Si Gadis Buruk Rupa

Si Gadis Buruk Rupa
Panik


__ADS_3

Akhir pekan, di sebuah kawasan perbukitan di sebelah timur negara bagian A, Dream Hill, nampak sebuah mobil sport Chevrolet Camaro ZL1 tengah membelah jalanan di sepanjang hutan pinus.


Mobil itu tengah menuju ke sebuah hunian mewah di area kawasan pribadi Dream Hill, mansion keluarga Wang, milik Kakek Joseph.


Mobil yang dikendarai seorang gadis belia, yang terlibat memakai kemeja kotak-kotak hitam merah dan putih, dilapisi sebuah sweeter rajut putih tulang, dan celana jeans hitam serta sepatu boots kulit di atas mata kaki.


Rambutnya dikuncir ke atas dan mengenakan kacamata hitam.



Saat dia memasuki area mansion, gadis itu cukup menekan sebuah tombol dari remot yang ada di dalam dash board mobil, hingga pintu gerbang terbuka dengan sendirinya tanpa dia perlu turun dan membukanya secara manual.


Gadis itu pun melajukan mobilnya ke dalam, memasuki pelataran mansion mewah tersebut.


Sesampainya di depan tangga teras, gadis itu pun menghentikan mobilnya dan turun dari sana. Dia melangkah naik dan mengetuk pintu beberapa kali.


Tak berselang lama, pintu pun di buka. Terlihat seorang pelayanan menyembulkan kepalanha dari balik pintu.


“Lilian?” panggilnya.


Liana pun menoleh dan melihat jika yang membukakan pintu adalah Ella, teman sekamarnya dulu.


“Kak Ella! Apa kabar, Kak?” sahut Liana.


Keduanya berpelukan di depan  pintu masuk, dan tak peduli dengan pelayanan lain yang melihatnya.


Setelah beberapa saat, pelukan mereka terurai.


“Aku baik. Kamu sudah sangat lama tidak kemari. Aku kangen,” rengek Ella.


“Hei, bukannya aku selalu datang setiap akhir pekan di akhir bulan. Apa aku tidak akan disuruh masuk?” tanya Liana.


Mereka berdua pun terkekeh. Ella membuka pintu lebar-lebar, dan membiarkan temannya itu masuk ke dalam.


“Apa semuanya baik-baik saja di sini?” tanya Liana.


“Yah, semuanya baik seperti biasa. Kamu sendiri bagaimana? Apa kamu betah dengan pekerjaanmu itu?” tanya Ella balik.


“Yah, begitulah. Itu seperti sudah mengalir dalam darah dan daging ku, Kak. Aku sangat suka pekerjaan kasar itu. Hehehe,” jawab Liana.


“Kau pasti kemari mau menemui tuan besar kan? Beliau ada di kamarnya. Sepertinya, kesehatannya sedang tidak baik akhir-akhir ini,” ucap Ella.

__ADS_1


“Baiklah. Aku akan ke atas dulu. Nanti kita berbincang lagi, oke?” seru Liana.


“Oke!” sahut Ella, sambil membuat huruf O dengan telunjuk dan ibu jarinya.


Keduanya pun berpisah dan Liana menaiki anak tangga spiral yang mewah itu sendirian. Setiap dia hendak menuju kamar Kakek Joseph, rasa penasarannya begitu tinggi, akan kamar yang berada tepat di sampingnya, kamar paling ujung sebelah kanan, yang pernah diceritakan oleh Ella, bahwa tidak ada yang pernah tau apa isi di dalamnya.


Namun, dia segera menghentikan rasa penasarannya itu, dan beralih kembali ke pintu kamar kakek tua Joseph.


Liana nampak menarik nafas dan menghembuskan nya sekaligus, sebelum tangannya terulur meraih gagang pintu.


Beberapa kali ketukan terdengar, dan Liana pun segera masuk meski belum ada sahutan dari dalam.


Dia menyembulkan kepalanya, untuk melihat apakah si pemilik ruangan sedang bisa diganggu atau tidak. Namun, Liana terkejut bukan main, saat menemukan bahwa Kakek Joseph tengah tergeletak di atas tempat tidur, dengan posisi badan menyamping dan kepala yang hampir menyentuh lantai.


