
Sore itu, Liana kembali ke kantor dengan membawa artikel yang dipinjamkan oleh Christopher kepadanya. Dia hendak mengadakan rapat dadakan dengan bagian keuangan dan lapangan, perihal temuan barunya tentang lokasi proyek yang belum diketahui oleh banyak orang.
Rapat dadakan ini begitu mengundang perhatian seluruh karyawan di perusahaan, karena baru kali ini terjadi kesalahan yang dilakukan oleh sang arsitektur hebat, Lilian Wu yang terkenal detil dan serba sempurna.
Banyak pula cibiran-cibiran dari seniornya yang merasa tersisih, dengan bakat gemilang Liana dalam dunia rancang bangunan.
“Tekadang bakat itu kalah dari jam terbang,”
“Seorang anak kecil yang selalu diberikan keberuntungan, pasti akan menangis ketika terjatuh,”
“Yah, bisa dilihat. Tidak ada yang namanya jenius. Semuanya butuh proses dan belajar,”
“Bakat alami? Omong kosong,”
“Dia terlalu pongah. Merasa di atas angin hingga tak lagi teliti seperti sebelumnya,”
“Hanya anak kecil. Tau apa dia?”
Begitulah perkataan dan cibiran dari beberapa senior yang merasa iri dengan nama Liana yang terus meroket beberapa tahun terakhir, semenjak dia pertama kali terjun ke bidang yang ia geluti sekarang
Namun, gadis tangguh itu tak sedikitpun termakan omongan mereka. Dia dengan percaya dirinya mengakui kesalahannya tersebut, namun dia pun mengatakan kalau semua hal tersebut tak sepenuhnya salahnya.
“Lahan ini milik pribadi dari Tuan Yun dan diambil alih oleh kelompok rantai besi sebagai jaminan hutang Tuan Yu pada mereka. Saya sudah mengkonfirmasi kepada pihak yayasan Xing Ping, selaku pemilik Golden Hospital yang akan kita bangun ini, bahwa mereka pun tak mengetahui jika lahan tersebut dulunya adalah sebuah kolam pemancingan yang cukup besar. Semua hal tentang pemancingan itu bisa Anda lihat di salinan artikel yang ada di hadapan masing-masing” ucap Liana.
Gadis itu dengan lantangnya mempresentasikan temuannya yang terbilang mendadak dengan cukup baik di hadapan sekitar tiga orang yang berkaitan dengan hal tersebut. Dia bahkan mempersiapkan semuanya agar bisa menjelaskan kepada pihak terkait sehingga memperbolehkannya melakukan perubahan.
Nampak semua hadirin membolak-balikkan kertas yang berisikan artikel tentang lahan tersebut.
“Saya mendapatkan informasi ini dari seorang wartawan, yang kebetulan tengah mengambil gambar di sekitar area lahan tersebut. Dia memberitahukan hal-hal yang berkenaan dengan tempat itu. Sehingga beruntung, hal ini segera diketahui sebelum proses penggalian pondasi dimulai. Jika tidak, pasti akan sangat fatal akibatnya untuk kedepan,” lanjut Liana.
“Jadi, apa Anda meminta perubahan dana untuk pondasi awal? Apa Anda sadar, selisihnya cukup besar dari dana semula,” ucap menejer keuangan Wang Construction.
“Mengenai hal itu, saya sudah menyiapkan panggilan video dengan kepala yayasan Xing Ping. Kebetulan beliau saat ini tengah berada di luar negeri, sehingga saya belum bisa menemuinya secara langsung. Mari kita hadirkan beliau di rapat ini, agar bisa memperoleh keputusan yang terbaik untuk kedua belah pihak,” seru Liana.
__ADS_1
Semua orang nampak berbisik-bisik mencari keputusan atas usulan dari Liana tadi. Hingga kemudian, menejer keuangan kembali bersuara.
“Baiklah. Silakan mulai panggilan vidionya,” ucap menejer keuangan.
“Baik. Mohon tunggu sebentar. Akan saya sambungkan ke layar jika sudah tersambung,” sahut Liana.
Gadis cerdas itu pun segera melakukan sambunga vidio call dengan kepala yayasan Xing Ping, dan menghadirkan orang penting itu ke tengah rapat.
Rapat kemudian kembali berjalan alot, terlebih karena mereka tengah membicarakan perihal dana. Sisa dana yang dibutuhkan cukup besar, hampir mencapai nilai tiga koma lima juta dolar (setara dengan sekitar 50M dalam rupiah). Bukan nilai yang sedikit untuk sebuah selisih anggaran dana atas perubahan tersebut.
Ketika semuanya tengah berdebat masalah uang dan uang, Liana menyela dengan argumentasinya mengenai keuntungan dan kerugian yang akan mereka tanggung, jika masih tetap berdebat seperti ini.
