Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Kemarahan


__ADS_3

Liana turun ke bawah. Di depan sana, masih sama dengan sebelumnya. Terdapat sebuah pintu besi yang menghalangi langkahnya. Liana ingat jika ada sebuah tombol rahasia di sekitar sana yang bisa membuka pintu besi tersebut.


Dia meraba di sekitar, dan akhirnya menemukannya. Saat tombol ditekan, seketika pintu terbuka. Liana pun masuk ke dalam.


Gelap. Begitu gelap hingga Liana tak bisa melihat apapun. Dia bahkan tak sempat membawa ponsel atau apapun yang bisa membantunya melihat di tempat gelap.


Dia melangkah dengan sangat hati-hati. Lantainya begitu licin, dan sangat dingin terasa di kakinya yang telanjang. Tangannya meraba sekitar, hingga akhirnya dia menyentuh dinding yang berada di depan.


Dia kembali meraba, dan menemukan sebuah rolling door yang berada di bagian bawah dinding. Sebuah pintu yang memiliki tinggi hanya sampai pusar orang dewasa.


Liana berjongkok, dan menggedor-gedor pintu tersebut, hingga bunyinya menggema di ruangan gelap tersebut.


“FALCON! BUKA PINTUNYA!” teriak Liana.


Gadis itu yakin, jika dia sudah menemukan tempat persembunyian Falcon yang dulu pernah ia datangi.


Dia terus menggedor-gedor rolling door tersebut, sambil memanggil pria yang ia yakini sedang berada di dalam sana.


“KELUAR! AKU BILANG BUKA PINTUNYA! BIARKAN AKU BERTEMU DENGANMU! FALCON, BUKA PINTUNYA!” teriak Liana.


Karena kerasnya surat teriakannya, Liana sampai terbatuk dan membuat dadanya sakit. Terlebih, karena udara dingin dan pakaiannya yang membuat dia semakin kedinginan.


Liana terus berteirak meski nafas dan dadanya semakin sesak. Dengan sisa tenaganya, dia masih terus menggedor pintu tersebut.


Hingga akhirnya, sebuah bunyi terdengar. Pintu bergerak dan cahaya muncul dari sisi sebaliknya.


Liana yang saat itu sudah terlihat menyedihkan, duduk di lantai dingin dengan gaun yang sudah kotor serta basah, menoleh dan melihat sebuah kaki jenjang yang berada di balik pintu tersebut.


Matanya silau dan tak bisa melihat jelas, siapa yang berdiri di sana. Namun hatinya yakin, jika pria itu lah yang ada di sana.


Orang itu membungkuk dan mengulurkan tangannya ke luar. Liana tak lekas meraihnya. Dia berusaha mengatur nafasnya yang sangat sesak. Dia perlahan mengangkat tangannya dan meraih tangan kekar yang ada di depan.


Dia berdiri dan dengan membungkuk, dia masuk ke dalam sana. Kini, dia bisa melihat dengan jelas orang yang berada di depannya.


Matanya seketika berair, bibirnya bergetar. Bahkan, tubuhnya sudah tak mampu lagi menahan gejolak di hatinya. Dia pun serta merta menghambur dan memeluk pria itu.


Tangis pecah dan menggema di seluruh ruangan tersebut. Tangannya memukul-mukul punggung kekar pria itu sambil terus memakinya.


“BRENGS*K! B*JINGAN! PRIA JAHAT! AKU BENCI PADAMU! KAMU JAHAT! KAMU JAHAT!” maki Liana.

__ADS_1


Gadis itu tak tau, jika di balik punggungnya, pria itu pun bahkan menitikkan air mata. Tangannya mendekap erat tubuh yang terasa begitu dingin itu.


Dengan lembut, Falcon mengusap surai hitam Liana, dan sesekali memberi kecupan di puncak kepala gadis itu.


Liana masih menangis meluapkan kegundahan dan keresahan di hatinya. Meski tak ada ikatan apapun di antara keduanya, namun lagi-lagi, tubuh mereka bertindak mewakili ego yang masih menghalangi hati mereka.


...👑👑👑👑👑...


Di tempat lain, beberapa saat yang lalu, seorang pria nampak meneteskan air mata, kala melihat sosok gadis cantik yang tengah duduk di samping Presdir Wang, di sebuah siaran langsung yang ditayangkan oleh salah satu stasiun televisi.


“Lilian,” gumamnya.


Seorang pemuda yang saat itu bersamanya, begitu terkejut akan sikap pria yang tak lain adalah pamannya, yang terlihat begitu sedih.


