu tarikan nafas ia hembuskan sekaligus untuk mengusir rasa gugupnya. Dia pun kemudian maju keluar dari pepohonan dan membaur dengan penjaga yang lain.
Kesempatan ini ia gunakan untuk mencari keberadaan Liana di menara tersebut. Dengan hati-hati dan agar tak dicurigai, dia bergerak perlahan-lahan dan berpindah posisi.
Dia mendekat ke arah pintu masuk. Di sana, terlihat cahaya dari api unggun yang dibuat oleh beberapa orang. Akan tetapi, dia hanya melihat anggota-anggota mereka saja. Tak ada Henry maupun Alice di sana.
Akan tetapi, dia sangat terkejut ketika mendapati seseorang yang saat ini berdiri tepat di hadapannya.
Ya Tuhan! Kenapa dia bisa ada di sini? Apa aku sudah tertangkap? Batin Q.
Nampak satu-satunya wanita di komplotan tersebut berdiri menatap tajam ke arah Q. Dia melipat kedua lengannya di depan dada dengan kepala sedikit miring ke kiri, dan melihat Q nyaris tanpa berkedip.
Q hanya bisa menunduk karena tak berani melihat mata Alice yang begitu mengintimidasi. Tangannya menggenggam erat senjata laras panjangnya, dan bersiap menyerang jika sesuatu hal yang buruk terjadi.
__ADS_1
Alice terlihat maju mendekat ke arah Q, dan kini berdiri tepat di depannya.
“Sedang apa kau di sini, hah?” ucapnya.
Q seketika mengangkat wajahnya. Tatapan keduanya pun bertemu. Seringai muncul di bibir Alice, membuat Q semakin tegang.
.
.
.
.
maaf bestie, di mari hujan😅wifi mati dan baru on lagi🙏
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘
__ADS_1