“Mohon maaf sebelumnya. Ijinkan saya untuk memberi sedikit pandangan tentang masalah ini. Kita semua tahu jika proyek ini sangat penting untuk yayasan Xing Ping, karena sedang mencoba untuk mengatasi kendala kesehatan di area pinggiran kota mengingat banyaknya warga yang terlambat mendapatkan penanganan medis, yang diakibatkan jarak rumah sakit yang terlalu jauh. Ini adalah tujuan yang sangat mulia. Dan pihak yayasan telah menunjuk kami sebagai pemenang tender dalam pembangunan gedung tersebut,”
“Namun, dalam hal ini, ada satu hal yang tidak disampaikan pihak Anda terkait masalah lahan. Saya paham ini bukan murni kesalahan dari pihak Anda, karena memang tidak tau sama sekali, dan ini pun bukan murni kesalahan dari pihak kami, karena survei lapangan tak menerima informasi mengenai hal tersebut. Terlebih, pemukiman di dekat sana pun baru beberapa tahun ini dibangun. Meskipun sudah bertahun-tahun lamanya ditimbun, namun tempat itu sudah cukup lama menampung air, hingga membuat tanahnya mengandung cukup banyak air. Jika diteruskan dengan metode sebelumnya, saya tak bisa menjamin semuanya baik-baik saja. Bahkan mungkin bangunan akan runtuh sebelum selesai dibangun,” papar Liana panjang lebar.
Semua orang mendengarkan dengan seksama semua yang dikatakan oleh gadis tersebut. Hampir separuh audiens mengangguk-angguk, seolah sepakat dengan perkataan Liana. Melihat suasana rapat yang sudah bisa dikondisikan, Liana mengucapkan kata-kata terakhirnya.
“Wang Construction mungkin lebih memilih untuk membayar pinalti pembatalan proyek yang tak seberapa, dari pada menanggung semua kerugian yang akan ditimbulkan kedepannya. Bukan begitu menejer keuangan?” pungkas Liana.
“Benar yang dikatakan oleh Nona Wu. Dalam hal ini, jika pihak Anda tidak bisa memberikan toleransi kepada kami, tak apa jika pihak kami harus membayar ganti rugi untuk pemutusan kontrak kerja sama,” ucap menejer keuangan.
Kepala yayasan Xing Ping terlihat berpikir. Dia kemudian meminta waktu untuk berunding dengan yang lainnya.
“Saya baru akan kembali ke ibu kota besok. Setelah itu, akan saya rapatkan masalah ini dengan seluruh jajaran pengurus yayasan. Setidaknya, berikan waktu tiga hari, dan saya akan menghubungi Nona Wu untuk memberikan keputusannya,” ucap kepala yayasan.
“Baiklah. Semoga kita bisa sepakat di angka 50:50,” ucap menejer keungan.
“Semoga saja. Kalau begitu, saya pamit terlebih dahulu. Masih ada urusan yang harus di selesaikan,” ucap kepala yayasan.
“Baik. Semoga hari Anda menyenangkan, Tuan. Maaf sudah menggangu waktu Anda,” ucao Liana dengan sopan.
“Tidak usah sungkan,” ucap kepala yayasan.
__ADS_1
Sambungan pun terputus. Terdengar riuh dari seluruh hadirin yang ada di ruangan tersebut, karena berhasil menekan pihak klien untuk menyeutujui pengajuan perubahan anggaran biaya proyek.
Liana terlihat biasa saja. Dia sedang membereskan semua berkas, dan juga bahan presentasi dadakannya itu. Menejer keuangan berjalan menghampiri podium tempat Liana berada saat ini.
“Keahlianmu memang selalu menyerang titik psikologis lawan. Dasar gadis licik,” sindir menejer keungan.
“Bukankah lebih baik seperti itu? Setidaknya, kita bisa menekan mereka untuk setuju dengan kita bukan? Terkadang, licik itu perlu. Bukan begitu Kak Xinbi,” sahut Liana.
Keduanya tersenyum. Xinbi merupakan salah satu rekan senior Liana di perusahaan tersebut selain Nona Shu. Dia lebih tajam dan lebih tegas. Hal ini kemungkinan karena tugasnya yang berkaitan dengan area finansial perusahaan, sehingga dia harus bisa tegas dan teliti pada setiap proposal yang masuk hingga laporan pertanggung jawaban proyek yang telah selesai dikerjakan.
“Apa menurutmu ini akan berhasil?” tanya Xinbi.
“Kita lihat saja. Biasanya orang seperti mereka itu tipe tipe-tipe tamak. Hanya tau meraup keuntungan besar tanpa bisa melihat peluang besar dengan sebuah pengorbanan kecil. Jika tebakanku benar, pasti mereka akan setuju. Harusnya kau tadi meminta pembagian dana tambahan 70:30, kenapa malah 50:50. Itu bukan angka yang kecil, Kak,” ucap Liana.
“Hah, sudah lah. Apa kau sibuk setelah ini?” tanya Xinbi.
“Selalu ada waktu untuk traktiran dari mu,” sahut Liana menyeringai.
“Hish, kau ini. Ku tunggu di tempat biasa ya,” ucap Xinbi.
“Sipa, Kak,” sahut Liana.
semuanya pun keluar dari ruang rapat dan kembali ke rumah masing-masing, karena jam kantor pun telah berakhir.
.
.
.
.
Udah 2 ya bestie 😊yang atu jangan ditungguin dulu🤭biasa emak2 kalo sore menjelang buka puasa suka rempong sendiri 😅
__ADS_1
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