
Hari-hari berlalu. Falcon masih berada di Empire State, dan kini telah mulai bekerja di The Palace. Awalnya memang dia sangat menolak, namun ancaman sang tuan besar yang lagi-lagi melibatkan Liana, membuatnya terpaksa melakukan semua yang diinginkan pria tua itu.
“Kau mulailah bekerja di perusahaan besok,” seru Tuan Harvey beberapa jam setelah kepergian Liana dan Nona Shu dari kediamannya.
“Apa aku tidak salah dengar? Bukankah anak, menantu dan semua cucu Anda sudah menguasai semua perusahaanmu? Milik siapa yang akan Anda ambil dan serahkan padaku?” cecar Falcon.
“The Palace. Bekerjalah di sana mulai besok,” jawab Tuan Harvey.
Falcon nampak tertawa mengejek, akan perkataan yang tadi sampaikan oleh pria tua itu.
“Hahaha... Benar juga. Mana mungkin Anda memberiku perusahaan yang besar. Aku terlalu naif,” sahut Falcon.
“Bagus kalau kau sadar akan kedudukanmu. Jadi, bersiaplah untuk mulai bekerja. Jika kau bisa bekerja dengan bagus, maka aku akan memberimu sedikit kelonggaran agar bisa bertemu dengan gadis mu itu,” ucap Tuan Harvey.
Meski ekspresi Falcon masih sangat geram dengan sikap pria tua di depannya, akan tetapi tak dipungkiri, jika dalam hati ada sedikit harapan akan bisa bertemu lagi dengan Liana.
Falcon tau betul konsekuensi yang harus ditanggung, ketika telah terjerat oleh Presdir Harvey. Tak akan pernah ada kebebasan sedikit pun, sama seperti yang terjadi pada dirinya dan juga sangat ibu, yang harus terpisah hingga salah satu dari mereka mati.
Akhirnya, Falcon pun hanya bisa pasrah dan mengikuti permainan yang diatur oleh Tuan Harvey. Kini yang dia inginkan hanya dua hal, memberitahukan anggota gengnya bahwa dia baik-baik saja, serta melihat gadisnya yang mungkin kini telah benci padanya.
Selama kurun waktu hampir seminggu, Falcon dengan tekun bekerja di The Palace, sebagai tim perencanaan. Salah satu tugasnya yaitu mengawal proses sebuah proyek yang akan digarap, diantaranya adalah proyek Paradise, di mana mereka akan bekerjasama dengan Wang Construction.
Akhir pekan pun tiba. Sebuah surel datang dari Golden City, dan mengabarkan akan diadakan sebuah acara besar, yang menyangkut pengumuman ahli waris dari sebuah perusahaan konstruksi besar di sana.
Terlampir juga sebuah undangan yang datang dengan surat pemberitahuan tersebut, dan telah diketahui oleh Tuan Harvey.
Sebuah lift datang ke lantai paling atas, di mana ruang kerja sang pimpinan The Palace berada.
Tampak Jack dan seorang pria keluar dari sana, dengan gaya yang jauh dari kata formal, sesuai dengan habit kerja di perusahaan property tersebut.
“Tuan, Tuan muda sudah tiba,” ucap Jack.
__ADS_1
“Suruh dia duduk di sana,” seru Tuan Harvey.
Pria itu menunjuk kursi yang berada di depan meja kerjanya, sementara dirinya tengah bermain golf di lapangan buatan yang ada di ruangan besar tersebut.
Jack mempersilakan Falcon untuk menuju ke tempat yang sudah ditunjukkan. Sang ketua gangster yang tengah hiatus sementara itu pun, segera berjalan ke arah meja kerja sang kakek.
Tuan Harvey tak lekas menemui Falcon. Dia terus bermain dengan stik dan bola golf, hingga entah pukulan ke berapa, seolah tengah menguji kesabaran dari cucu laki-laki satu-satunya itu.
Setelah puas bermain, Tuan Harvey kemudian memberikan stik golf nya kepada Jack untuk disimpan kembali. Sedangkan dirinya, berjalan ke arah minibar dan mengambil minuman.