Liana segera masuk dan mencoba menyadarkan Kakek Joseph.


“Kakek! Kakek! Bangun, Kek! Tolong! Tolong!” teriak Liana.


Saat dia semakin panik, matanya menangkap sebuah benda seperti remote yang biasa digunakan Kakek Joseph untuk memanggil Debora, tergeletak di atas lantai tak jauh darinya.


Dia pun mengambilnya dan segera menekan tombol berwarna merah beberapa kali.


“Cepat panggil bantuan! Kita harus bawa kakek ke rumah sakit sekarang!” pekik Liana.


“Baik!” sahut Debora.


Tak perlu waktu lama, sebuah helikopter terdengar telah mendarat di halaman belakang mansion dream hill.


Para petugas medis terlihat memberikan pertolongan pertama pada kakek, sebelum mereka mengevakuasinya, dan membawa pria malang itu menuju rumah sakit terdekat.


Liana pun ikut menumpang helikopter dan menemani Kakek Joseph, meninggalkan kepanikan dan kekhawatiran di dalam mansion dream hill.


Joseph adalah tuan yang sangat baik kepada semua orang yang bekerja padanya, terlebih yang bekerja di mansion keluarga Wang. Sehingga, saat kakek tua itu dalam kondisi buruk seperti saat ini, mereka semua sedih bak melihat orang tua sendiri yang tengah mengalaminya.


Helikopter mendarat tepat di atas helipad yang berada di atap rumah sakit pusat pemerintah kota.


Di sana telah menunggu tim medis, lengkap dengan ranjang serta peralatan medis penunjang lainnya, untuk menyambut kedatangan Kakek Joseph.


Setelah memindahkan kakek tua itu ke atas brangkar dorong, mereka segera membawanya menuju ke UGD untuk penanganan gawat darurat.


Liana terus berlari mengikuti kecepatan tim medis yang seterang berlari, sambil mendorong ranjang pasien itu.

__ADS_1


“Tolong Anda tunggu di luar. Biarkan tim medis untuk menanganinya terlebih dulu” seru salah satu perawat.


“Tolong lakukan apapun untuk menyelamatkannya, Sus,” seru Liana dalam kepanikan.


“Baik. Kami akan lakukan semaksimal mungkin,” sahut perawat itu.


Pintu pun ditutup, dan Liana terpaksa menunggu di depan dengan cemas.


Tak berselang lama, dalam kepanikannya, nampak Jimmy datang menghampiri gadis itu yang sedari tadi berjalan mondar mandir di depan ruang UGD.


“Apa Tuan masih di dalam?” tanya pria itu seketika, saat menghampiri Liana.


Gadis itu menoleh dan segera berjalan ke arah Jimmy.


“Paman. Syukurlah kau sudah di sini. Kakek masih di dalam. Tim medis sedang merawatnya,” jawab Liana yang nampak sedikit tenang dengan kehadiran Jimmy di sana.


“Bagaimana ini bisa terjadi?” tanya Jimmy yang menuntun Liana untuk duduk di kursi tunggu.


Liana pun menceritakan kejadian yang dia ketahui, saat menemukan Kakek Joseph pertama kali.


“Sepertinya, Kakek hendak meraih remote ajaibnya untuk memanggil Nyonya Debora, tapi tak sampai. Akhirnya malah dia jatuh, dan remote nya yang sempat diraih pun ikut jatuh ke bawah,” ungkap Liana.


“Apa kepalanya terbentur?” tanya Jimmy cemas.


“Tidak, Paman. Hanya satu tangannya yang terkulai sampai ke lantai. Kepalanya hanya hampir menyentuh lantai tapi tak sampai,” jawab Liana.


Saat mereka berdua sedang berbincang, seorang dokter terlihat keluar dari dalam sana. Keduanya pun bangkit dan menghampiri dokter tersebut.


“Bagaimana kondisinya, Dok?” tanya Jimmy langsung.


“Sepertinya, kita harus segera melakukan tindakan darurat,” sahut dokter itu.


.


.


.


.


Ada yang tahu cara guyur kopi ke novel ini nggak yah? kalo ada, coba dong kasih lihat guyuran kopinya🤭 (malak alus😁)

__ADS_1


__ADS_2