
Northern Hospital. Malam ini rumah sakit itu diserbu oleh banyak sekali wartawan. Mereka ingin mendapatkan berita eksklusif mengenai penculikan sang pewaris Wang Construction, Liana Wang.
Mobil Falcon telah tiba dan memilih untuk masuk melalui jalan bawah.
“Cegah wartawan itu mengikuti kita! Jangan biarkan mereka mengganggu istirahat Kakak ipar kalian,” seru Falcon.
“Baik, Bos,” sahut anak buah Falcon.
Pria itu memakaikan masker pelindung wajah kepada Liana, dan juga sebuah topi untuk menyamarkan dirinya sendiri.
Falcon menggendong gadisnya menuju ke arah lift untuk membawanya kembali ke ruang perawatan sebelumnya.
“Aku bisa jalan sendiri,” keluh Liana
Gadis itu merasa tak nyaman jika harus digendong di tempat umum.
“Diam dan menurut lah!“ seru Falcon.
Nada bicaranya masih saja datar, membuat Liana hanya bisa menuruti perkataannya.
Sesampainya di lantai bangsal VIP, semua lorong nampak telah dijaga ketat oleh orang-orang geng Jupiter.
Falcon pun segera membawa Liana masuk ke dalam ruang rawatnya, dan meminta seseorang memanggilkan dokter.
__ADS_1
Tak berselang lama, seorang dokter dan dua orang perawat masuk, kemudian langsung menangani luka-luka yang ada di tubuh Liana.
Falcon terus berada di samping gadis itu. Hatinya sakit saat melihat dengan jelas bagaimana wajah Liana saat ini.
Sejak di menara hingga tadi, dia belum sadar betul seberapa parah lebam yang ada di wajah gadisnya.
Liana terus meringis kesakitan saat perawat mengolesi obat memar di sekitar wajahnya. Tangannya pun banyak luka sayatan pecahan kaca, bahkan ada dua luka yang butuh jahitan karena cukup dalam.
Setelah selesai, perawat membantu Liana membersihkan badannya, serta mengganti pakaiannya dengan baju pasien yang baru.
Sementara di luar, dokter berbicara kepada Falcon mengenai kondisi Liana saat ini, dan apa yang harus dilakukan gadis itu agar cepat pulih.
“Kondisi Nona Wang saat ini tidak bisa dianggap remeh. Saat dia dibawa pergi dari rumah sakit, kondisinya masih sangat lemah. Ditambah berada di luar dengan cuaca yang sangat dingin dengan hanya mengenakan pakaian tipis seperti tadi, rentan untuknya terkena radang paru-paru hingga pneumonia.”
“Baik, Dok. Saya mengerti. Terimakasih informasinya,” sahut Falcon.
Setelah mengatakan hal itu, sang dokter pun pergi meninggalkan Falcon di luar ruangan tersebut. Sementara sang ketua gangster menunggu gadisnya selesai berganti pakaian.
Beberapa saat kemudian, Liana telah dipapah oleh perawat dan kembali duduk di atas tempat tidurnya.
Selang infus telah kembali menancap di pembuluh venanya yang sempat dicabut paksa oleh Alice.
Setelah perawat pergi, Falcon berjalan mendekat dan duduk di samping tempat tidur Liana. Pria itu masih saja menunjukkan wajah datar saat menatap gadisnya, dan membuat Liana merasa tak nyaman.
__ADS_1
“Wajahmu itu benar-benar sangat menggangguku. Aku butuh pemulihan. Harusnya kau bisa tersenyum dan membuat suasana hatiku membaik,” ucap Liana.
“Kau peduli dengan suasana hatimu, lalu bagaimana dengan suasana hatiku? Kau tahu bagaimana takutnya aku saat tahu kau hilang?” cecar Falcon.
Liana tersenyum tipis karena dia bisa memahami emosi Falcon saat ini. Gadis itu lebih suka jika prianya mau mengungkapkan emosi yang ada di hatinya, dari pada hanya diam dan membuatnya ikut merasa tak tenang.
“Benarkah kau takut? Q bilang bahwa kau tak percaya saat dia melaporkan aku telah diculik?” sanggah Liana.
Falcon terdiam. Pria itu kembali memasang wajah datar di depan gadisnya. Tatapannya lebih tajam, tak seperti sebelumnya. Liana merasakan ketegangan dalam tatapan itu, dan membuat dia bersiap dengan perkataan Falcon selanjutnya.
“Apa kau sudah berkomplot di belakangku lagi kali ini?” tanya Falcon.
.
.
.
.
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘
__ADS_1