“Kau mau minum apa?” tawar Tuan Harvey pada Falcon.
“Sebaiknya cepat katakan apa maksud Anda memanggilku kemari. Masih banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan di bawah,” seru Falcon.
“Oh ya? Apa kantorku sekarang seketat itu mempekerjakan karyawan? Ah... Aku lupa. Kau karyawan khusus yang tidak boleh santai di sini,” sahut Tuan Harvey menimpali perkataannya sendiri.
Falcon berusaha tenang agar tak terpancing emosi, yang dengan sengaja diprovokasi oleh sang kakek.
“Aku ada tugas baru untukmu,” seru Tuan Harvey.
Falcon diam. Dia seolah tak mau tau dan hanya menunggu kesialan apa lagi yang akan diberikan oleh pak tua di depannya.
Tuan Harvey mengambil sesuatu dari dalam laci, dan meletakkan benda tersebut di atas meja.
“Kulihat, kau bekerja cukup baik satu minggu ini. Ini hanya hadiah kecil dariku. Jika kelak kerja mu semakin baik lagi, maka hadiahnya akan semakin menarik lagi,” ucap Tuan Harvey.
Tuan Harvey menyodorkan sebuah kertas berwarna hitam dan bertuliskan dengan tinta emas. Dari tempatnya berada, Falcon bisa melihat nama sebuah perusahaan yang sangat tidak asing baginya.
“Ambillah! Wakili perusahaan ini untuk menghadiri acara tersebut,” seru Tuan Harvey.
Falcon pun meraihnya. Rupanya, itu adalah undangan untuk menghadiri acara yang akan diadakan oleh sebuah perusahaan rekanan, mengenai pengumuman siapa penerus berikutnya.
“Ini bukan jebakan lainnya kan?” tanya Falcon waspada.
__ADS_1
“Hei, Nak. Aku ini seorang pria. Tak pernah sekalipun aku menarik kata-kataku. Pantang untuk seorang Harvey berbohong,” sahut Tuan Harvey.
Pria tua itu kemudian meneguk kembali minuman di dalam gelasnya, sedangkan Falcon masih memperhatikan undangan yang kini berada di tangannya.
“Anggap itu hadiah, karena kau telah menurut padaku. Datanglah sebagai wakil The Palace dan sampaikan ucapan selamat dari ku kepada mereka,” seru Tuan Harvey.
“Baiklah. Aku akan pergi. Tapi ku harap, Anda tidak bermain-main kali ini,” ancam Falcon.
Namun, Tuan Harvey justru terbahak mendengar ancaman dari cucu laki-laki nya itu.
“Hahahahaha... Siapa kau berani mengancamku? Kau pikir meskipun kau kesana, kau bisa bebas dari pengawasan ku? Aku hanya memberikan kelonggaran padamu untuk bertemu mereka sebentar. Acaranya akan diadakan malam nanti. Kau pulang dan bersiaplah. Waktumu di Golden City hanya sampai esok pagi. Setelah itu, entah cukup atau tidak, kau harus kembali lagi kemari, atau gadis itu beserta teman-temanmu akan ku hancurkan,” ancam balik Presdir Harvey.
“Aku pegang kata-kata Anda, Tuan besar. Ku harap, Anda tidak ingkar janji kali ini,” sahut Falcon.
“Hei, Nak. Sudah ku bilang, aku ini pria sejati. Dan pria sejati tidak akan pernah ingkar janji. Pulang dan bersiaplah. Ingat! Waktu hanya sampai esok pagi,” seru Tuan Harvey.
Tanpa menyahut lagi, Falcon berdiri dari duduknya. Dia berbalik dan berjalan menuju ke arah Lift, dan turun ke lantai bawah di temani oleh Jack.
Setelah mendapatkan perintah dari Tuan Harvey, Falcon pun bergegas untuk pulang dan bersiap pergi menemui gadisnya di kota seberang.
.
.
.
.
Event masih berlangsung 😁kumpulkan poin banyak2 dan kasih dukungan ke sini biar dapat hadiah receh🥰
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘
__ADS_1