Dari sorot matanya yang terus memandangi wajah gadis itu, terlihat kerinduan dan rasa penyesalan yang teramat dalam.


Satu kata yang keluar dari mulutnya, hanyalah satu nama.


“Lilian,” panggilnya lirih.


“Paman, apa paman mengenalnya?” tanya pemuda itu.


Tidak biasanya Paman terlihat begitu sedih seperti ini, batin si pemuda itu yang adalah Christopher Chen.


Pria itu tak menghiraukan pertanyaan dari keponakan laki-lakinya tersebut. Dia terus memandangi wajah di televisi itu, dengan tangan yang terus mengusap lembut layar datar tersebut.


“Paman, apa paman mengenal Lilian Wu?” tanya Christopher lagi.


Pria itu pun kemudian menoleh, saat mendengar keponakannya menyebutkan nama yang sama dengan marga yang berbeda.


“Apa kau bilang? Siapa namanya?” tanya sang paman.


“Gadis itu. Yang saat ini sedang menjadi bintang di acara yang kita lihat itu. Apa Paman mengenalnya?” tanya Christopher.


“Dia Lilian Wang. Putri Presdir Wang dari Wang Construction,” jawab sang paman.


“Bukan, Paman. Beberapa tahun ini, dia muncul sebagai seorang arsitek muda yang gemilang dengan nama Lilian Wu. Nama aslinya adalah Liana Yu, sebelum bertemu dengan kakeknya, Tuan Joseph Wang. Tapi setelah hari ini, nanya berganti menjadi Liana Wang. Dia adalah putri dari Lilian Wang, cucu satu-satunya dari Joseph Wang,” ungkap Christopher.


Seketika itu juga, pria yang merupakan paman dari Christopher, terlihat terhuyung. Pijakan kakinya seolah goyah, seperti tanah tak lagi rata.

__ADS_1


“Paman! Apa Paman baik-baik saja?” tanya Christopher.


Dia merasa khawatir melihat sang paman yang tiba-tiba bersikap sangat aneh seperti itu. Dia pun mendekat dan berusaha membantu pamannya untuk kembali duduk di sofa.


“Lilian memiliki seorang putri? Ini tidak mungkin. Si brengs*k itu bilang kalau dia sudah meninggal puluhan tahun yang lalu. Bagaimana dia bisa memiliki seorang putri dan .... dan aku bahkan tidak tahu. Ayah! Ayah pasti tahu sesuatu!” ucap sang paman.


Pria itu menepis tangan Christopher dan berusaha pergi dari ruang pribadi sang keponakan. Langkahnya bahkan tak bisa tegap dan harus berpegangan pada sesuatu di sekitarnya agar tak terjatuh.


Kakinya mendadak lemas, setelah mendengar penuturan dari keponakannya atas siapa gadis yang muncul di televisi itu.


Ayah! Aku yakin ini semua ulah Ayah dan Moses. Aku yakin ini ulah mereka lagi, batin sang paman.


Dengan tertatih-tatih, dia pun berjalan menuju ke ruang kerja ayahnya yang berada di lantai tiga. Susah payah dia naik ke atas, demi meminta penjelasan atas kabar yang baru saja didengarnya.


Sesampainya di depan pintu, pria itu menggedor papan kayu tersebut dengan keras, hingga bunyinya membuat gema di hampir seluruh ruang terdekat.


“AYAH! AYAH, BIARKAN AKU MASUK! AYAH, KAU HARUS MENJELASKAN SESUATU PADAKU! AYAH!” teriak pria itu.


Namun, teriakannya tak lantas membuat pintu langsung terbuka. Dia kembali menggedor pintu tersebut, hingga akhirnya si empunya membuka pintu dari dalam.


Nampak seorang pria tua yang muncul dari balik sana, dengan sebuah tingkat kayu yang membantunya berjalan.


“Apa kau sudah gila, malam-malam begini berteriak-teriak di dalam rumah?” bentak Jerome, sang tetua di keluarga Chen, pemilik Empire Grup.


“Ayah yang sudah membuatku gila. Selama ini, ayah mengurung ku dan membatasi semua informasi dari luar. Ayah bahkan menutupi kenyataan bahwa aku memiliki seorang putri. Lilian telah melahirkan putri ku! Kenapa Ayah tega membohongi ku!” bentak si paman tak kalah keras.


.


.


.


.


Wah... bestie, lebaran udah deket banget🥰emak-emak tambah repot banget, Anak-anak heboh baju lebaran, emaknya mah apalah daya🤭😅


Sehat selalu ya bestie 🙏maaf belum bisa update seperti biasa lagi😊


Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentar yah😘


__ADS_2